Jovian & Maura

Jovian & Maura
Hampir Saja



Ting...


Pintu lift terbuka semuanya keluar dari dalam benda kotak itu, Jovian yang berada paling depan menuntun mereka semua ke arah unit yang di huni oleh gadis itu dan Bi Yati.


Ting nong...(suara bel pintu).


Cllekk...


Pintu terbuka dan bi Yati menjadi kaget melihat ada banyak orang di depan pintu, lamunan bi Yati buyar kalah Jovian berkata.


"Bi bisa kami masuk?" tanya Jovian.


"Bisa pak Jo, mari silahkan" ucap Bi Yati mempersilahkan mereka semua masuk.


Reza dan Nicko melihat-lihat suasana apartemen yang terlihat biasa saja, tapi sangat bersih dan rapi bi Yati mempersilahkan mereka semua duduk.


"Bi gadis itu baik-baik saja kan" tanya Jovian.


"Iya pak, ada kemajuan sedikit-sedikit. ya biarpun sering menangis sesekali" ucap bi Yati.


"Om, ini bi Yati yang aku minta untuk menemani gadis itu di sini" ucap Jovian.


"Di mana gadis itu, bisa kami melihatnya" tanya Nicko.


"Bisa om, mari ikut saya" ajak Jovian.


Reza dan Nicko beranjak mengikuti Jovian untuk melihat gadis itu, Jo membuka pintu sebuah kamar dengan lebar dan terlihatlah seorang gadis yang sangat memprihatikan kondisinya yang terlihat acak-acakan rambutnya yang tak teratur membuat Nicko dan Reza saling pandang.


"Siapa namanya" tanya Nicko.


"Kita gak tau om, setiap kita tanya dia selalu menggelengkan kepalanya dia hanya menganggap saya ini teman kecilnya" ucap Jovian.


"Mau apa kalian ke sini, pergi kalian sudah membunuh papa sama mama ku hikz" ucap gadis itu melihat Reza dan Nicko.


"Kamu tenang ya mereka bukan orang jahat kok" ucap Jovian menenangkan.


"Kaka, kaka" ucap gadis itu sambil menangis.


Di luar sana Gilang, Brian dan Tio juga Leo dan si kembar mendengar teriakan gadis itu, Tio menjadi penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada gadis itu.


"Bos, saya mau melihat gadis itu sebentar" ucap Tio.


"Iya" ucap Brian.


Tio beranjak dari duduk nya ingin melihat kondisi gadis itu, tapi pada saat ini hendak mendekati pintu kamar suara sang bos membuat langkahnya terhenti.


"Tio" panggil Brian.


"Ada apa bos" tanya Tio.


"Bisa kita balik ke kantor sekarang, setengah jam lagi kita ada meeting" ucap Brian.


"Ooh, iya bos" ucap Tio kembali mendekati sang bos.


"Kau tidak mau melihat gadis itu" tanya Brian.


"Tidak jadi bos, kita langsung ke kantor saja" ucap Tio.


"Baiklah kalau begitu ayo" ucap Brian.


"Kak, nanti tolong bilang ke daddy aku sama Tio balik ke kantor ya ada meeting setengah jam lagi" ucap Brian pada kaka iparnya.


"Iya yan" ucap Gilang.


"Hey, uncle balik ke kantor ya" ucap Brian pada keempat bocah kecil itu.


"Ia ucel, dada ucel dada om Io(iya uncle, dadah uncle dadah om Tio)" ucap keempat bocah kecil itu.


Tio dan Brian keluar dari unit itu, langsung melangkah masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai bawa.


☘☘☘☘


Maura menelpon sang suami karena sedari tadi belum juga pulang membawa si kembar, tapi telpon Maura tidak di angkat oleh Jovian.


"Ini aku nelpon kak Jo, mau nanya kok mereka belum nyampe rumah juga sih, ini kan uda mau dua jam" ucap Maura.


"Mungkin lagi kejebak macet kali" ucap Ambar yang sekarang sudah mulai tenang.


"Mungkin kali ya" ucap Ambar.


"Udah yuk bantuin aku masak lagi, nanti mereka keburu datang lagi" ajak Ambar.


Kedua wanita yang sudah berstatus istri itu pun melangkah kembali ke dapur, Ambar dam Maura memutuskan untuk memasak menyambut kedatangan si kembar juga kedua sahabatnya.


Sedangkan kedua wanita paru bawa sedang mengobrol menikmati angin siang hari di halaman taman belakang.


☘☘☘☘


"Kondisi gadis itu sangat memprihatikan" ucap Reza.


"Iya jadi pria yang bernama Martin itu ingin membawa gadis itu" tanya Nicko.


"Iya om, Martin ingin membawa gadis itu lagi hanya ingin mendapat kan surat wasiat peninggalan kedua orang tua gadis itu" ucap Jovian.


"Tatian ya tata itu(kasian ya kaka itu)" ucap Galah.


"Ia atian anet(iya kasian banget)" ucap Galih juga.


Sedangkan di dalam sana gadis itu tak henti-hentinya menangis, si kembar dan kedua sahabatnya mendengar dari ruang tengah teriakan gadis itu.


Tak lama kemudian dokter Miler datang, rupanya setelah histeris tadi Jovian langsung menelpon dokter yang menangani gadis itu.


"Dok silahkan masuk" ucap Jovian.


"Makasih pak Jo" ucap dokter Miler melangkah masuk ia juga mendengar suara teriakan gadis itu dari dalam kamar.


"Bisa langsung permisi ke dalam pak Jo" ucap dokter Miler.


"Bisa dok, silahkan" ucap Jovian mempersilahkan dokter Miler masuk, di ikuti oleh bi Yati yang biasa menemani.


Dokter Miler masuk ke dalam kamar gadis itu, di ikuti oleh bi Yati dan juga Jovian, sedangkan Gilang, daddy Nicko dan daddy Reza juga keempat bocah kecil itu menunggu di ruang tengah.


☘☘☘☘


Di sisi lain, kedua pasangan yang sedang berada di rumah tua yang tak layak huni itu sedang mengobrol dengan seorang pria yang berjas hitam.


"Saya benar-benar tidak menyangka kalau bapak dan ibu masi hidup" ucap seorang pria berjas hitam itu.


"Alhamdulillah pak, Allah masih menyelamatkan saya dan istri saya dari kecelakaan maut itu" ucap pria itu tersenyum melihat sang istri.


"Kenapa bapak tidak langsung kembali saja pak" tanya pria berjas hitam.


"Belum saatnya pak, kami kan kembali kalau waktunya sudah tepat" ucap pria itu.


"Tapi pak Martin sedang berusaha mendapatkan surat wasiat itu pak" ucap pria berjas hitam.


"Biarkan saja dia menikmati hari-hari nya dulu pak nanti kalau sudah tiba saatnya dia pasti akan menyesal" ucap pria itu.


"Saya salut sama bapak, dan ibu berasal dari keluarga berada tapi mampu bertahan di tempat tinggal yang seperti ini" ucap pria berjas hitam itu.


"Skali-skali merasakan jadi orang susah pak" ucap pria itu sambil tersenyum.


"Bapak bisa aja" ucap pria berjas hitam yang tak lain adalah pak Erwin.


Pak Erwin baru saja menemui keluarganya di sebuah desa di kota bogor, pada saat mobil yang pak Erwin naikin melintasi sebuah pasar tradisional, kedua mata pak Erwin tak sengaja melihat seseorang yang sangat ia kenali sedang menjadi kuli dengan mengangkat barang para pembeli ke mobil.


Karena penasaran pak Erwin pun meminta sang sopir berhenti dan memastikan lebih dekat lagi dan ternyata benar orang itu adalah rekan kerjanya, bertapa kagetnya pak Erwin saat itu antara percaya dan tidak. Dan di sinilah ia sekarang di rumah tua yang tak layak huni.


Next....


***Jangan lupa Like, Komen dan Vote ya guys....


Terimakasih***....