
Riris pada akhirnya tahu bahwa ibunya sudah meninggal saat dirinya dirawat di rumah sakit. Kini tak ada lagi ibu yang memanjakan dan membantu untuk menolongnya bila mengalami kesulitan. Riris dibawa Bambang menengok makam Juleha. Airmata Riris tumpah membasahi tanah makam ibunya. Riris kini merasakan hidup sendiri tanpa ibu di sampingnya. Hatinya bergolak. 'Seperti inikah yang dirasakan Palupi saat dipaksa berpisah dengan ibu kandungnya? Rasa kehilangan yang menyiksa batin." Monolog Riris saat melihat tanah yang masih basah dihuni oleh jasad ibunya.
Hidup Riris kini menjadi tanggungan penuh Bambang. Riris pun baru tahu bahwa rumah yang selama ini ditempatinya dibeli ibunya dengan uang hasil penjualan gelang milik Anne. "Mas, bagaimana dengan rumah milik ibu?" Tanya Riris saat duduk berdua dengan Bambang. "Tenang sayang, aku sudah bertemu dengan keluarganya Palupi.
Mereka memberikan rumah itu untuk jadi milikmu sebagai warisan dari almarhumah ibumu. Rumah itu dibeli dengan atas nama ibumu, jadi kamu yang berhak memilikinya." Dengan hati-hati Bambang menjelaskan status rumah peninggalan Juleha. "Setelah aku hamil ini, aku merasakan sedih dan malu. Aku ingin bertemu lagi dengan Palupi. Aku merasa dosaku tak terampuni tanpa maaf dari Palupi dan ibunya." Tangis Riris di pelukan Bambang.
"Dengar sayang, aku bahagia sekarang kamu sudah sadar. Ingat, kamu sedang mengandung anakku. Jangan buat anak kita terbawa kesedihan ibunya." Hibur Bambang. "Aku mendengar berita bahwa Palupi akan kuliah di sini, jadi masih ada waktu untuk bertemu. Tapi ingat jangan panggil dengan nama Palupi lagi. Panggil namanya dengan sebutan Nona Gulizar. Mereka orang-orang yang tak terjangkau oleh kita."
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Palupi tak lepas dari gandengan tangan John setibanya di bandara Ngurah Rai, Bali. Wajah cerianya tergambar jelas karena akan bertemu dengan keluarga kandungnya. Dia sangat ingin bertemu dengan Opanya George Wilson dan Omanya Chaterine Wilson. Rasa haru dan bangga meliputi hatinya.
Minggu lalu Palupi Tan Gulizar resmi menanggalkan nama pemberian Juleha, semenjak dia memberi salam perpisahan di halaman parkir rumah sakit. Kini hatinya tegar dan mantab menggunakan nama pemberian orang tua kandungnya, Angelique Bethany Gulizar, yang berarti gadis lembut pembawa buah milik malaikat. Namanya mengandung makna puteri yang berhati lembut, bersih dan pembawa kebahagiaan. Namanya selaras dengan perilakunya yang lembut, tak suka menyimpan dendam walau sering disakiti.
Sepasang orang tua yang sudah memutih rambutnya menunggu kedatangan sang cucu yang hilang selama lima belas tahun. Mereka berdiri dari duduknya saat John masuk ke lobby hotel diikuti seorang gadis yang cantik. Wajah si gadis mirip dengan Anne, puterinya. "Bethany, my grandchild." Seru si oma, sambil merentangkan tangannya dan menyambut Palupi ke dalam pelukannya.
Nama Bethany adalah nama pemberian omanya saat Palupi baru lahir. Kebahagiaan terpancar dari wajah pasangan lansia itu. John ikut bahagia. Prestasi yang diraihnya menuai pujian keluarga dan catatannya masuk ke dalam daftar nama penerima penghargaan dari pemerintah Inggris.
Rombongan utusan Liana tiba menyusul kemudian. Tak lama kemudian dua buah mobil yang membawa baju pengantin dan baju semua keluarga berserta semua perlengkapan termasuk peralatan make-up untuk perkawinan yang dibawa lewat jalur darat juga telah memasuki Pelabuhan Gilimanuk dan meluncur ke daerah Kuta, Bali.
Liana berjalan santai sekeluarnya dari area kedatangan bandara. Dia hanya membawa tas tangan dan menyeret koper kecil. Saat sedang duduk di bangku yang ada di lobby kedatangan menunggu jemputan, tiba-tiba pahanya ditubruk gadis kecil sambil menangis, "Mommy... Mommy... jangan pergi," rengeknya sambil mengangkat kedua tangannya minta gendong. Bocah manis itu masih menangis dan mengerjapkan matanya.
Liana bingung, bocah kecil dengan mata sipit yang menangis mengejutkannya, hingga ponselnya hampir jatuh. "Eh, cantik..., anak siapa?" Tanya Liana sambil memangku bocah itu yang memeluk erat perut Liana yang langsing. Ada rasa khawatir yang menyergapnya. "Anak cantik, mana orang tuamu?" Tanya Liana sambil membelai kepala bocah itu. Ada rasa nyaman saat memeluk anak itu.
Seorang pria tampan dengan wajah oriental menuntun bocah laki-laki, celingak-celinguk sambil meneriakkan nama,"Caroline..., baby...," wajahnya memucat karena kehilangan anaknya. Saat berjalan mendekat ke arah Liana duduk, dilihatnya anaknya sedang dipangku memeluk wanita itu. Hatinya terkesiap karena wanita cantik itu mirip dengan isterinya yang sudah meninggal empat bulan lalu. Perlahan didekatinya wanita yang sedang memangku putrinya, namun tiba-tiba anak lelakinya melepaskan pegangan tangan ayahnya dan berlari sambil berteriak histeris, "Mommy...," dan menubruk Liana.
Liana kebingungan dengan ulah dua bocah itu. "Maafkan anak-anakku. Maaf sudah mengganggu." Terbata-bata lelaki itu meminta maaf dan mencoba mengangkat anaknya dari pangkuan Liana. Tetapi si anak semakin kencang memeluk Liana dan enggan melepaskan pelukannya. Begitu pula si anak lelaki itu memeluk Liana, "Mommy, ayo pulang. Jangan tinggalkan Freddy dan Olin." Tangis anak lelaki itu.
Seorang laki-laki datang dengan tulisan besar di tangannya 'Miss Liana.' Melihat sopir itu, Liana melambaikan tangannya. "Pak Ipul?" Tanya Liana. "Betul Miss, saya diutus Mr. John untuk menjemput." Jawab sopir itu. "Baik Pak, tunggu sebentar ya, masih ada sedikit urusan.
Liana kemudian memeluk kedua bocah itu dan berkata, "sayang, sekarang ikut daddy dulu ya, mommy ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Nanti kalau mommy tidak mengerjakan tugas itu, bisa dipecat." Ucap Liana dengan lembut. Akhirnya kedua bocah itu rela melepaskan pelukan dan mencium pipi Liana. Begitu pula Liana memcium pucuk kepala kedua bocah itu. "Miss, boleh kita bertukar nomor?" Tanya Antonius sebelum berpisah. Liana menyodorkan ponselnya, dan pria itu menuliskan nomornya dan memberi nama Antonius calonku. Kemudian dia mendial ke ponselnya dan melakukan save untuk nomor baru yang masuk. Mereka berpisah, namun ada sesuatu yang mengusik hati dua orang dewasa itu.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Upacara dan pemberkatan perkawinan Anne Wilson dan Beldiq Norman di Gereja Anglikan Kuta, Bali berlangsung sakral dan syahdu. Ray bersama Anita dan si kembar turut hadir, begitu pula Harry dan isteri, serta Feng Ling dan Mario ikut menyaksikan kebahagiaan Anne dan Beldiq.
Pesta menyambut pengantin baru diselenggarakan di restoran hotel tempat mereka menginap. Sebelum acara pesta dimulai, Beldiq mengumumkan bahwa Angelique Bethany Gulizar, putri tunggal Anne Wilson dengan almarhum Anthony Gaozan yang berhasil ditemukan kembali setelah 15 tahun hilang, hadir di tengah-tengah kebahagiaannya. Kini Gulizar sudah kembali ke dalam keluarga kandungnya dan resmi tercatat sebagai putri Anne Wilson dan Beldiq Norman.
Tepuk tangan menyambut kehadiran Angelique Bethany Gulizar yang berjalan di tengah ruangan menghadap yang hadir sambil membungkukkan badan memutar ke arah semua orang. Pesta meriah mengahiri malam indah bagi pasangan yang sedang bahagia.
Bagaimana perjuangan John Norman meraih hati Gulizar?
Berhasilkah anak-anak Antonius menjadikan Liana sebagai ibunya?
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Terimakasih yang tak terhingga kepada saudaraku sekalian telah dengan setia mengikuti cerita I'M NOT A FLOOZY.
Nantikan pada next session π
END ππ