I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 58



Area dewasa, bocil wajib melipir


Dering telepon kantor berbunyi untuk kesekian kalinya. Dengan enggan yg Tomo mengangkat gagang telepon menyapa suara dari seberang. "Hallo PT. Artha Sejahtera selamat sore, dengan officer Tomo bisa kami bantu,"


"Sayang..., ini aku Riris, kenapa ponsel tidak aktif? Kamu di mana Mas? Aku kangen!" Rentetan kata-kata pamungkas Riris yang selalu membuat Tomo klepek klepek.


"Oh...a... aku, sedang sis... sibuk sayang. Iya aku sibuk, he..he..he.." kegugupan Tomo menjawab Riris sudah menandakan bahwa ia salah tingkah dan meleleh dengan rayuan Riris.


Semenjak Bambang pergi ke Saudi Arabia untuk melakukan konseling dengan KBRI di Jeddah tentang adanya peraturan baru tentang penyuplaian tenaga kerja asing, Riris semakin leluasa mencari kesempatan untuk bermanja dan bermesraan dengan lelaki mana pun juga termasuk dengan Tomo salah satunya.


Tomo buru-buru menyelesaikan tugas dan merapikan semua pekerjaannya untuk pengisian dokumen para TKW yang akan ia berangkatkan minggu depan. 'Waah selesai juga akhirnya aku melengkapi berkas dokumen para calon TKW.' Ujar Tomo dalam hati. Dengan berjalan meniru gaya Bambang sang bos di kantornya, Tomo menyambar kunci kontak motornya dan keluar menaiki motor miliknya kemudian melaju ke tempat kontrakannya, karena Riris sudah terlebih dulu menunggunya di sana.


Tidak selang lama mereka pun bertemu, senyum manja Riris menyambut kedatangan Tomo, ia menggelayut manja namun ia juga mengumpulkan racun bisa yang mematikan untuk kelemahan Tomo.


"Mas... Sudah berapa hari kamu kelayapan. Kamu selalu ambil kesempatan gandengan dengan perempuan lain. Kamu anggap apa aku Mas? Apa aku kurang memuaskan dirimu Mas, kurang apa sih aku, hmm...?" Omelan Riris berakhir dengan luma*tan panas Tomo yang dari tadi sudah di bikin klepek-klepek dengan penampilan sexy Riris. Terlebih lagi Tomo tak mengalihkan pandangannya dari tonjolan di balik blousenya yang menantang bak pepaya California yang masih mengkal.


"Sssttt, diam. Kau pikir aku gak kangen dengan lipatan kue apem mu, hmmm?" Sambar Tomo yang merangsek tubuh sintal dalam rengkuhannya. Tomo melu*mat kembali bib*ir tipis Riris. Tangan Tomo mulai bergerilnya ke balik blouse yang sudah tanggal kancingnya, sehingga bebas mere*mas dengan gemas. Keduanya terengah-engah melepaskan tautan bibirnya yang hampir kehabisan napas.


"Maaass," erang Riris saat merasakan tubuhnya mulai tak terkontrol. Riris selalu mendapatkan puncak kenik*matan hanya saat bersama Tomo. Hanya lelaki satu ini yang mampu membawanya terbang melayang menembus awan.


"Tunggu sebentar, mas mau kunci pintu dulu. Masuklah ke kamar." Perintah Tomo kepada Riris. Tomo tak ingin sampai ketahuan gadis calon TKW incarannya yang kadang-kadang datang ke kontrakannya untuk beberes dan memasak bagi Tomo.


Dengan senyum terukir di bibirnya, Tomo masuk ke kamarnya sambil melepaskan baju dan celananya dengan terburu-buru, tinggal box*er yang masih melekat, namun belutnya mulai bangun. Mata Tomo melotot melihat makan sorenya sudah tersaji di atas pembaringannya.


Riris bangkit dari tidurannya dan meraih box*ernya Tomo kemudian menurunkannya. "Aaah, belutmu sudah bangun rupanya sambil membelai dan mengurutnya. "Ouuch, desis Tomo saat belutnya makin mengeras ketika kepalanya dilu*mat Riris. Tangan Tomo pun tak tinggal diam. Diraihnya pepaya yang menggiurkan dan mere*masnya dengan kasar hingga Riris terjengit dan melenguh, "Oohh, maaasss, geli enak."


Tomo menarik kaki Riris dan mulai meraba apem legit kesukaannya. "Aahh, kau sudah basah." Cengir Tomo sambil menjilat jarinya. "Aku sudah basah dari tadi." Sembur Riris dengan sewot. Dengan tak sabaran, Riris mendorong Tomo telentang dan menaikinya. Tangannya menuntun belut milik Tomo memasuki belahan apem hangat sarang kenik*matan yang sudah banjir.


Tomo merem melek saat merasakan belutnya diurut dan menabrak dinding apem yang hangat. Tangannya pun sibuk mere*mas dan memilin pucuk pepaya kecoklatan yang berujung pada desa*han dan teriakan Riris untuk memacu gerakannya lebih cepat, "Aahh, aaahh, Maaass, aku keluaaar." Erang Riris ambruk di dada Tomo.


Dengan sigap Tomo yang ngos-ngosan membalikkan tubuh sintal itu dan mengungkungnya di bawah tanpa melepaskan belutnya dari apem hangat yang jadi sarangnya.


Didekapnya tubuh Tomo dengan kuat, saat Riris mencapai puncak yang ketiga kalinya. Riris mulai lunglai, tetapi belut Tomo makin kuat menabrak dinding yang semakin licin dan menari-nari di sarangnya. Riris tersenyum karena berulang kali mencapai puncak kenik*matan, "Aahh, aaku..., ham..pir sampai," teriak Tomo. "Ayoo Mas, aahh..., semprotkan bisamu di dalam, aah, aah." Balas Riris. Keduanya menge*jang secara bersamaan dengan peluh membasahi tubuh mereka, kemudian tertidur karena kelelahan.


Riris yang terbangun lebih dulu saat merasa lapar. Dia terkejut karena kamar mereka gelap. "Mas Tomo, bangun." Riris menggoyang bahu Tomo agar segera bangun. "Aahh, ganggu aja. Masih ngantuk nih." Balasnya sambil kembali menarik Riris dalam pelukannya. "Aihh, bangun dulu. Sudah gelap iishh. Aku lapar Maass," aku lapar sayaang." Bisik Riris manja di telinga Tomo.


Tomo langsung bangun dan menghidupkan saklar lampu sehingga kamar menjadi terang. "Ayo mandi bareng, terus cari makan. Mas juga lapar, padahal sudah makan kamu." Jawab Tomo sambil nyengir. Mereka akhirnya mandi bareng, dan terulang kembali si belut masuk ke sarangnya di bawah guyuran air shower.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Mereka sekarang serius berbincang tentang rencana Riris untuk mengajak kembali Palupi, "mas... besok Ibu akan pulang dari Singapura. Aku yakin Palupi akan menjenguk ibu ke rumah, dan ini kesempatan emas bagi kita untuk berbuat baik padanya. Lalu aku akan berusaha merayu dia untuk kembali pulang ke rumah kami. Selanjutnya aku akan mengajak dia main ke tempat Oom Bambang. Bila Oom Bambang sudah bosan, aku bisa membawa dia ke tempat Mama Santi dan akan menjadikan bagian dari etalase kaca di wisma gembira ria."


Tomo hanya manggut-manggut mendengar uraian rencana Riris. Sekarang ia mulai paham ke mana arah pembicaraan Riris, "tapi sayang... Itu tidak mudah! Sepertinya Palupi sekarang punya bodyguard deh, seperti pengalamanku kemarin. Mereka memepet motor yang aku tumpangi, apa ini tidak terlalu beresiko? Mengingat tuan Ray sudah memberi kalian seratus juta kan...?"


"Iya... Tapi itu dulu Mas, aahh.. sudahlah Mas ikut rencanaku saja, tapi awas yah dia adikku, kamu jangan embat dia juga." Dengan nada keras Riris memperingati Tomo. "Iya...iya..., enggak," sungut Tomo sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


'Ah...aku harus bisa mendapatkan Palupi kembali, biar aku dapat fifty-fifty dari hasil yang dia dapat. Dari situ aku akan menikmati masa mudaku. Persetan dengan pria yang membeli Palupi dulu, yang penting aku dapat penghasilan dan menikmatinya, aku tidak mau hidup miskin' pikir Riris dalam hati.


Mata Riris menerawang jauh dengan semua mimpinya tentang banyaknya uang yang akan didapat. Otaknya yang bebal akan menunjukkan kebodohannya sendiri, namun... tekad dia sepertinya tidak main-main. Akankah ia berhasil menjebak Palupi? Apa yang terjadi selanjutnya? Mampukah Palupi menghindarinya ๐Ÿ˜.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


TBC ๐Ÿ˜‰


Sambil menunggu up chapter berikutnya, mampir ke karya kawan Rhuji yuk bestie๐Ÿ˜‰, jangan lupa like jempolnya, favorit and then komen membangun ๐Ÿ‘.


Salam Sayang Selalu By; RR