I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 92



Kondisi fisik Riris sudah mulai kembali menunjukkan pemulihan. Bambang yang flamboyan mulai menunjukkan perubahan sikap. Kini perlakuannya lebih lembut terhadap Riris. Perubahan ini mengundang keheranan dalam diri Riris. Ketekunan Bambang mengamati perubahan kondisi fisik Riris yang lemah mengundang senyum perawat yang selalu memantau kondisi kesehatan pasiennya.


Pagi itu pak dokter yang ramah datang memeriksa perkembangan kesehatan Riris yang sudah membaik secara signifikan. Setelah dirawat selama tiga hari, infus yang terpasang di tangan Riris mulai dilepas. Namun Riris belum boleh pulang karena pertumbuhan janin masih dalam pantauan walau sudah ada peningkatan irama detak jantung janin yang telah memasuki usia ke sembilan minggu.


Tomo yang sedang meneliti data calon TKW di kantornya, mulai terganggu oleh berita yang mengusik batinnya. 'Siapa ya yang sedang dirawat? Apakah Riris? Ahh, ucapan bosku kok bikin aku bingung. Apa pak bos sudah menikah dengan Riris? Ah, rasanya tak mungkin!" Pikir Tomo.


"Mas Tomo," seru suara perempuan dari balik pintu memanggil dan membuyarkan lamunan Tomo. "Ya, masuklah." Jawabnya. Seorang gadis muda yang cantik masuk sambil menenteng rantang. "Mas, ini saya antar makan siang. Tadi aku masak sayur asem dan goreng gabus kesukaan mas Tomo." Ucap gadis itu dengan malu-malu. Rantang diletakkan di meja tamu, sambil melepaskan kaitan rantang dan menatanya di meja.


Terbit air liur Tomo mendengar kata sayur asem dan goreng gabus asin. "Ada sambal terasinya gak?" Tanya Tomo sambil mendekat ke meja dan melihat isi rantang. "Ihh, mas Tomo ini aneh. Sudah tahu sayur asem dan ikan asin itu paling nikmat dimakan harus ada sambal terasinya." Kikik si gadis yang mulai menuang nasi di piring yang dibawanya.


Tomo segera makan dengan rakus, seperti orang belum makan seminggu. Si gadis hanya geleng kepala sambil menuang air minum di gelas dan mengangsurkan kepada Tomo yang kepedasan. "Pelan-pelan Mas, aku nggak minta kok." Ucap si gadis sambil terkikik. "Ini salahmu. Kamu tahu kan ini makanan kesukaanku. Makanan ini mengingatkanku kepada kampung halamanku. Masakanmu ini rasanya mirip sekali dengan olahan ibuku. Aku jadi merindukan dia dan adik-adikku." Ujar Tomo dengan sendu.


Aisyah, gadis manis yang selalu berusaha menyenangkan hati Tomo yang kalem dan pendiam. Aisyah sudah mulai nyaman saat Tomo memperhatikan dirinya dengan cara dan perlakuan yang berbeda kepada semua calon tenaga kerja yang akan dikirim ke luar negeri.


"Mas Tomo, boleh aku bertanya," ucap gadis itu sambil merapikan kembali rantang dan piring sesudah Tomo selesai makan siang. "Mau tanya apa? Kapan kita nikah, gitu?" Goda Tomo kepada Aisyah.


Aisyah tersipu malu, pipinya merona. "Iihh, Mas Tomo kok seneng banget sih godain aku. Aku cuma mau tanya, apa aku jadi dikirim ke Arab Saudi? Aku sih pinginnya dikirim ke negara yang dekat-dekat saja, seperti Singapura gitu lho Mas." Rayu Aisyah dengan kemayu. "Hemm, ke Singapura ya?" Jawab Tomo sambil mengelus dagunya. "Boleh, nanti ku urus. Tetapi ada syarat yang harus kamu penuhi." Jawab Tomo dengan menaik turunkan alisnya menggoda gadis incarannya. Gadis manis yang masih polos dan mudah ditaklukkannya.


Aisyah terdiam dan mencoba memahami ucapan Tomo. Kepalanya tertunduk dengan wajah sedih. Tomo yang melihat perubahan wajah Aisyah hanya senyum dan semakin menggodanya. "Aisyah sudah bisa bahasa Inggris, belum? Kamu rajin gak hadir di tempat kursus?" Tanya Tomo sambil mengelus kepala Aisyah yang tertutup hijab.


Tomo bangkit dari duduknya sesudah kenyang makan. Ditariknya Aisyah berdiri di depannya. 'Ah, makin manis saja gadis ini. Tak rela rasanya bila gadis ini nanti jatuh ke dalam pelukan majikannya,' batin Tomo sambil menarik Aisyah ke dalam pelukannya. Aisyah terkejut karena tiba-tiba badannya sudah dalam pelukan Tomo.


"Maaas... Tom..., eh..., kenapa tiba-tiba meluk aku?" Tergeragap Aisyah bereaksi dengan ulah Tomo. Tubuhnya gemetar, karena selama ini walau sering diantar ke mana-mana, Tomo hanya menggandeng tangannya, bila melewati kerumuman orang di pasar ataupun di Mall.


Aisyah tak berani bergerak, namun merasa nyaman dalam pelukan Tomo. Aisyah merasa terlindungi dalam rangkuman tangan kekar Tomo. Begitu juga yang dirasakan Tomo saat pertama kali memeluk gadis yang disukainya. Ada rasa hangat mengalir di dadanya. Tak ada gejolak rasa yang membangkitkan nafsu. Tomo merasa bahwa gadis yang sedang dipeluknya ini pantas diajak masuk ke dalam hidupnya.


Dikecupnya puncak kepala Aisyah dan melepaskan pelukan. "Pulanglah dulu, nanti mas Tomo kabari, bisa tidaknya kamu masuk ke dalam kloter untuk Asia Tenggara." Ujar Tomo sambil berjalan kembali ke meja kerjanya. 'Aisyah pamit ya Mas Tom," cicit Aisyah pelan sambil mengambil rantang bawaannya ke luar dari ruang kerja Tomo.


Beberapa hari kemudian.


Bambang sedang merapikan semua barang milik Riris selama dirawat di rumah sakit. Bahkan Riris dilarang membantunya saat melihat Bambang yang kesulitan melipat baju bersih milik Riris. Bambang menyusunnya ke dalam tas baju milik Riris. Bambang memilah dan memasukkan baju kotor ke dalam tas plastik, karena belum sempat dia bawa ke laundry. Riris hanya tiduran di bed sambil memperhatikan Bambang. Selesai membereskan barang-barang Riris, Bambang langsung menemui kasir rumah sakit untuk melunasi biaya perawatan Riris.


'Kenapa sekarang Oom Bambang manis banget ya? Dia memperlakukan dan menjaga aku seperti menjaga porselen agar tidak jatuh dan pecah.' Pikir Riris yang masih agak bingung dengan perlakuan Bambang.


'Dia selalu bilang, kita segera menikah, dan harus menjaga dengan hati-hati kandunganku ini. Tapi, aahh, bayi siapa ini? Milik Oom Bambang apa Mas Tomo? Selama tiga bulan ini aku hanya tidur dengan mereka berdua tanpa pakai pengaman. Gak mungkin kan ini anaknya Aris, karena baru beberapa hari yang lalu kami melakukannya, sedang usia bayiku sudah masuk minggu ke sembilan. Aahh, bingung aku.' Kembali Riris bermonolog.


Bambang dengan hati-hati menuntun Riris masuk ke dalam mobil. "Sayang, apa badanmu sudah nyaman? Tadi Mas sudah menebus obat di apotik rumah sakit. Harus rajin minum ya, agar bayi kita sehat." Pinta Bambang dengan lembut. "Iya Oom..., eh... Mas." Jawab Riris dengan malu-malu. Batinnya masih bergolak antara mau dan tidak untuk menjaga dan merawat kandungannya.


Batinnya pun terganggu karena Bambang memaksa menikahinya, setelah tahu Riris hamil. Mobil Bambang sudah mengarah ke luar dari kota M. Mereka sudah sampai di tengah perjalanan. Bambang membelokkan mobilnya ke rumah makan karena merasa lapar.


Dibangunkannya Riris yang sedang tertidur. "Sayaaang..., bangun. Kita makan dulu ya." Ajak bambang. Riris membuka matanya, dan melihat sekitarnya. "Ini kita di mana? Sudah sampaikah kita?" Tanyanya sambil menegakkan jok mobil. Bambang tersenyum. Di matanya Riris semakin cantik. Dielusnya perut Riris sambil berkata, "kita makan ya Nak, agar kamu bertumbuh sehat dan kuat." Riris terkejut melihat ulah Bambang yang lembut mengelus perutnya..


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


To be continued ๐Ÿ˜‰


Netizen terkasih ๐Ÿค— sambil menunggu karya Rhu up lagi, searching ke karya kawan Rhuji yuk! di jamin mantap๐Ÿ‘


Salam Sayang Selalu By RR ๐Ÿ˜˜.