I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 73



Dua rasa antara kerinduan yang akan segera terobati, dengan rasa takut yang menjadikan Palupi was was dengan sikap John, yang mungkin bisa saja akan kembali seperti saat pertama bertemu. Bahkan bayangan berkelebat yang mengerikan, karena rasa sakit yang pernah ia alami sebelumnya. Rasa dalam dada itu bertarung menggerogoti pemikirannya. Walaupun di saat mereka melakukan Video call terkadang John bersikap sangat manis, sekalipun tidak jarang berulah menyebalkan juga.


Palupi dengan malas beranjak dari tempat tidurnya dan mencari benda pipih di atas nakas, lalu mulai menekan tombol kepada seseorang...


"Hallo... Sweetheart sudah siap kan? Satu jam lagi aku sampai di tempat. Kau harus tampil fresh dan cantik tentunya," sudah menjadi kebiasaan seorang Liana kalau menerima telepon bukannya mendengarkan dengan baik dulu, tapi dia lebih asyik nyerocos mendahului lawan bicara. "Liana... Kau di mana?"


"Macet sayang, sabar yah...duhhh tidak sabar lagi ya.... Kan masih nanti malam kedatangan tuan boss, isshhh sabar dikit sayang, ha...ha...ha...."


"Aku takut, Liana,"


"What.....? Apa yang terjadi denganmu baby, katakan! Zaki di mana, bukannya Albert ada juga di sekitarmu?"


"Aduh...Liana..., Aku aman. Aku hanya merasa takut bertemu dengan John, aku berasa aneh," Palupi menghentikan kata-katanya ketika mendengar tawa Liana yang nyaring di seberang sana.


"Oh-hh so sweet baby, santai ya... Relax semua akan baik baik saja, apakah nyonya Anne bersama tuan Beldiq ada di rumah saat ini?"


"Aku belum keluar kamar Liana, aku rasa mereka ada di luar villa, bisa jadi mereka jogging berdua, ahhh entahlah..." Jawab Palupi bermalas-malasan dan mengakhiri panggilan teleponnya.


Lalu ia membuka lemari dan mencari mana pakaian yang pantas yang akan ia kenakan nanti, bukannya memilih tapi Palupi hanya berdiri mematung menatap satu persatu baju-baju yang pernah ia pakai maupun yang belum pernah ia kenakan sama sekali.


Ia menutup kembali pintu lemari baju, lalu berjalan ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat ke dalam bathtub dan memberikan beberapa tetes spa essentials ke dalam air dengan aroma yang lembut menambah sedikit energi untuknya.


Palupi mulai melepas satu persatu baju tidur yang ia kenakan, berdiri di depan cermin dan mulai menatap setiap inci tubuhnya yang indah seolah tanpa cacat yang berarti di tubuhnya.


Tangannya mengikat rambut ikal yang sudah sepanjang pinggang, memperlihatkan leher jenjangnya. Panties satu-satunya kain yang masih ia kenakan perlahan ia lepaskan dan menatap sendiri pada bayangan cermin yang tidak pernah berdusta itu.


Setelah puas memandangi tubuhnya dan segala perubahan yang ia alami, ia berjalan menuju bathtub dan perlahan berendam menikmati aroma kesukaannya. Angannya jauh melayang mengingat pertama ia memasuki rumah yang sekarang bahkan sudah menjadi tempat tinggalnya.


Sosok Merry yang selalu menyayangi, Liana yang care bahkan mati-matian ingin memberikan yang terbaik walaupun resek dengan segala kekonyolannya. Terakhir wajah John melintas dalam ingatannya. Tangan kekar itu, dada bidang itu...


'Aakhh... apakah ini


Sebuah kerinduan, ataukan aku telah jatuh cinta padanya...?' batin Palupi sibuk mencari jawaban sendiri.


Tiba-tiba tangan Palupi memegang buah aprikot indah yang ia miliki, mengingat betapa jahatnya saat pertama kali John melakukan dengan kasar terhadap aset kenyalnya itu. Ia meraba sendiri lalu turun berhenti di area bukit kecil dengan rumput segar yang sedang bersemi.


Palupi memejamkan matanya membuang jauh-jauh rasa takut dan sakit yang pernah ia alami, menjadikan sebuah keindahan yang sudah menanti.


Ia menikmati kehangatan air dalam bathtub, dengan mata terpejam sehingga rasa kantuk itu kembali menggelayut di pelupuk matanya, aroma harum semakin mengajaknya kembali terlena dalam pejam matanya.


"Yu..hu.... Aku datang Merry, oouuhhh aroma masakan apa ini, ya ampun... Jadi lapar saja... setiap datang ke sini hancur rasanya jadwal dietku, ish... ish..." Tanpa ada basa-basi lagi Liana sudah main comot sana comot sini.


"Kamu kebiasaan ya, nanti kalau berada berat badan naik drastis dapurku pula yang kau salahkan. Huh..., dasar," Merry ikut tertawa sambil memberikan mangkuk kecil pada Liana untuk wadah tester rasa yang dia maksud.


Merry merapikan beberapa peralatan makan dan menata rapi di meja makan, "beliau sedang jogging dengan ditemani pak Albert, pergi ke puncak Non, katanya di sana ada air terjun yang bagus. Satu jam lagi beliau akan tiba di sini, dan akan sarapan bersama. Ini minta disiapkan gudeg Jogja pesanan beliau."


"Ouhhh Merry, I love you sayang, enak banget yang ini, hhmmmm." Oceh Liana kembali sambil membantu Merry menata piring dan peralatan makan lainnya.


"Oke done... Aku akan mencari di mana tuan putri berada dan menggelandangnya turun ke bawah." Liana meninggalkan Merry sendiri di dapur dan menuju kamar di mana Palupi saat ini berada.


"Gulizar... Gulizar..."


Tok...tok....


"Hem... Jangan bilang dia kembali tidur lagi yah.... Ini tidak betul isshh, anak perawan jam sekian masih sembunyi di bawah selimut saja." Dengan tidak sabar Liana mendorong handle pintu lalu pelan-pelan mendorongnya. Matanya menyapu seluruh ruangan dan sudut kamar. Menatap pintu cupboards yang terbuka lebar, serta aroma lavender essential kesukaan Palupi.


Sunyi....


Liana jalan perlahan memasuki kamar mandi yang pintunya tertutup rapat itu. setelah pintu terbuka masih juga sunyi...


"Gulizar... Di mana kau...? Jangan main petak umpet yah!" Liana penasaran dan masuk ke kamar mandi yang masih basah. "Heh... kok gak ada? Gulizar..." Panggil Liana lagi sambil keluar dari kamar.


Merry senyum menahan tawa melihat Liana yang mencari-cari Palupi. "Ketemu gak Non?" Ejek Merry yang tahu di mana Palupi berada. Palupi yang sembunyi di balik pintu samping sudah siap-siap hendak mengejutkan Liana. Saat hendak mencapai pintu, Palupi berteriak, "ada uler kekeeet." Seketika Liana ikut berteriak, "Hiiiy, uler keket, uler keket," badannya menggeliat geli dan ketakutan.


Sontak Merry tertawa terbahak-bakak melihat ulah Liana, begitu pula Palupi yang tertawa geli puas mengerjai Liana. "Ha... ha...ha... aku tahu tahu Liana takut dengan uler keket. Palupi segera berlari ke arah depan menghindari Liana yang akan mencubitnya.


Suasana pagi itu yang semula sepi, langsung ramai dengan tawa. Merry ikut bahagia melihat Palupi yang kembali ceria. "Piiiiss..." Cengir Palupi sambil mendekat dan mengangkat tangan dengan dua jari membentuk tanda victory, yang minta damai kepada Liana.


"kalian bener bener yah, issh..nggak lucu ayo buruan ganti baju, bukan seperti itu! sebab malam ini kedatangan tuan boss." tangan Liana menarik Palupi dan membawanya masuk kedalam kamar lalu mendandani Palupi.


tidak lama Nyonya Anne bersama tuan Beldiq tiba, setelah melakukan sarapan dengan hikmad dan rasa syukur dengan cara mereka.


Liana beserta nyonya Anne berdiskusi sedikit tentang rencana kedepan setelah John tiba.


Sedangkan tuan Beldiq masuk kedalam small office milik John yangvia gunakan untuk menjalankan beberapa tugasnya yang harus tetap ia lakukan meskipun by online.


Sedangkan Palupi mencari kesibukan sendiri dengan menyalurkan hobinya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


To be continued πŸ˜‰


Salam Sayang Selalu By RR 😘