
Tak terasa sudah 2 minggu Jovian dan Maura menempati rumah baru mereka, saat ini juga sudah ada dua orang art yang bekerja di rumah mereka.
Tapi biarpun sudah ada art Maura tetap bangun pagi dan membuatkan sarapan untuk sang suami, dengan di bantu para art.
"Bi tolong ambilkan kecap ya di lemari" ucap Maura.
"Ini bu" ucap bibi.
"Makasih ya bi" ucap Maura.
"Iya bu" jawab bibi.
"Bi tolong nanti di tata di meja ya sarapannya, saya mau liat suami saya dulu" ucap Maura.
"Siap bu" ucap bibi.
Maura pergi ke kamar untuk melihat sang suami, apa kah sudah siap-siap atau belum.
Clekk...
"Sayang kamu belum siap-siap, ini udah telat loh" ucap Maura.
"Kenapa sih istriku pagi-pagi udah ngomel aja" ucap Jovian menggoda sang istri.
"Sayang aku serius ini ngomongnya" ucap Maura.
Bukannya menangapi omongan sang istri, Jo mala berjalan mendekati sang istri lalu memeluknya dengan erat.
"Hari ini aku ke kantor jam 10 sayang)" ucap Jovian.
"Gitu ya, ya udah ayo kita sarapan dulu" ajak Maura.
"Ayo" ucap Jovian.
Pasangan suami, istri itu turun ke lantai bawa dan pergi ke meja makan. Di sana menu sarapan sudah di tata oleh bibi.
"Silahkan bu, pa" ucap bibi setelah melihat sang majikan datang.
"Makasih ya bi" ucap Maura.
Maura mulai melayani sarapan sang suami seperti biasanya, lalu untuk dirinya.
☘☘☘☘
Di kediaman si kembar sedang berbincang dengan kedua sahabatnya yang baru saja datang.
"Ita ain te uma oty ura yo, tan etat ita isa alan aki(kita main ke rumah aunty Maura yuk, kan dekat kita bisa jalan kaki)" ucap Galah.
"Ia enal uga, ita te ana yo(iya benar juga, kita ke sana yuk)" ucap Galih lagi.
"Api ita lus ilan ante ulu(tapi kita harus bilang tante dulu)" ucap Iqbal.
"Yo ita inta idin ama ami(ayo kita minta izin sama mami)" ajak Galih.
Keempat bocah kecil itu pun mencari keberadaan mami ambar di seluruh ruangan rumah besar itu.
"Mi, ami(mi, mami)" panggil si kembar.
"Ada apa sayang" tanya Ambar dari keluar dari kamar.
"Mi ita ain te uma oty ura ya, tan etat ita alan ati aja(mi kita main ke rumah aunty Maura ya, kan dekat kita jalan kaki aja)" ucap Galah.
"Boleh tapi minta di anterin pak satpam ya ke rumah aunty" ucap Ambar.
"Ia mi, yo ita eldi talan (iya mi, ayo kita pergi sekarang)" ajak Galih yang mendapat anggukan kepala dari ketiga bocah kecil itu.
Setelah berpamitan pada mami Ambar, keempat bocah kecil itu pun berjalan keluar sampai ke pos satpam tapi mereka tidak menemukan pak satpam di sana.
"Pa apam, pa apam(pak satpam, pak satpam)" panggil Keempat bocah kecil itu tapi tak mendapat sahutan.
"Pa apam emana ya to ga ada(pak satpam ke mana yah kok gak ada)" ucap Galah.
"Ia ga ada(iya gak ada)" ucap Iqbal, Galih dan Kifli juga.
"Yo(ayo)" ucap ketiga sohibnya.
Keempat bocah kecil itu keluar dari gerbang kecil khusus untuk orang saja, bukan pintu gerbang yang besar.
"Utup agi intu elban ya Alah(tutup lagi pintu gerbang nya Galah)" ucap Galih.
"Uda" ucap Galah.
Keempat bocah kecil itu berjalan di atas trotoar, mengikuti jalan besar menuju ke rumah aunty Maura, sesekali mereka mengobrol sepanjang jalan.
"Asi au ya uma oty ura(masih jauh ya rumah aunty Maura)" tanya Iqbal.
"Da ekat to(udah dekat kok)" ucap Galih.
Keempat bocah kecil itu terus berjalan menyusuri pinggiran trotoar, sesekali keempat bocah kecil itu melihat kendaraan yang berlalu lalang di jalan besar.
☘☘☘☘
"Bos kita sudah tau kediaman rumah bocah kembar itu, ternyata mereka adalah cucu dari pengusaha yang bernama Reza Hadinata dan pria yang berjas waktu itu yang mengaku sebagai pemilik apartemen adalah putra dari Reza Hadinata" ucap salah satu preman.
"Apa kalian gak salah kan" tanya Martin kaget.
"Tidak bos, dan lebih parahnya lagi ternyata Reza Hadinata besanan sama pengusaha Nicko Wijaya" ucap preman itu lagi.
"Apa, jadi kedua bocah kembar itu adalah cucu dari Tuan Nicko Wijaya yang berarti cicit dari Tuan Erlangga Wijaya" ucap Martin tak percaya.
"Benar bos" ucap preman.
Martin terlihat sedang memikirkan sesuatu, entah apa yang pria itu pikirkan.
"Ternyata yang melindungi gadis itu bukan orang sembarangan, tapi aku gak boleh nyerah" ucap Martin dalam hati.
"Bos" panggi preman karena melihat bos nya hanya diam saja.
"Kalian tetap culik kedua bocah kembar itu dan para sahabat nya, karena hanya itu yang bisa membuat mereka nanti menyerahkan gadis itu setelah para bocah itu berada di tangan kita" ucap Martin.
"Bos yakin, mereka bukan orang sembarangan loh bos" ucap preman.
"Kenapa kalian takut" tanya Martin.
"Tidak bos" ucap preman itu.
"Kalau begitu lalukan perintahku culik bocah-bocah kecil itu" ucap Martin.
"Baik bos" ucap preman.
"Ayo kita pergi dan cari cara agar bisa menculik si kembar dan sahabatnya" ajak preman pada kedua temannya.
"Pa, papa nyuruh merek nyulik siapa" tanya Maya yang baru saja datang mendekati sang suami.
"Nanti papa cerita sama mama, tapi gak sekarang" ucap Martin.
"Ih, papa mulai nyimpan rahasia yah sama mama" ucap Maya.
"Bukan gitu sayang, sini deh duduk dekat papa" ajak Martin.
Maya duduk di dekat sang suami, lalu Martin mulai menceritakan semua nya, Maya sampai di buat tak sanggup bertanya dengan apa yang di katakan oleh suaminya itu.
"Papa yakin mau berurusan dengan orang-orang besar itu" tanya Maya menatap sang suami dengan serius.
"Yakin lah sayang, papa akan lakuin apapun untuk kita" ucap Martin melihat sang istri sambil tersenyum.
Maya hanya tersenyum tapi dalam hatinya ia merasakan takut, karena kali ini suaminya berurusan bukan dengan orang biasa.
Next....
***Jangan Lupa Like, Komen sama Vote ya guys...
Thanks***...