
"Kak kayaknya istri loh perlu di bawa ke dokter deh" ucap Brian berbisik pada Jovian yang duduk di dekatnya.
"Kenapa harus ke dokter?" tanya Jovian heran.
"Siapa tau aja kak Maura lagi ngidam" ucap Brian, membuat Jovian mengernyit keningnya heran.
"Kenapa loh mikirnya gitu" tanya Jovian lagi.
"Soalnya kak Maura sama kaya kak Ambar dulu waktu hamil si kembar" ucap Brian.
"Emang gitu ya" tanya Jo lagi.
"Priksa aja dulu" ucap Brian.
"Kalian lagi bisik-bisik apa sih, apa jangan-jangan kalian ngomongin cewek ya" tanya Maura menatap sang suami dan adik sepupunya dengan curiga.
"Gak kok sayang" ucap Jovian dengan cepat membujuk sang istri.
"Sayang kita pulang aja yuk, aku gak betah di sini" ucap Maura.
"Kenapa kok cepat banget, bukannya tadi pengen banget mampir?" tanya Jovian.
"Sekarang udah pengen pulang aja, ayo" ajak Maura.
"Ya sudah, Yan, Yo, Daf kita pamit pulang dulu ya" ucap Jovian.
"Iya kak, hati-hati" ucap ketiga pria itu bersamaan.
"Kak ingat apa kata gue barusan" ucap Brian, yang mendapat kode tangan dari Jovian.
Jovian dan Maura keluar dari ruangan Brian, dan Kevin menyapa mereka dengan hormat, setelah itu pasangan suami dan istri itu masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai bawa.
Maura mengandeng lengan sang suami dengan erat, membuat Jovian melihat sang istri dengan mungkin apa yang di katakan oleh Brian ada benarnya juga.
"Sayang besok kamu gak usah ke kator ya" ucap Maura.
"Memangnya kenapa sayang" tanya Jovian.
"Aku mau kamu selalu di rumah nemanin aku, aku gak mau di tinggal sendiri di rumah" ucap Maura.
"Terus kerjaan aku gimana dong" tanya Jovian.
"Ya di kerjakan dari rumah aja, kan bisa" ucap Maura.
"Iya sayang" ucap Jo mengiyakan apa kata sang istri, dari pada menolak nanti bisa berabe kalau nangis di lobby kantor Wijaya Group yang banyak karyawan yang berlalu, lalang.
Jovian membukakan pintu untuk sang istri, lalu Jo masuk dan duduk di kursi kemudi, mobil pun keluar dari area kantor Wijaya.
Maura terlihat menempel terus pada sang suami, seperti saat ini Jo yang sedang menyetir satu lengannya di peluk erat oleh sang istri.
Tak lama kemudian mobil pun memasuki gerbang rumah mereka, Jovian mengajak sang istri turun lalu keduanya masuk ke dalam, saat ini jam sudah menunjukan pukul setengah sagu siang.
"Sayang temanin aku makan ya" ucap Jo karena ia belum makan siang.
"Iya sayang ayo" ucap Maura mengajak sang suami ke ruang makan.
Bibi menyiapkan menu di atas meja, Maura yang mencium bau yang tak sedap pun langsung berlari ke arah kamar mandi yang ada di sebelah dapur, membuat Jo panik dan langsung menyusul sang istri.
Oouuukkk... Oouuukkk....
Maura mual-mual, membuat Jo memijit pundak sang istri dengan lembut.
"Sayang kamu kenapa" tanya Jo dengan kuatir.
"Gak tau juga, aku mual nyium bau ikan bakar aku gak suka bau nya" ucap Maura setelah mual nya udahan.
"Mungkin apa yang di katakan Brian benar, karena Maura sebelumnya gak kaya gini" ucap Jovian dalam hati.
"Udah gak mual lagi kan?" tanya Jo melihat sang istri.
"Udah gak, mau aku ambilin menu apa sayang" tanya Maura.
"Nasi, ayam sama sayur buncis aja sayang" ucap Jovian.
"Ini sayang" ucap Maura.
"Makasih ya sayang" ucap Jovian.
Muara melihat sang suami yang sedang menyantap makan siangnya, Maura tidak ikut makan karena ia masi kenyang habis makan bubur dua mangkuk tadi.
☘☘☘☘
Papi Joshua sedang mengobrol bersama sang istri di ruangan kerjanya, rupanya papi Joshua meminta sang istri untuk datang ke kantor siang ini.
"Papi serius, Jo bilang gitu?" tanya mami Ranti dengan serius melihat sang suami.
"Iya mi, Jo sendiri bilang gitu" ucap papi Joshua.
"Berarti kita akan segera punya cucu pi kalau menantu kita lagi ngidam" ucap mami Ranti dengan antusias.
"Tapi kita harus periksa dulu mi" ucap papi Joshua.
"Iya pi, mami gak sabar deh pengen cepat-cepat ke rumah Jo" ucap mami Ranti.
Sedangkan papi Joshua hanya menggeleng kepala melihat tingkah heboh sang istri, baru tanda-tanda aja udah heboh gitu, apa lagi kalau benar Maura hamil.
Papi Joshua kembali melanjutkan pekerjaannya, karena sang istri sudah menunggu sore nanti pulang mereka akan mampir ke rumah sang putra dan menantu mereka.
☘☘☘☘
Dev baru saja pulang sekolah, Dev tak mendapatkan keempat bocah kecil itu berkeliaran di dalam rumah, biasanya kalau Dev baru tiba suara lengkingan para bocah itu sudah masuk ke dalam telinganya.
Dev masuk memberikan salam, tapi tak ada jawaban pertanda kalau penghuni rumah sedang tidak mendengar.
Dev naik ke lantai dua di mana kamar mereka berada, tapi sebelum masuk ke dalam kamarnya, Dev melihat pintu kamar si kembar sedikit terbuka.
Membuat Dev mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamarnya.
"Uts iam anan litit, anti ada yan egal(syutt diam jangan berisik nanti ada yang dengar)" ucap Galih memberi kode pada ketiga sohibnya.
Dev samar-samar mendengar suara bisikan para bocah kecil itu, dengan pelan Dev mendorong pintu kamar mereka dengan pelan dan....
"Kalian lagi ngapain?" tanya Dev membuka pintu dengan lebar.
"Uts, iam atat ita agi atan es tim anti di egal ami agi(syutt, diam akak kita lagi makan es krim nanti di dengar mami lagi)" ucap Galah dengan pelan.
Dev melihat keempat bocah kecil itu yang belepotan dengan coklat es krim di bibir mungil mereka, Galih terlihat paling cemong karena hampir semua coklat belepotan di bibir bocah kecil itu.
"Kalian nyuri eskrim ya" tanya Dev duduk di sisi ranjang si kembar.
"Ga tat ita ga uli, uli tu tan osa, ga ole di alan ama Alloh(gak kak kita gak nyuri, nyuri itu kan dosa, gak boleh di larang sama Allah)" ucap Galah, dengan mulut belepotan coklat es krim.
"Terus ngapain dong sembunyi-sembunyi dari mami kalian" tanya Dev.
"Oal ya ita da atan et tim ayat tat(soalnya kita udah makan es krim banyak banget kak)" ucap Galah.
"Alesan kalian ini" ucap Dev.
"Enal tat, ia tan ais(benar kak iya kan guys)" ucap Galih yang mendapat anggukan kepala dari ketiga sohibnya.
Next...
Jangan lupa Like, Komen sama Vote ya guys...