
Mengenang cerita cinta Ray and Anita
Seorang gadis cantik, berkulit putih berdiri di depan halaman sebuah sasana olah raga. Dia sedang memainkan ponselnya sambil menunggu jemputan. Ray yang berjalan terburu-buru mau masuk ke sasana tak sengaja menabrak gadis itu hingga ponselnya jatuh menghantam batu di pinggir teras.
Ponselnya retak membuat si gadis terbelalak. Dia terdiam dan hanya memandangi ponselnya yang retak.
"Maaf." Ujar Ray, si penabrak dan tetap masuk ke dalam gedung tanpa menoleh. Si gadis tersadar dan mengejar si penabrak. "Berhenti!" Teriak si gadis dengan marahnya. "Enak aja main kabur setelah merusakkan ponselku." Teriaknya sengit. "Memangnya cukup dengan kata maaf, ponselku kembali baik? Lihat ini ponselku retak dan mati!"
Pemuda tampan dengan postur atletis itu kaget disemprot gadis cantik berpostur semampai. "Astaga, maaf Non, aku terburu-buru karena ada janji." Jawab pemuda itu.
"Aku tak peduli, kamu harus tanggung jawab!" Teriaknya lagi. 'Astaga, cantik tapi galaknya minta ampun deh,' batin si pemuda. "Baik, tunggu sebentar. Nanti kuganti dengan yang baru." Jawab si pemuda sambil berlari.
Si gadis tanpa berpikir dua kali langsung mengejar dengan cepat dan meninju dari belakang. Sadar ada angin yang bergerak di belakangnya si pemuda berbalik badan dan kemudian menangkap tangan si gadis.
Merasa akan dilecehkan si gadis menendang ke arah paha dalam si pemuda hingga dia terjatuh dan berteriak kesakitan. Melihat si pemuda jatuh, si gadis balik badan dan berlari ke luar dan langsung masuk ke dalam mobil yang menjemputnya.
Bowi sang Ketua Sasana yang melihat peristiwa itu tertawa terbahak-bahak. "Waaah, hebat tuh Anita, hanya dengan satu gerakan berhasil menumbangkan juara karate tingkat daerah." Ujarnya. "Semangat Ray, ayo bangkit jagoan. Jangan tiduran di sini." Sambil menarik tangan Ray. "Huuhh, siapa gadis kurang ajar itu, Bro?" Tanya Ray sambil bangkit dan mengelus paha dalamnya yang nyeri kena tendangan.
"Hmmm, kamu lupa ya? Itu Anita, dokter magang, adiknya Dion sobatmu." Jawab Bowi sambil masih ngakak. 'Hmmm, Anita gadis culun murid kelas IX, saat Ray dan Dion sudah duduk di kelas XII.' Ingatan Ray kembali ke masa-masa masih sekolah. Ray tersenyum kecut, setelah tahu adik temannya yang menendangnya sebagai balasan karena sudah membuat layar ponsel si gadis retak.
"Sorry Bro, aku baru seminggu ini pulang dari studiku. Aku ke sini mau latihan lagi. Badanku terasa pegal semua kurang gerak." Ujar Ray. "Aku butuh sparring partner untuk berlatih lagi." Ucap Ray yang ingin kembali berlatih karate setelah dua tahun vacuum karena sibuk riset dan menyusun thesis. "Tenang Bro, pasti kucarikan orang yang sepadan dengan tingkat ban milikmu."
Setelah ngobrol, Ray pamitan dan pulang. Sesampainya di rumah Ray melepas celananya dan memeriksa paha dalamnya yang membiru.
Segera diambilnya obat semprot untuk mengurangi nyeri. Memar di badan akibat tendangan saat latihan maupun pertandingan adalah hal yang biasa bagi seorang karateka.
Sejak peristiwa itu, Ray diam-diam mengamati aktivitas Anita. Hatinya mulai tertarik dengan adik sahabatnya itu. Dion yang semula tak tahu bahwa Ray telah berkenalan lewat tendangan maut oleh Anita tertawa ngakak setelah mendengar cerita dari Bowi. Setelah Dion dan Ray bertemu, akhirnya Ray menyerahkan ponsel baru sebagai ganti ponsel Anita yang rusak.
"Bro, mama kangen kamu tuh." Ujar Dion di telepon. "Kamu disuruh datang makan malam. Kspan kamu ada waktu," tanya Dion. "Wokeh, besok malam ya. Anita ada di rumah gak?" Tanya Ray. "Haisss, jangan godain putri salju." Sambil tertawa Dion menjawab Ray.
Pukul tujuh malam, Ray telah memarkir mobilnya di halaman rumah Dion. Kedatangan Ray telah ditunggu Dion yang menyambutnya di depan pintu. Mereka masuk ke dalam rumah. Dion langsung menggiring Ray ke dapur.
"Selamat malam tante." Sapa Ray kepada bu Broto, ibunya Dion. "Eh Ray, astaga, sekarang kamu terlihat ganteng dan gagah." Sambutnya sambil memeluk sahabat karib putranya.
"Maaaam, hello... any body home?" Terdengar suara teriakan dari arah depan. "Astaga Anit..., anak gadis kok masih suka teriak-teriak." Tegur bu Broto kepada anak gadisnya yang berlari masuk rumah. Langkah Anita terhenti.
Dia terkejut melihat sosok pemuda tampan yang tersenyum berdiri di samping ibunya. "Sini sayang..., kenalkan ini mas Ray sahabat masmu Dion." Sambil menarik tangan Ray jalan ke depan Anita. "Eh maam...," Anita tergeragap dan salah tingkah. Ray dan Dion tersenyum simpul melihat ulah Anita. "Hai Anita, kenalkan aku Ray, putra kedua Ibu dan Bapak Broto," ucap Ray sambil nyengir menggoda Anita.
Bu Broto hanya tersenyum melihat Ray yang senang bercanda. Mau tak mau Anita menerima tangan Ray dan bersalaman dengan kepala menunduk karena malu. Setelah bersalaman Anita balik badan dan berlari ke kamarnya. Jantungnya berdegup tak karuan saat salaman.
Anita mengamati ponsel canggih pengganti dari Ray. 'Aah..., ternyata cowok tampan itu beneran temannya mas Dion. Haaah..., dia bilang juga anaknya Mama? Ah..., sudahlah. Aku mau mandi dulu.' Anita buru-buru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti baju yang pantas untuk santap malam bersama sahabat keluarganya.
Makan malam berlangsung tanpa kehadiran Pak Broto yang masih di luar negeri mengecek cabang perusahaan yang bermasalah.
"Mungkin Ray sudah lupa ya. Ini Anita adiknya Dion. Sejak lulus SMP ikut eyangnya di Yogya karena bercita-cita ingin kuliah di Kedokteran UGM." Jelas bu Broto saat Anita sudah bergabung di meja makan. "Iya, tante. Aku ingat dulu Anita masih culun, rambutnya dikepang waktu SMP." Sambar Ray sambil menyuap makanannya. Anita yang dikatain culun, sontak cemberut, "Maam..., jangan diterusin ih, ceritanya." Protes Anita. Dion dan ibunya tersenyum mendengar komentar Ray.
"Tapi sungguh luar biasa proses metamorfosis yang terjadi. Sekarang kau cantik sekali, Nona." Goda Ray yang membuat pipi putih Anita merona mendapat pujian yang tiba-tiba. Bu Broto dan Dion saling lirik dan senyum ditahan melihat Ray yang memuji Anita. Gadis itu buru-buru menyelesaikan makan malamnya. Jantungnya berdetak tak beraturan. "Maam..., Anit boleh ya ninggalin meja. Masih banyak tugas dari senior yang harus kuselesaikan."
Tanyanya minta izin kepada ibunya. "Iya sayang, boleh kok." Jawab bu Broto. "Permisi ya mas-mas semua, maaf duluan." Pamit Anita meninggalkan meja makan.
Selesai makan, Dion dan Ray minum kopi sambil main catur. "Aku boleh gak dekati Anita? Dia sudah punya pacar belum?" Tanya Ray. Dion yang ditanya langsung ngakak. Dia tahu sahabatnya ini luar dalam. "Kok tanya aku? Tanya sendirilah, tuh anaknya di kamar," ledek Dion.
Bu Broto yang mendengar dari dalam sambil membawa camilan menyahut, "jadi Ray betulan mau disahkan jadi anak mama?" Tanyanya menggoda Ray. Yang ditanya jadi salah tingkah. Anita yang menjadi obyek bahasan masih serius mengerjakan tugasnya di kamar.
Keesokan harinya, Ray sudah parkir di halaman rumah sakit tempat Anita magang. Dia terkejut melihat pemuda tampan berkacamata hitam berdiri dekat mobilnya. "Selamat siang cantik." Sapa Ray tanpa basa-basi. "Iihh..., apaan sih mas Ray siang-siang sudah ngegombal." Protesnya dengan wajah bersemu merah. "Eh, gak gombal kok. Anita beneran cantik kok gak boleh kusebut cantik? Elak Ray yang tetap menggoda Anita. "Mas dapat tugas dadakan nih dari Mama buat jemput kamu. Mas Ray mau ajak Anit makan siang, sebagai tanda permintaan maaf sudah merusak ponselmu." Rayu Ray.
Akhirnya Anita menyerah dan mau diajak Ray makan siang berdua. Sejak saat itu Ray dengan gigih berusaha menaklukkan Anita si Putri Salju.
PoV Anita
Hmm, tak kusangka setelah lulus dari kedokteran aku dipertemukan lagi dengan Mas Raynaldi sahabat mas Dion dengan cara yang unik. Aku sebenarnya sudah mengagumi sejak pertama kali diajak mas Dion ke rumah. Pelajar SMA yang tampan dan ramah, suka bercanda dan kadang konyol tapi lucu. Sejak itu aku yang pendiam dan pemalu sering curi-curi pandang dan terkadang mata kami sering bersirobok tanpa sengaja. Apakah dia kelak jadi jodohku?
PoV Raynaldi
Amboi, gadis culun dan pendiam itu kini bertumbuh jadi gadis cantik. Kami dipertemukan dengan cara yang unik. Kini dia telah menjadi dokter walau masih magang. Aku sudah menyimpan rasa bertahun lalu. Semoga dia belum punya calon suami, atau pacar. Hanya dia gadis culun itu yang mengisi hatiku sejak dulu. Apakah kami berjodoh, Tuhan?
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
To be continued ๐
Netizen terkasih ๐ค sambil menunggu karya Rhu up lagi, searching ke karya kawan Rhuji yuk! di jamin mantap๐
Salam Sayang Selalu By RR ๐