I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 98



Mobil tahanan sudah siap di halaman parkir belakang. Juleha pun sudah mengenakan jaket orange, menandakan statusnya sudah jadi tersangka. Seorang Polwan menggiring Juleha masuk ke mobil tahanan. Jalannya tertatih-tatih dan memasuki mobil tahanan yang langsung dikunci dari luar. Hari ini Juleha menghadapi tuntutan hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di masa lalu yang berhasil diungkap oleh duo dedektif handal.


Di persidangan juga hadir perwakilan dari Kedutaan Besar Inggris yang diwakili oleh Konsul Jenderal di kota S, karena status korban adalah Warga Negara Inggris. Secara tidak langsung, perbuatan Juleha dapat memicu perang, bila kasus yang menimpa Palupi tidak ditangani dengan penuh kehati-hatian agar tidak terekspos ke media massa.


Ulah bodoh Juleha yang bukan siapa-siapa menyelamatkan dirinya dari kecurigaan adanya unsur politik dan gangguan hubungan diplomatik kedua negara.


Kehadiran Anne dan Palupi dikawal dua pengacara yang memiliki kwalifikasi sebagai ahli hukum di bidang pidana internasional. Seharusnya Juleha diadili dan disidang di pengadilan negara Inggris. Namun karena Juleha setelah melakukan penculikan terhadap Palupi, dia melarikan diri kembali ke negara asalnya; maka bersangkutan diadili di Indonesia, mengunakan hukum dan undang-undang yang berlaku di Indonesia.


Persidangan hari pertama berjalan lancar. Sidang dipimpin oleh tiga orang hakim yang salah satunya adalah hakim ketua, seorang panitera dan jaksa penuntut umum. Hakim Ketua mengetukkan palu sambil mengucapkan, "Sidang dibuka dan terbuka untuk umum." Badan Juleha gemetar saat dirinya ditanya tentang jati dirinya, oleh hakim.


Keringat dingin merembes dari balik bajunya. Dengan terbata-bata, Juleha menyampaikan permohonan, "Pak Hakim yang mulia. Maafkan saya. Saya memang salah. Saya berdosa sudah memisahkan nona Palupi dengan orang tua kandungnya. Saya ikhlas di penjara. Di hukum matipun saya siap." Tangisnya tersedu-sedu. Hakim Ketua berkali-kali mengetukkan palu agar Juleha diam.


Riris hanya bisa menangis di pelukan Bambang melihat ibunya yang dulu tegar, kini turun dari kursi dan bersimpuh di lantai. Semua orang yang menyaksikan sidang terkesima dengan pengakuan Juleha.


Tiba-tiba tubuh Juleha mengejang dan pingsan. Hakim Ketua segera mengetukkan palu dan berucap. "Sidang ditutup." Tak lama kemudian sebuah mobil ambulance masuk ke halaman pengadilan. Dengan sigap tenaga medik mengangkat Juleha yang pingsan dan membawanya ke rumah sakit dikawal polisi wanita.


Dokter Anita yang sedang memeriksa pasien segera menyelesaikan tugasnya dan berlari ke Instalasi Gawat Darurat untuk memeriksa kondisi Juleha. Rona sendu terbersit di wajah Anita. Status pasien comma. Anita segera menghubungi ruang Intensive Care Unit untuk menerima pasien atas nama Julehartini.


Karena persidangan dilaksanakan di kota S, Palupi dan Anne kembali ke apartemen milik Palupi yang sudah siap dihuni. Wajah Palupi nampak lesu, batinnya gelisah setelah menyaksikan kondisi Juleha di ruang sidang. Juleha, adalah ibu yang merawat dan membesarkannya. Sikap tegas Juleha dalam mendidiknya memacu semangat Palupi untuk giat belajar dan membuktikan bahwa dirinya layak menerima pujian dan dapat mandiri tanpa harus mengikut jejak Juleha. Sayangnya, di puncak usia remajanya dirinya dijual kepada orang asing karena Juleha memerlukan biaya untuk berobat. Kenyataan yang menyakitkan dan membuat hatinya gundah. Dalam puncak kecewanya dia berteriak kepada Riris di ruang tahanan Juleha, "I'm not a floozy, you're a whore!" Hatinya kecewa melihat Riris yang justru tidak mampu menjaga martabatnya sebagai perempuan sangat menginginkan Palupi mengikuti jejaknya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Liana sedang bercengkerama dengan Mario keponakan kesayangannya. "Onty, kapan onty barbie diajak ke sini lagi? Iyo pingin ajak onty barbie main pesawat." Rengek Mario yang merindukan Palupi. Liana berbisik di telinga Mario, "mau gak kita ke apartemennya? Tadi onty ditelpon, sekarang onty barbie ada di apartemennya. Kita main ke sana?" Ajak Liana. "Horeee, Iyo mau. Mommy, Iyo mau main ke tempat onty barbie, boleh ya?" Rengeknya.


Sang mommy yang melihat putranya sudah kepincut dan sayang kepada Palupi hanya bisa mengiyakan dengan terpaksa. "Cici, Mario kan harus sekolah," protes Feng Ling. "Mario kan masih di TK, sesekali bolos gak apa-apa. Siapkan saja keperluan untuk menginap semalam." Jawab Liana yang sudah terlanjur menjanjikan bertemu dengan Palupi.


Tuan Handoko terharu melihat putranya yang telah berganti gender menjadi perempuan. Sikap dan perilakunya tak menyimpang dari sikap dan perilaku seorang perempuan. Bahkan Liana jauh lebih lembut dan halus sikapnya dibandingkan dengan adik-adiknya.


Tak seorang pun yang tahu dan mengira bahwa Liana semula seorang laki-laki, kecuali sahabat dekat dan orang tuanya. Bagi tuan Handoko, tak ada seorang pun di muka bumi ini yang berhak menghakimi keputusan Lianto Simon Chow berubah gender dan beralih nama menjadi Liana Chow.


Tuan Handoko dapat menerima keputusan putranya walau tanpa sepengetahuannya sang putra sudah mengajukan permohonan ke pengadilan untuk mendapat pengesahan perubahan statusnya. Permohonannya diajukan saat dia berusia 25 tahun. Artinya dia sudah dewasa penuh dalam mengambil keputusan karena sudah di atas usia 21 tahun, dan tidak memerlukan izin orang tua.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Mobil Bambang mengikuti laju ambulance yang membawa Juleha ke rumah sakit. Sepanjang jalan Riris hanya bisa menangis. Terlebih saat pengakuan ibunya di hadapan hakim membuat batinnya terpukul. Selama ini dia telah dibohongi ibunya, perempuan yang melahirkan dan membesarkannya tega menyembunyikan rahasia besar tentang Palupi. Gadis yang selalu diancam dan dimaki sebagai anak haram ibunya.


Palupi dianggap telah membuat ibunya terbeban karena harus merawat dan membesarkan Palupi, anak hasil hubungan ibunya dengan orang asing. Kini, walau sudah mendengar pengakuan dari ibunya, justru di hadapan hakim terungkap kejahatan ibunya. "Mas, aku malu dan takut sekali kalau Palupi akan menjebloskan aku ke penjara." Tangisnya di sepanjang jalan.


Setelah Juleha dirawat di ruang ICU, Riris dan Bambang menemui dokter Anita. Bambang memperkenalkan diri sebagai suami Riris, dan akan bertanggung jawab atas biaya perawatan ibu mertuanya.


Riris yang masih didera rasa bersalah dan ketakutan, tiba-tiba badannya melemas dan pingsan di ruang periksa dokter Anita. Bambang segera mengangkat badan Riris ke brankar di ruang periksa. Dokter Anita memanggil seorang perawat untuk memasang infus setelah memeriksa Riris. Dokter Anita tersenyum, "isteri anda sedang hamil, Pak!" Ucapnya, yang diiyakan oleh Bambang. "Baik, kita tunggu sebentar sampai dia sadar."


Bambang mulai menyadari bahwa sudah waktunya dia berubah dan berhenti dari kebiasaan buruknya menjadikan gadis-gadis remaja sebagai pemuas nafsunya. Cukup Riris saja yang terakhir karena sudah hamil. Dalam perenungannya, timbul keinginan untuk minta bimbingan ustadz agar dirinya dan keluarganya menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah.


Tomo yang datang tergesa-gesa ke rumah sakit setelah ditelpon Bambang, mendatangi pusat informasi rumah sakit untuk menanyakan tempat Juleha dirawat. Tomo menuju ke ICU dan menelpon Bambang, bahwa dirinya sudah hampir sampai di ruang ICU. "Ya sudah Tom, kamu jaga mertuaku di sana. Ini aku masih mengurusi Riris yang pingsan." Perintahnya kepada Tomo.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


to be continued ๐Ÿ˜‰