I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 67



Dalam perjalanannya pulang ke apartemen Liana sempat sewot, dan tiba-tiba menjadi super cerewet. "Pokoknya jangan mendekat dengan Riris, aku tidak mau dia mendekatimu karena ada kemauannya di balik perubahan sikapnya padamu." Mata Liana menelisik jauh ke dalam pupil indah palupi.


"Baiklah... Tapi kau bisa kan janji padaku untuk membawaku ke rumah ibu suatu hari, kita boleh berjaga-jaga, berhati-hati tapi tidak harus membenci kan, sister...!" Palupi mencoba berargumen dengan larangan Liana.


"Duh kau makin ke sini makin pinter ya sayang... So far, so long sejauh tidak berlebihan dan tidak membahayakan keselamatanmu, aku sih oke-oke saja. Oh ya..., kapan tuan John kembali ke Indonesia lagi?" Liana mengalihkan pembicaraan sambil tetap konsentrasi mengemudi mobilnya mengarah ke apartemen miliknya.


Palupi sejenak menarik nafas beratnya. Kerinduan yang selama ini ia sembunyikan, tiba-tiba saja menyusup ketika nama John ia dengar dari pembicaraannya Liana.


"Entahlah Liana, dia mungkin lupa padaku, atau mungkin dia sudah udzur jadi pikun. Jangankan untuk telepon berkirim short message saja tidak pernah dikirim. Kembali wajah Palupi ke mode cemberut.


Liana yang melihat perubahan wajah Palupi menjadi geli sendiri. Liana memahami dengan kondisi Palupi yang dibesarkan dalam lingkup keluarga yang kurang perhatian dan kasih sayang, sehingga saat mendapat perhatian yang bersifat afeksi, Palupi merasa dirinya sangat dibutuhkan dan diperhatikan. Palupi yang sangat ingin merasakan kasih sayang keluarga, kini dia temukan dari orang-orang yang baru dan berada di sekitarnya.


"Nah, kita sudah sampai. Ayo turun," ajak Liana yang mengagetkannya. Palupi segera turun dari mobil. Mereka berjalan menuju pintu masuk. Liana mengeluarkan keycard untuk masuk menuju lift. "Eh, kita gak bisa masuk ya kalau gak nempelin kartu itu?" Tanya Palupi saat mereka masuk. "Tentu saja tidak bisa Non. Ini kan apartemen kelas menengah ke atas. Tidak semua orang bebas keluar masuk." Jawab Liana sambil senyum-senyum.


Sesampainya di depan pintu Liana segera memasukkan passcode untuk membuka pintu unit huniannya. Palupi yang pernah diajak menginap di situ sebelumnya, abai dengan prosedur masuk ke apartemen. "Hi hi hi, ternyata aku bego ya, Liana." Palupi menertawakan kebodohannya saat tahu bahwa banyak hal yang harus dipelajarinya.


Mereka berdua masuk sambil tertawa. "Tenang sayang, aku pasti mengajarimu cara bergaul orang-orang papan atas." Ujar Liana dengan lembut. Palupi menemukan pribadi dan sosok kakak perempuan yang lembut dan baik hati dalam diri Liana, juga menemukan sosok kakak laki-laki yang tegas dalam diri John Norman.


Dulu hanya rasa takut yang dirasakan oleh Palupi saat pertama kali bertemu dengan John. Sikapnya yang kasar mendominasi hubungan mereka, namun itu ternyata dilakukan John untuk mengujinya, apakah dirinya telah dijadikan pela*cur oleh Juleha atau masih terjaga kesuciannya? Kini, sikap John sudah berubah saat tahu bahwa Palupi masih menjaga harkat dirinya sebagai perempuan. Hingga akhirnya rasa takut berubah menjadi rasa sayang. Juga mulai ada rasa takut kehilangan saat John jarang menghubungi lewat telepon.


Selama ini dia dibesarkan tanpa kasih sayang keluarga, sehingga Palupi membatasi diri dalam bergaul. Dia menyimpan setiap masalah dalam hatinya. Tak ada orang yang bisa diajaknya berbincang untuk menguak tabir kehidupan.


"Bagaimana dengan rencana masa depanmu, Gulizar? Ada keinginan untuk kuliah? Kamu harus ingat, suatu saat kamu akan menggantikan mommymu untuk memimpin perusahaan orang tuamu." Kata Liana mengingatkan Palupi akan tanggung jawabnya sebagai anak dan penerus kerajaan bisnis keluarganya. "Ya, aku mau kuliah, tapi aku masih bingung. Ingin aku kuliah di sini saja, tapi apakah mommy mengizinkan aku tinggal di sini? Sekarang data diriku sudah berubah." Jawab Palupi dengan mimik sedih. Semula data dirinya masuk dalam Kartu Keluaga Juleha yang diakui sebagai anak kandungnya dengan ayah orang asing.


Kini terbukti, dia bukan anak Juleha. Beruntungnya Palupi didampingi Ray dan petugas dinas sosial, petugas dinas kependudukan, dan petugas dinas pendidikan berjibaku mengubah data dirinya di semua sekolah tempat Palupi menuntut ilmu. Identitas dirinya semula WNI berubah menjadi WNA. Data diri orang tua pun berubah di rapor dan ijazahnya. "Iya, untuk sementara ini sambil menyesuaikan diri, aku bisa kan kuliah di sini? Kan aku juga perlu belajar beradaptasi dengan lingkar sosial yang berbeda." Palupi menjawab pertanyaan Liana dengan santai.


"Tentu saja bisa kuliah di mana saja kamu suka. Bahkan ke Amerika pun boleh kalau mommymu mengizinkan." Dengan senyum lebar Liana menjawab Palupi yang mulai memikirkan masa depannya. Kenyataan yang tak dapat ditolak bahwa dia harus melalui banyak ujian kehidupan. Kini, masa depannya ditentukan oleh dirinya sendiri. Keputusan ada di tangannya, bukan di tangan orang tuanya.


Ternyata sikap dan perhatian yang disebut orang tua tidaklah sama. Ketika menjadi anaknya Juleha, dia tak punya yang disebut kebebasan berpendapat. Semua diatur oleh Juleha dan Riris. Semua hal dibatasi hingga hidupnya seperti kuda beban yang diberi penutup mata samping sehingga tak mampu melihat ke kiri dan ke kanan. Sekarang di tangan ibu kandungnya dia menemukan dunia yang berbeda. Dunia penuh warna. Di tangannya kini tergenggam masa depannya sendiri tanpa ada rasa takut.


Malam kian larut, kantuk pun menghampiri mereka untuk merajut mimpi menyemai asa tentang masa depan. mimpi Palupi yang tidak pernah putus dengan rasa syukur tentang kehidupan yang ternyata manis di balik deritanya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TBC πŸ˜‰


lanjut yuk Mak 🀭 jangan lupa like komen and plus plus buat palupi, Liana pun boleh πŸ˜‚