
Tinggal beberapa meter lagi keempat bocah kecil itu akan sampai di depan pintu gerbang rumah baru aunty Maura, tapi dari kejauhan terlihat mobil ketiga preman itu akan melintas.
"Bos tunggu bos bukannya itu keempat bocah kecil itu" ucap anak buah preman itu.
"Benar juga itu mereka, kita gak susah-susah lagi memikirkan bagaimana membawa mereka" ucap bos preman.
"Ayo turun kita jalankan perintah bos" ucap bos preman yang mendapat anggukan kepala dari ke dua rekannya.
Mobil di tepi kan di pinggir jalan, lalu ketiga preman itu keluar dan mendekati ke empat bocah kecil itu.
"Hay kalian mau ke mana" tanya salah satu preman.
Keempat bocah kecil itu berhenti dan melihat ketiga preman yang ada di depan mereka, lalu para bocil itu saling pandang.
"Kok diam, kalian mau ke mana?" tanya preman itu lagi.
"Ita au te uma oty om(kita mau ke rumah aunty om)" jawab Galah.
"Gak usah mending ikut kita, jalan-jalan" ajak preman itu.
"Au alan-alan emana om(mau jalan-jalan ke mana om)" tanya Galih.
"Yah kemana aja kalian suka" ucap preman itu.
"Ga de om, ita au te uma oty aja, ia tan ais(gak deh om, kita mau ke rumah aunty aja, iya kan guys)" ucap Galih yang mendapat anggukan dari ketiga sohibnya.
Pada saat keempat bocah kecil itu akan kembali melangkah, salah satu dari mereka ya itu Iqbal di tahan oleh preman yang satu, membuat Galah, Galih dan Kifli menjadi was-was.
"Om epasin atu om(om lepasin aku om)" ucap Iqbal berusaha memberontak tapi sia-sia karena tubuhnya yang kecil.
"Kalau kalian gak ikut kita, maka teman kalian ini akan kita bawa" ucap bos preman, membuat ketiga bocah kecil itu saling tatap.
"Om epas om(om lepas om)" ucap Iqbal.
"Diam, jangan banyak gerak" ucap anak buah preman.
Iqbal di bawa oleh salah satu preman masuk ke dalam mobil, sedangkan Galah, Galih dan Iqbal melihat teman mereka yang di bawa masuk ke mobil dengan kasian.
"Alian alih aja, atu ga apa to epat alian alih(kalian lari aja, aku gak papa kok cepat kalian lari)" ucap Iqbal dari dalam mobil melihat ketiga sohibnya dari jendela mobil.
Karena tak tega melihat sang sahabat di bawa paksa ketiga bocah kecil itu pun terpaksa ikut dengan para preman itu, mereka di minta masuk ke kursi belakang dengan satu preman yang duduk dengan mereka.
"Ayo jalan" perintah bos preman.
Mobil itu pun membawa keempat bocah kecil itu.
"Om ita au di awa te ana om(om kita mau di bawa ke mana om)" tanya Galih.
"Diam jangan banyak tanya" ucap si preman.
"Aya ya atu elna iat om tu deh(kaya nya aku pernah liat om itu deh)" ucap Galah.
"Di ana(di mana)" tanya Kifli.
"Atu uga da up(aku juga udah lupa)" ucap Galah.
"Om ita au di awa te ana ci, ato agan-agan om au tulit ita ya(om kita mau di bawa ke mana sih, atau jangan-jangan om mau culik kita ya)" tanya Galih.
"Iya kami akan menculik kalian" ucap bos preman, membuat keempat bocah kecil itu saling pandang.
"Ais ita au di tulit elti di upin ipin(guys kita mau di culik seperti di upin ipin)" ucap Galih.
Membuat ketiga preman itu saling pandang, para preman kira bocil-bocil itu akan ketakutan, tapi ternyata tidak malahan mengangkat sekarang yang terjadi pada mereka adalah lelucuan.
"Wa eluh ni(wah seru nih)" ucap Galah.
Mobil yang membawa keempat bocah kecil itu membela jalan raya, saat ini tujuan para preman ke rumah Martin.
Kediaman Maura...
Maura mendengar ponsel miliknya berbunyi di atas meja nakas, dengan cepat Maura merai ponsel itu dan melihat si penelpon.
"Ambar, tumben nelpon ada apa ya" ucap Maura seorang diri lalu langsung menggeser tombol hijau.
"Hallo Mbar, ada apa" tanya Maura setelah sambungan telpon terhubung.
"Hay Ra, si kembar dan kedua sahabatnya udah sampai belum, tadi pamit mau main ke rumah kamu" tanya Ambar dari seberang telpon.
"Si kembar, gak ada kok kalau udah ada pasti suara mereka ribut" ucap Maura.
"Gak ada, tapi mereka" ucapan Ambar terhenti berjalan keluar ke pos satpam dengan telpon yang masi terhubung.
Ambar berlari kecil karena rumah ke pos satpam sedikit jauh, Ambar melihat pak satpam sedang duduk di dalam pos.
"Pak, sudah balik habis nganter si kembar dan teman-teman nya" tanya Ambar.
"Gak bu, saya baru saja selesai dari toilet saya gak liat Den kembar dan teman-temannya" ucap pak satpam.
"Astaga jangan-jangan mereka pergi sendiri Ra" ucap Ambar kembali berbicara di telpon.
"Ya ampun, kok bisa gitu sih bahaya loh Mbar mereka jalan sendiri" ucap Maura.
"Biar aku susul sama pak sopir ya, udah dulu ya" ucap Ambar langsung mematikan telponnya setelah pamit pada Maura.
Ambar dan pak sopir pergi menyusul para bocil mengunakan mobil, tapi sepanjang perjalanan tidak menemukan si kembar dan kedua sahabatnya, membuat Ambar menjadi panik bukan main.
"Pak kita ke rumah Maura ya" ucap Ambar pada pak sopir.
"Baik bu" ucap pak sopir.
"Ya Allah di mana kalian nak, mami kuatir terjadi apa-apa sama kalian" ucap Ambar yang tak dapat membendung air matanya.
Pik.. Pik...
Ambar turun dari mobil stelah tiba di kediaman Maura, dengan cepat Ambar langsung masuk dan mencari keberadaan sepupunya itu sambil menangis.
"Ra, Maura" panggil Ambar.
"Hey kenapa nangis, ada apa" tanya Maura memeluk Ambar.
"Kembar dan kedua temannya gak ada Ra, aku sama pak sopir udah cari mereka sepanjang jalan tapi mereka gak ada Ra" ucap Ambar sambil menangis.
"Udah sekarang kamu tenang dulu ya, biar kita telpon kak Gilang dulu ya" ucap Maura yang mendapat anggukan dari Ambar.
Karena melihat kondisi Ambar yang sedang panik, Maura menghubungi Gilang melalui ponsel miliknya untuk memberitahu kalau si kembar dan kedua sahabatnya hilang.
"Hallo kak" ucap Maura.
"Iya ada apa Ra" tanya Gilang dari seberang telpon.
"Kak, kembar dan sahabatnya hilang dan sekarang Ambar lagi di rumah ku" ucap Maura.
"Apa hilang, bagaimana bisa" tanya Gilang dengan panik juga.
"Si kembar dan sahabatnya mau ke rumah aku, tapi sampai sekarang gak sampai-sampai, setelah di susul oleh Ambar mereka gak ada di sepanjang jalan" ucap Maura.
"Oke aku pulang sekarang" ucap Gilang dan langsing mematikan telponnya.
Ambar dan Maura menunggu kedatangan Gilang, Maura juga sudah mengirim pesan pada sang suami dan Jo juga dalam perjalanan pulang.
Next...
Jangan lupa Like, komen sama Vote ya guys...