I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 42



Mendung masih bergelayut di langit, namun kicau burung tetap meramaikan alam menyambut hari baru.


Palupi mengawali hari baru dengan senyum-senyum sendiri, mimpi yang tidak pernah ia impikan, kini sudah di depan mata. Dia bahkan tidak bosan-bosannya mematut diri sambil beputar-putar di depan kaca.


"Nona Gulizar, semakin hari semakin cantik. Sungguh saya tidak pernah menduga, gadis belia yang tuan John bawa pulang ke rumah ini pada malam itu, kini telah menjelma menjadi seorang putri." Merry menatap Palupi yang tersipu malu menerima pujian tentang dirinya.


"Merry, aku sedang mempersiapkan diri untuk menyambut orang tuaku yang akan datang dalam waktu dekat ini. Sungguh! Ini rasa yang belum pernah aku rasakan dalam hidupku selama ini." Dengan girang Palupi menghampiri dan memeluk erat Merry. Wanita paruh baya itu terharu dengan kebahagiaan yang dirasakan Palupi.


Pelukan mereka merenggang ketika suara ponsel milik Palupi berdering nyaring. Panggilan video call's dari nomor overseas dan siapa lagi kalau bukan John.


Palupi menjauh dari Merry untuk menerima sapaan John lewat ponselnya. "Morning honey, kau cantik dengan memakai dress itu aku suka." John menatap penuh kerinduan pada Palupi.


Rona pipi Palupi berubah seketika. Senyum malu itu merekah menampilkan deretan gigi indahnya,


"Morning too. Eh, salah ya? Sekarang pukul berapa di sana John?" Tanya Palupi setelah tersadar adanya perbedaan waktu. "Di sini tengah malam sayang, ini sedang bersiap untuk tidur, tetapi aku kangen kamu." Cengir John dalam obrolannya.


"Ya sudah, tidur saja. Ngapain nelpon tengah malam. Kamu kan juga butuh istirahat," jawab Palupi dngan cemberut.


"Hmm, kok cemberut? Nanti hilang lho cantiknya." Goda John sambil tertawa. "Gulizar sayang, hmmm, tak rindu pada padaku?"


Palupi kembali tersenyum dan meleletkan lidahnya. Eh, siapa yang merindukan pak tua, ha... ha... ha...," dengan gaya centilnya Palupi ganti meledek John. Tawa keduanya meledak.


John terkesima melihat Palupi yang tertawa lepas tanpa beban.


"Hei nona kecil, berani ya meledekku. Kupastikan kau akan habis saat aku datang ke Indonesia." Sahut John dengan berpura-pura marah. Palupi semakin tertawa geli melihat tampang John yang lucu.


"Peace, Mr. John." Dengan berpura-pura sedih Palupi mengangkat dua jarinya, sambil mengedipkan sebelah matanya. John tersenyum dan hanya bisa garuk-garuk kepalanya melihat Palupi yang sudah membuat hatinya selalu berdebar.


Setelah saling goda, Palupi bertanya dengan tampang serius, "John..., Apakah kau akan kembali ke Indonesia bersama Mommy?" Dengan sedikit ragu ia menanyakan tentang kepastian John.


"No,"


"Why..." Tanya Palupi.


"You miss me little sweetheart, hmm," Palupi merasa terperosok dalam jebakan John dan ini semakin membuat wajah Palupi memerah karena makin malu, terlebih ada seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


Perbincangan yang bersalutkan kerinduan, membawa mereka lupa akan waktu. Sedangkan Liana sudah beberapa puluh menit lalu serasa tidak sabar menunggu dua insan itu mengakhiri video call mereka.


"Isshhh babang Bos cakep, eiyke juga kangen tahu! Ya ampun makin brewok aja, uhhhh jadi pingin cari yang brewokan, aahhh geli, "Ha... ha... ha..." Tawa tanpa beban itu lepas begitu saja dari bibir Liana.


"Hi Liana ada schedule apa hari ini untuk Gulizar? Jangan bikin dia lelah, pergilah ke tempat yang bisa membuat kalian bahagia. Akhir bulan aku akan kembali ke Indonesia."


"Tenang Bossqu, ieyke mo bawa nih my sweety ke pantai. Kami mau hang out berdua, eh bertiga ding. Mau ajak Merry juga. Boleh ya Bosqu?" Rayu Liana.


"Boleh," jawab John. "Tapi ingat! Tidak boleh berenang di pantai pakai bikini, atau kugantung kau nanti di bawah pohon kencur!"


"Hah, pohon kencur?" Liana terbahak-bahak mendengar ancaman John. Merry yang mendengar ancaman John pun ikut ngakak. "Astaga Tuan, sebesar apa pohon kencurnya?" Sambar Merry walau dirinya tak terlihat di layar ponsel Palupi.


Seketika meledaklah tawa mereka mendengar jawaban John. "No, John. Wrong answer. Kencur is galangale in English." Jawab Palupi. Sambil masih tertawa, Liana berkomentar, "Ini Bosqu pasti diajarin istilah-istilah konyol oleh mas Ray."


Untuk menghindar dari rasa malu, John segera menyuruh ketiga perempuan itu mengisi kegiatan weekend mereka.


"Pergilah kalian bila ingin ke pantai, tetapi ingat, kalian masih wajib dikawal oleh kedua bodyguard yang ditunjuk Ray untuk menjaga keselamatan kalian.


"John, selamat tidur ya. Salamku buat Mommy dan Oom Beldiq. Ingat, jangan begadang." Pesan Palupi yang kemudian berbisik, "Sleep well, my man." Dan buru-buru mematikan ponselnya karena malu.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Di tempat berbeda, Riris yang akhirnya setelah bermalam di rumahnya Bambang, dia memilih pulang ke rumah kontrakannya Tomo.


Riris menghempaskan bokongnya ke sofa di ruang tengah, sambil berteriak, "Bi, bikinin aku kopi." Dibukanya tas tangannya, ternyata Riris hanya menemukan uang sebesar dua juta. Padahal Bambang semalam menjanjikan uang sebesar lima juta.


Dengan perasaan kesal, Riris masuk dapur, ternyata tak seorang pun yang dia temui di sana.


Hmmm, pada ke mana nih penghuni di rumah ini? Pantas tak ada yang menyahut waktu aku minta dibikinkan kopi.


Dengan lesu, Riris berjalan ke kamar Tomo, dengan harapan menemukan lelaki itu masih memeluk guling. Ternyata tempat tidur Tomo masih rapi.


"Aarchhh," teriak Riris meluapkan rasa jengkelnya. Dilemparkannya tasnya ke tempat tidur, dan Riris pun menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, hingga akhirnya ketiduran hingga siang.


Harum aroma masakan dari dapur tercium oleh hidung Riris yang perutnya mulai keroncongan minta diisi.


Dengan masih setengah mengantuk, Riris berjalan ke arah dapur untuk melihat siapa yang sedang memasak. "Eh, siapa kamu?" Tanya Riris ketika melihat seorang ibu setengah baya sedang memasak. "Saya, Neng?" Tanya orang itu sambil menunjuk dirinya sendiri. "Iya, Ibu siapa? Bi Iroh ke mana, kok malah orang lain yang masak di sini?" Tanya Riris. "Neng, bi Iroh pulang kampung, ada saudaranya yang meninggal. Ini saya diminta Tuan Tomo untuk bantu-bantu du sini." Jawab perempuan itu.


Tak lama, setelah semua masakan matang dan disusun di meja makan, perempuan itu membereskan dan merapikan peralatan dapurnya kemudian permisi kepada Riris untuk kembali ke rumah penampungan yang terletak di sebelah kanan rumah kontrakan Tomo.


Riris segera membuka piring yang ada di meja makan, dan mengisinya dengan nasi dan lauk yang tersedia.


Baru juga dapat tiga sendok menyuap nasinya, Tomo masuk ke rumahnya dan menemukan Riris yang sedang makan.


"Tumben pulang ke sini." Sapa Tomo melihat Riris yang sedang makan. Setelah mencuci tangannya di wastafel, Tomo segera bergabung dengan Riris di meja makan.


****************


Kawan....! seperti biasa, sambil menunggu up chapter berikutnya baca karya kawan Rhuji yuk kak πŸ€—.


Jangan lupa, like, favorit, dan komentar membangun yah kak.


Tak lupa salam sayang ku selalu buat kalian By: RR 😘😘