
Rasa was-was Palupi begitu beralasan, biasa terjadi hal konyol dan gurauan antara mereka bertiga, Merry, Liana dan dirinya sendiri. Kini serasa sepi seperti tidak ada kehidupan pagi hari di dalam villa itu, selain di luar bangunan yang hanya ada Albert, Zaki dan seorang tukang kebun.
"Merry... Aku takut ada sesuatu terjadi pada Liana, duh.... Bagaimana ini sudah pukul sepuluh juga, sudah waktunya harus melakukan segala aktivitas. Mommyku akan tiba di Indonesia lusa loh...." Kepanikan Palupi sangat beralasan.
"Tenang non... coba kita periksa dulu kamarnya, siapa tahu non Liana masih keenakan tidur."
"Sangat jarang dia bangun pukul sekian Merry, dia selalu bangun pagi lalu asyik jogging sama Lupi di sekeliling villa kita," Palupi beranjak dari meja makan dan berlalu ke kamar tamu yang ditempati Liana selama John berada di Inggris.
Tanpa ragu lagi ia putar handle pintu dan ia buka dengan sekuat tenaga yang ia miliki, dan, "aahhkk..."
Ternyata dugaan meleset, Liana pun sama-sama membuka pintu dengan buru-buru karena bangun kesiangan. Samar-samar ia dengar suara Albert sama Zaki yang berteriak saat sedang main basket di area mini sebelah luar kamar Liana.
"Eh..uler keket... Ehh panjang... etdah copot.. dudul, kampret," latah Liana keluar begitu saja tanpa penyaring udara.
"Jiaahhhh... Li..a..na...! Kaget tahu." Palupi terkejut dan hampir saja kejedot kusen pintu kalau tidak ada keseimbangan gerakannya.
"Ishh...ciiynn kebiasaan buka pintu itu ketuk dulu. Jantung eiyke rentan ambyar tau, ishh." Liana berlalu masuk ke kamar lagi dan mengambil air minum di atas nakas yang sudah tersedia.
"Maafkan daku cintahhh..." Kikik Palupi sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur bekas Liana.
"Kenapa bangun kesiangan, apakah kau kurang sehat Liana. Tidak seperti biasanya kau begini, Liana!" Gerutu Palupi.
"Mommy dua hari lagi akan datang Liana, apa yang harus aku lakukan tanpamu...?" Palupi menunduk lesu.
"Sayang... Relax jangan terlalu nervous, semua akan baik baik saja, hmm. Eiyke mandi, eiyke bau iler ishh, malu." Liana nyelonong masuk ke kamar mandi, sedangkan Palupi buru-buru keluar dari kamar Liana sambil tertawa melihat ulah Liana yang kocak. (( Pembaca bayangin sendiri aja yah ๐คญ, Liana berjalan sambil kloget kloget kek uler keket ))
Selesai mandi, Liana berdandan cantik, kemudian mengajak Palupi untuk keluar rumah menghibur diri sekaligus mengajak Palupi ke butiknya. Liana ingin memberi beberapa baju dengan beberapa model yang cocok dengan bentuk tubuh dan warna kulit Palupi.
Dalam perjalanan menuju butiknya, Liana melihat mobil Ray yang melintas di perempatan saat lampu merah menyala dan menghentikan laju mobilnya Liana. "Eh, lihat itu mobil Ray, sepertinya akan pergi ke kota S. Apakah dia akan menjemput mommymu?" Sambil menoleh bertanya kepada Palupi.
"Hello, kakak cantik, tadi belum sarapan kan? Pantas saja ngelindur, ha... ha...," tawa Palupi berderai.
"Tadi kan sudah kubilang, mommy akan tiba besok lusa di Indonesia, sekarang bilang Mr. Ray mau jemput mommy." Komentar Palupi tanpa menghentikan tawanya. Liana yang mendapat komentar, ikut tertawa.
Liana sengaja bilang melihat mobil Ray melintas, agar Palupi kembali ceria saat akan ditinggal pergi. Liana merasa bahwa Palupi tidak perlu khawatir saat kelak berjumpa dengan wanita yang nota bene adalah seorang ibu yang sudah melahirkannya ke dunia.
"Nah, kita mampir makan dulu ya. Ada sebuah restoran kecil di sana, makanannya enak sekali." Kata Liana sambil menunjuk sebuah restoran yang bangunannya terlihat mungil. Keduanya langsung turun dari mobil setelah menemukan tempat untuk parkir. Tanpa pikir panjang, keduanya memesan makanan sambil menikmati sajian live music dari pengamen yang sengaja disuruh pemilik restoran untuk menghibur pengunjungnya menikmati makan siangnya.
"Aku suka sekali makan di sini. Makanannya enak, suasananya juga nyaman. Nanti kalau John sudah kembali aku mau ajak dia makan di sini." Liana tersenyum mendengar celoteh Palupi yang memuji menu dan pelayanan restoran langganannya. "Nanti ajak mommymu makan di sini, biar belajar kenal masakan nusantara yang kaya rempah." Sahut Liana.
"Yuk kita lanjut ke butik dulu ya." Ajak Liana setelah membayar bill makanan mereka dan sambil jalan ke luar, Liana memasukkan tip ke dalam kotak pengamen. Liana langsung melajukan mobilnya menuju butiknya. Kedatangan sang pemilik butik disambut gembira oleh karyawannya, karena Liana jarang meninjau butiknya. Semua karyawannya sudah tahu tugas dan tanggung jawabnya, walau pekerjaan mereka hanya dikontrol melalui ponselnya Liana. Aktivitas kerja mereka juga tetap dipantau lewat CCTV yang terhubung ke ponselnya Liana.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Nottingham di sore hari, duduk sesosok pria sambil menikmati bentangan luas bunga bluebell, tangannya tidak lepas dari gadged dan memandangi setiap kiriman dari orang suruhannya. Segala aktivitas sang pujaan yang ia dapatkan setiap jam diterimanya.
John tersenyum melihat video Palupi yang tertawa gembira bersama Liana. Ingin rasanya terbang ke Indonesia, memeluk sang pujaan hati.
Teeet... teeet...
John terlonjak kaget mendengar bunyi bel rumah yang dipencet seseorang. Bergegas John bangkit untuk membukakan pintu, "Selamat sore, John." Sapa seseorang yang datang sambil mengangkat topi.
"Selamat sore Paman, silakan masuk," jawab John sambil tersenyum. Tamu tadi mengikuti John melangkah ke dalam rumah, kemudian duduk di kursi. "Bagaimana kabarmu John," tanya orang itu.
"Khabarku baik, Paman. Tumben Paman mampir ke Nottingham, ada hal yang pentingkah?"
John langsung berwaspada dengan kehadiran paman jauhnya yang tiba-tiba datang menemuinya.
John sebenarnya tak begitu menyukai pamannya itu karena selalu mengejar John untuk dijadikan menantu. Sebagai anak yang mewarisi perkebunan yang luas, John termasuk pria incaran banyak wanita di kotanya. Muda, tampan, kaya, dan terkenal karena keahliannya, selalu menjadi impian bagi para orang tua yang punya anak gadis untuk dijodohkan dengannya, termasuk paman jauhnya.
"Aku mengundangmu untuk makan malam besok lusa. Apakah kamu dan Beldiq ada waktu?" Tanya sang paman. Otak cerdas John langsung berpikir, mencari cara menolak undangan pamannya. "Maaf Paman, aku harus ke Birmingham, besok pagi-pagi sekali. Ada tugas yang harus kuselesaikan di sana." Dengan sopan John menolak undangan pamannya.
"Apa tak ada keinginanmu menengok keluargamu? Setidaknya kita bisa berkumpul sekali waktu sambil membahas hal yang berhubungan dengan masa depanmu?" Tanya sang paman yang tetap berusaha menaklukkan hati keponakannya.
John hanya nyengir, karena tahu arah pembicaraan pamannya. "Mungkin kak Beldiq dan calon istrinya nanti yang akan berkunjung ke rumah paman. Sedangkan saya betul-betul sangat sibuk, karena baru saja dapat panggilan untuk segera berangkat ke Birmingham." Jawab John dengan gaya cueknya.
"Apa yang kaubilang? Beldiq punya calon istri? Tidak bercanda kan kamu John?" Si paman terkejut mendengar Beldiq sudah punya calon isteri. "Katakan pada paman, si es kutub utara sudah mencair, dan sekarang punya calin isteri? Wow, amazing. Akan ada pesta besar di keluarga Norman." Sang paman menyambut gembira berita itu. "John, aku harus segera pulang untuk menyampaikan khabar gembira ini." Ucap sang paman sambil bangkit berdiri dan buru-buru masuk ke mobilnya meninggalkan rumah John.
John geleng-geleng kepala setelah tersadar memberi khabar kepada pamannya tanpa seizin kakaknya. 'Waduh, matek aku. Gimana kalau Beldiq marah nanti karena aku sudah lancang memberitahu keluarga tentang calon isterinya. Ah, semoga saja Beldiq tidak marah.' John menyesali dirinya yang sudah terlanjur salah.
John masuk ke ruang kerjanya dan kembali memeriksa dokumen yang akan dibawa Anne nanti saat berkunjung ke Indonesia. Sebagian dokumen yang diperlukan untuk pengesahan kembali status Gulizar sebagai warga negara Britania Raya yang sempat dinyatakan hilang, masih belum lengkap. John masih harus melakukan penelusuran bukti bahwa Bethany Angelique Gulizar juga salah satu passenger pada kapal pesiar yang ditumpangi Anthony dan Anne karena status passpornya yang masih menyatu dengan passpor ibunya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
TBC๐คญ
Sambil menunggu up chapter berikutnya, mampir ke karya kawan Rhuji yuk bestie๐, jangan lupa like jempolnya, favorit and then komen membangun ๐.
Salam Sayang Selalu By; RR ๐