
Hari yang di tunggu-tunggu oleh Martin dan Maya pun akhirnya tiba juga, hari ini pak Erwin selaku pengacara dari pak Faisal akan menyerahkan surat wasiat itu pada gadis itu dan hal itu di lakukan di kediaman rumah besar keluarga pak Faisal.
"Ayo pa, cepat mama udah gak sabar mau ke rumah besar kita" ucap Maya yang sudah berkhayal itu.
"Sabar ma, papa juga harus tampil elegan dong kan bentar lagi mau jadi bos" ucap Martin.
"Gimana penampilan papa, ma?" tanya Martin.
"Udah oke pa, udah cocok jadi bos" ucap Maya.
"Ya sudah ayo kita pergi, pak Erwin sudah menunggu di kediaman Faisal" ucap Martin.
Martin memerintahkan ketiga anak buahnya yang sedang mengurus gadis itu dengan cara di ikat di kaki, tangan dan mulut di lakban dengan rambut yang acak-acakan gadis itu terlihat sangat mengenaskan.
"Bawa dia masuk ke dalam mobil" ucap Martin.
"Siap bos" ucap bos preman.
"Uuummm, uuumm" gadis itu berusaha memberontak tapi percuma karena saat ini kaki, tangan dan mulutnya sedang di bekap.
Hanya air mata yang mengalir dari kedua mata gadis itu, ia duduk di sisi para preman itu sambil melihat keluar jendela mobil.
"Pa apa gak papa kalau pak Erwin liat dia model gitu" tanya Maya melihat gadis itu.
"Gak apa ma, nanti papa bilang dia lagi punya gangguan jiwa kalau pasti pak Erwin ngerti" ucap Martin.
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh Martin memasuki gerbang yang menjulang tinggi itu, Maya melihat tak berkedip.
"Beberapa menit lagi saya akan menjadi nyonya besar di rumah ini" ucap Maya dalam hati bersorak senang.
"Turun bawa dia ke dalam" ucap Martin.
Ketiga preman itu menyeret gadis itu keluar dengan paksa, membuat gadis itu memberontak kembali tapi sia-sia.
Dari balik kaca di lantai dua Faisal menatap marah pada orang-orang yang sudah berbuat kasar pada putrinya.
"Kalian akan membalas semua perbuatan kalian" ucap Faisal salam hati.
Para preman itu membawa gadis itu masuk ke dalam, di ikuti oleh Martin dan Maya hanya pelayan yang menyambut kedatangan mereka karena pak Erwin masi dalam perjalanan.
☘☘☘☘
Di sisi lain Jovian mengajak sang istri untuk pergi ke kediaman pak Faisal, karena Gilang dan Jo sudah bertemu dengan orang tua gadis itu kemarin.
"Sayang kamu sudah siap" tanya Jovian.
"Udah sayang, ayo" ajak Maura.
Jovian dan sang istri masuk ke dalam mobil, Jo sudah menghubungi Gilang kalau Gilang tidak bisa datang karena ada meeting penting jadi Gilang meminta di gantikan oleh adik iparnya ya itu Brian yang saat ini juga sudah dalam perjalanan bersama Tio.
Tak lama kemudian mobil Jovian tiba bersamaan dengan mobil pak Erwin, keduanya sempat berbincang-bincang di luar sebelum masuk ke dalam, hanya tinggal mobil Brian yang belum datang.
"Selamat pagi pak Martin" ucap pak Erwin.
"Pagi pak Erwin" jawab Martin.
Dan bertapa kaget Martin melihat Jovian juga ada di sana, pandangan pak Erwin saat ini terfokus pada gadis yang sedang menunduk dengan kaki di ikat, tangan di ikat dan mulut di lakban dan rambut yang acak-acakan.
Pak Erwin sempat marah melihat itu tapi ia tahan, karena ia tidak mau merusak rencana dari pak Faisal.
"Silahkan duduk pak Jo" ucap pak Erwin pad Jovian dan sang istri.
Jovian dan sang istri juga tak kalah kaget ya melihat gadis itu merasa iba, di luar sana Brian dan Tio juga baru sampai Tio meminta sang bos masuk duluan karena ia sedang mendapat telpon.
"Selamat pagi semua" ucap Brian.
"Pak pak Brian, silahkan duduk pak" ucap pak Erwin.
"Ini kenapa sih, jadi banyak orang gak guna gini yang datang" ucap Martin dalam hati.
"Maaf pak Martin kenapa gadis ini harus di ikat" tanya pak Erwin.
"Begini pak Erwin, dia mengalami gangguan jiwa takutnya akan melukai orang lain karena kemarin dia hampir melukai istri saya" ucap Martin beralasan.
"Ooh, begitu" ucap pak Erwin.
"Saya langsung saja ya mulai menyerahkan surat wasiat itu pada pemilik sah nya" ucap pak Erwin mengambil berkas dari dalam tas nya lalu melihat sejenak dan menaruh di depan gadis itu yang sedang menunduk.
Martin dan Maya terlihat sangat senang, karena sebentar lagi mereka akan memiliki seluruh harta itu.
"Uummm, ummm" ucap gadis iyu yang terus memberontak.
"Sekarang surat wasiat ini sudah sepenuhnya di serahkan pada gadis ini yang penerima sahnya" ucap pak Erwin.
Di luar sana Tio yang baru selesai berbicara di telpon pun masuk, pelayan menuntun Tio ke ruangan di mana saat ini semuanya berada di sana.
Tio melihat semua yang ada di situ tapi satu yang membuat Tio menjadi pesat perhatiannya saat ini, itu adalah seorang gadis dengan tangan terikat, kaki terikat dan mulut di lakban jangan lupakan rambutnya yang acak-acakan.
Tio melihat gadis itu terus tampa berkedip, merasa seseorang datang gadis itu mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Tio dengan rambut yang menutup wajahnya.
Martin yang akan mengambil surat wasiat itu dari hadapan gadis itu, langsung di kaget kan oleh suara dari arah belakang.
"Jangan mimpi kamu bisa memiliki semua itu Martin" ucap Pak Faisal.
Martin yang mengenali suara itu pun sontak berdiri dan melihat ke arah belakang, sambil menggeleng kepala martin menatap Faisal yang sedang berdiri bersama sang istri.
"Faisal, bukannya kamu sudah..." ucapan Martin terhenti oleh pak Faisal.
"Sudah mati maksud kamu Martin?" tanya pak Faisal sambil tersenyum mengejek.
"Saya dan istri saya masi hidup, karena usaha kamu ingin melenyapkan kami tidak berhasil, Allah masi menyelamatkan kami" ucap pak Faisal.
"Laura...." panggil Tio membuat semua yang ada di sana melihat ke arah Tio yang sudah bersimpuh memeluk gadis itu sambil menangis.
"Siap yang melakukan semua ini sama kamu" tanya Tio melepaskan lakban itu dari mulut gadis kecil nya itu.
"Mereka yang sudah menyiksaku" ucap Maura menunjuk Martin, Maya dan para preman itu.
Tio juga melepaskan tali yang mengikat kaki dan tangan Laura, sedangkan Laura yang sedang berada di dekat Tio pun tiba-tiba..
"Kaka, ini beneran kak Tio kan" ucap gadis itu dengan mata berbinar.
"Iya ini kaka" ucap Tio memeluk gadis itu kembali.
Tak lama kemudian polisi datang dan membawa Martin, Maya dan para preman itu dan sekarang Martin dan anak buahnya akan menanggung akibat yang mereka perbuat pada gadis itu.
Next....
***Jangan lupa Like, Komen sama Vote a guys....
Di bab 40 pertemuan yang sangat mengharukan untuk Tio dan Laura dan Laura juga kedua orang tuanya***.