I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 65



Persiapan Palupi untuk menepati janji bertemu dengan Liana di butik miliknya, membuat ia sedikit lega, sudah beberapa hari berlalu tanpa ada berita dari Liana. "Liana...kau membuatku was-was saja. Gak merasa ya? Aku merindukanmu! Sudah waktunya kau membawaku ke tempat lain. Oh ya ... Bagaimana kabar keluargamu, apa kau baik-baik saja dengan mereka?"


Sedangkan dari seberang telepon tidak ada satu suara pun menyahuti semua pertanyaan Palupi. "Liana... hei... Liana." Teriak Palupi dengan cemas Palupi memanggil nama Liana yang sejak mengangkat telepon selain kata 'hallo' tidak ada lagi komentar lainnya. "Liana... Are you oke...? Kau jangan membuatku cemas donk," Palupi mengalihkan panggilan menjadi video call. "Liana... Liana...!" Panggil Palupi.


"Dor...., He he he surprise...." Liana menjawab sambil tertawa. Gurat bahagia itu jelas terlihat wajahnya yang berhias senyum bahagia. "Kangen ya?" Goda Liana kepada Palupi yang pura-pura ngambeg dengan mengerucutkan bibirnya. Namun, tak lama senyum terkembang senyum bahagia di bibir tipis Palupi. "Liana jahat deh, sama sekali gak kasih khabar. Gak nelpon, apa lagi chat." Omel Palupi dengan suara manjanya.


Liana yang mendapat protes beruntun tergelak dengan ulah manja Palupi. Bagi Liana, Palupi adalah sosok adik ketemu gede. Adik tempat dia mencurahkan kasih sayang untuk mengusir rindu yang menyayat kalbu saat ingat Feng Ling dan Mei Ling, kedua adik yang ditinggalkan saat dirinya konflik dengan sang ayah.


"Ah, nona cantik merindukanku? Rasanya kok beda ya," sambil senyum tertahan mengamati mimik Palupi yang terlihat malu-malu. Liana terus menggoda Palupi karena Lianalah tempat curhat Palupi saat dia merindukan John. Dengan perginya Liana otomatis Palupi tak punya teman curhat. "Eh, enggak weh. Aku beneran rindu tak punya teman ngobrol. Elak Palupi.


"Siapa gadis cantik itu, Lian? Tiba-tiba Tuan Handoko berdiri di belakang Liana dan ikut nimbrung dalam video call mereka. Palupi melambaikan tangan dan menyapa, "Halo Oom, saya Gulizar, adiknya cici Liana," sambil senyum-senyum. Tuan Handoko ikut senyum dan menganggukkan kepala. "Lanjutkan obrolan kalian, papa mau latihan jalan pakai tongkat, sambil menunggu Mario di depan.


Liana dan Palupi masih betah bercerita tentang manisnya pertemuan Liana dengan papanya. Obrolan diakhiri dengan undangan makan malam untuk Palupi dan keluarganya. Keduanya sepakat akan merundingkan hari dan jamnya kepada keluarganya masing-masing.


Sebuah mobil masuk dan berhenti di halaman rumah. Tak lama turunlah bocah laki-laki dan berlari ke arah Tuan Handoko dan menghambur memeluk kakinya sambil berteriak gembira, "Opa. Tante cantik di mana?" Sang opa tersenyum bahagia sambil menunjuk ke arah dalam rumah. Mario, cucunya walau baru pertama kali bertemu dengan Liana tak ada rasa canggung dan takut kepada Liana. Justru hubungan mereka terjalin seolah-olah sudah saling mengenal akrab padahal baru bertemu kemarin lusa.


Mario, dengan langkah kecilnya masuk ke dalam rumah dan mencari tante kesayangannya. Mario berlari dan langsung naik ke pangkuan Liana yang telah mengakhiri obrolannya dengan Palupi. "Mommy mana, sayang?" Sambil menciumi pipi gembil Mario. "Di depan sama Opa."


Di ruang keluarga, kini mereka berkumpul dan ngobrol yang cukup serius. "Papa, aku sekarang bahagia karena Papa tetap sayang padaku," ujar Liana sambil memeluk sang ayah. "Katakan pada papa, apakah Lian bahagia dengan cara hidupmu sekarang?" Sambil mengelus rambut ikal Liana. "Iya Pa, walau semua orang menghujatku dan dunia mencibirku, aku tak dapat menolak kata hatiku. Maafkan Lian, Pa."


Sambil mengeratkan pelukannya, Liana mengakui kejujuran hatinya dalam mengambil keputusan menjalani kehidupan yang menentang kodratnya. "Ssstt, sudah, sudah. Tak perlu menyalahkan siapa pun. Papa memahami keputusanmu." Feng Ling hanya mampu melihat kejadian itu dan merenungkan dalam hatinya.


Dia teringat di masa kecilnya dulu, tentang bagaimana perilaku kakaknya yang terkadang kemayu dan lembut bagai wanita saat mereka tumbuh bersama sejak ditinggal ibunya. Tak terasa air matanya menetes, terharu melihat ayah dan kakaknya berpelukan mengungkapkan rasa yang selama ini terpendam selama bertahun-tahun. Lamunannya pecah, ketika Mario menghapus air matanya. "Mommy kenapa menangis melihat Opa dan Tante berpelukan?" Pertanyaan polos Mario menyadarkan mereka semua.


Pelukan erat itu terurai, dan semua kembali tertawa melihat ulah Mario. "Mommy tidak menangis sayang. Mommy terharu Tantemu sudah kembali ke pelukan Opa seperti mommy memeluk Mario sambil menciumi putra pertamanya.


Kebahagiaan kini melingkupi hati Tuan Handoko. Anak yang dikasihinya telah kembali. Duka yang dirasakan dulu telah berganti dengan rasa syukur. "Feng, kabari adikmu bahwa kakak kesayangannya telah kembali ke dalam keluarga. Kita akan merayakannya dengan makan bersama. Kita undang teman-teman Lian yang selama ini ada untuknya.


Di sebuah restoran mewah, wajah Tuan Handoko berseri-seri menyambut Palupi dan keluarganya, juga Ray dan Anita. Bagi seorang ayah yang telah memasuki usia lanjut, tak ada lagi yang diinginkannya selain kebahagiaan anak-anaknya. Hatinya kini siap menyusul sang isteri yang telah mendahuluinya.


Denting gelas beradu saat Tuan Handoko mengangkat gelas mengajak semua bersulang sebagai tanda penyambutan tamu yang diundang dalam acara makan malam sekaligus tanda persahabatan bagi semua yang hadir. Mereka semua menikmati makanan mewah yang tersedia sambil berbincang.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Di tempat yang berbeda, Riris bersama Tomo juga di area yang sama. Bedanya Riris hanya nongkrong di lorong mall tidak jauh dari restoran tempat keluarga Liana berkumpul. dia sedang asyik menyusun siasat untuk memulai aksinya. Sedangkan Tomo sebenarnya mulai dilanda kecemasan. Ingin rasanya ia mundur saja dengan rencana konyol Riris yang belum tentu akan membuahkan hasil. Tomo takut rencana Riris dapat berakibat kesialan yang akan ia dapatkan kelak.


"Sayang...., apa tidak sebaiknya kita hidup saja dengan cara sewajarnya, mereka bukan tandingan kita. Mereka mampu membeli orang untuk menghabisi kita kalau mereka mau. mereka juga sudah berbaik hati pada ibumu, mengobati sakit yang ia derita, walaupun kita tidak akan tahu tentang kondisinya setelah ini." Ujar Tomo berusaha menasihati Riris.


Tomo membetulkan letak duduknya dan kembali berusaha menenangkan sikap Riris yang sudah terlanjur liar. "Sayang mungkin aku laki-laki bejad di matamu, tapi aku juga mempunyai keinginan untuk berubah. Bukan hanya sekedar berkamuflase saja."


Tomo melanjutkan nasihatnya, "Tuan Ray itu sepertinya adalah seorang pejabat, dan tentu dia paham tentang hukum dan konsekuensi dalam setiap menyelesaikan permasalahan. Aku bukan takut Riris, tapi lebih kepada pakai logika saja. Kenapa dendammu dan rasa kebencianmu begitu kuat pada adikmu Palupi?"


"Aku benci dia Mas. Kalau Mas tidak setuju ya diam saja. Setidaknya kamu sudah menemaniku sampai di sini." Riris masih juga bertahan dengan sikapnya yang keras kepala.


Pintu masuk restoran itu terbuka dari dalam. Rombongan yang selesai santap malam itu berjalan dengan santai. Palupi bersama Liana, sedangkan Beldiq dengan Anne menuju tempat lain bersama Ray dan Anita.


Tiga keluarga itu berpisah dengan tujuan masing-masing, menuju ke arah yang berbeda.


Pupil Liana sepintas menyaksikan Riris yang sedang asyik meminum sesuatu di tangannya. "Gulizar... Lihat dia...!" Palupi menyipitkan matanya dan berkomentar, "Mbak Riris...? Sedang apa dia?"


"Sudahlah, kita menghindari saja, tidak ada untungnya juga." Tarik tangan Liana dan membawa Palupi menjauh untuk menghindarinya.


Palupi tidak habis pikir dengan sikap Riris yang terkesan masa bodoh dan tidak peduli ibunya masih dirawat di rumah sakit. "Semoga semua peristiwa yang menimpa ibu, bisa memberikan hal positif pada dia."


Tapi semua seperti cerita yang sudah ada sutradaranya, Riris mendongakkan kepalanya dan melihat Palupi tidak jauh dari tempat duduknya dan saling bersirobok mata.


"Mas... Pucuk dicinta ulam pun tiba... Lihat dia Palupi dan wanita abal-abal itu," seloroh Riris berusaha menyembunyikan kebenciannya.


Ia bergegas keluar dan mendekati Palupi yang sudah berjalan menjauh dari mereka berdua. "Palupi, dik... Tunggu sebentar!"


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


TBC ๐Ÿ˜‰


apalagi sih si Riris ๐Ÿคง.


Sambil menunggu up chapter berikutnya, mampir ke karya kawan Rhuji yuk bestie๐Ÿ˜‰, jangan lupa like jempolnya, favorit and then komen membangun ๐Ÿ‘.


Salam Sayang Selalu By; RR