I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 89



Pintu gerbang villa terbuka otomatis, Merry yang menyadari seseorang telah membuka pintu pagar, segera menyongsong kedatangan Palupi bersama John Norman. "Selamat datang kembali nona Gulizar, tuan Norman. Rasanya kalian meninggalkan villa ini sudah begitu lama dan lama sekali. Apa kabar Tuan dan Nona?" Senyum hangat Merry selalu menghiasi bibirnya.


"Oh...Merry aku merindukanmu." Palupi menghambur begitu saja dalam pelukan Merry dan di sambut dengan rengkuhan hangat dari Merry.


John yang menyaksikan itu segera meletakkan tas yang ia bawa, "oh Merry... Tidakkah kau merindukanku juga, peluklah aku Merry sayang,"


"Oh Tuan...." Merry pun menghampiri tuannya yang dia asuh sejak kecil memeluknya dan John mencium ujung kepala wanita tua itu.


"Tuan norman, sangat...aku sangat merindukanmu, apa kabar tuan muda?"


Sungguh pemandangan yang indah di pagi hari. Mereka yang saling kasih dan mengasihi memberikan energy positif pada masing-masing perasaan mereka.


John mengandeng Palupi dan membawanya menuju kamar tidurnya di lantai atas dan membawa Palupi merebahkan diri di atas ranjang king size miliknya, "sweetheart, akupun sangat merindukanmu, hhmmm."


"John, apaan sih! Dari tadi bersama juga masih aja kau merindukanku, lebay," Palupi melontarkan kata-kata, namun tangannya memberikan pelukan dan menyembunyikan wajahnya dalam dada bidang John Norman dengan menghirup aroma harum parfum yang seakan lengket dengan tubuh John.


Untuk beberapa saat kesunyian mendominasi ruangan itu, hingga "John, apakah kita tidak perlu ganti baju?" Tanya Palupi malu-malu.


"Mandi? Hemm? Kau yakin sayang?" kecupan lembut John menyongsong bibir Palupi yang seakan memberi harapan untuk ia sesap.


Palupi sesungguhnya sangat menikmati apa yang ia dapat dari perlakuan John. Palupi bahkan membalas luma*tan itu, dengan mata terpejam tangannya semakin erat memeluk lengan John. Gelenyar aneh yang belum pernah sekalipun ia rasakan menyelimuti perasaan palupi.


"John..." Rintih lembut palupi tatkala tangan kekar John semakin menerobos area larangan.


Satu per satu kancing blouse yang ia kenakan perlahan terbuka, gundukan buah aprikot itu ranum terpampang jelas di depan mata John.


Dengan kelembutan extra John membelai buah ranum itu dengan memainkan ujungnya.


"John...please jangan..., oh" erangan itu memanas di telinga seorang John, lelaki gagah yang mati-matian menekan rasa pada kekasih yang selama ini sudah di depan matanya.


Sedangkan belalai gajah Afrika miliknya tidak segan untuk menggeliat sesak ingin merasakan segarnya suasana dan kenikmatan di lain tempat.


((Ya ampun ๐Ÿคง ngenes beib))


"Sayang..., hhmmm," John masih asyik dengan ranumnya buah aprikot milik Palupi yang sudah menampakkan bentuk lebih berbeda dari awal John pernah memegang dan meremasnya waktu itu.


Suasana semakin tidak terkendali, mereka dua insan yang dimabuk asmara dan sedang mempertahankan kehormatan masing-masing.


Tatanan tempat tidur sudah tidak pada tempatnya. Des*ah nafas mereka saling tidak beraturan. Palupi pasrah dalam ketakutannya, antara keinginan dan kehormatan menjadi taruhannya, begitupun dengan John.


Dalam pergulatan yang entah aka berakhir kapan dan bagaimana, tiba-tiba....


"Yu huuu... Darling mommy datang!" Dari jauh di lantai bawah samar terdengar kegaduhan teriakan Anne dan disambut oleh Merry dan sekaligus tawa Beldiq, membawa suasana rame seketika.


Mata Palupi seketika melotot dan mendorong tubuh John sedikit menjauh dan mengakhiri pergulatan panas mereka.


"Oh.., sh*it kenapa dunia tidak pernah berpihak padaku, sayang?" Erang John sambil terengah sedangkan Palupi sibuk dengan mengenakan blouse yang sudah kusut serta rambut yang acak-acakan.


((Pengalaman mengenaskan saudaraku sekalian ๐Ÿ˜‚))


Palupi buru-buru membenahi dandanannya, tanpa menyadari perubahan pada dirinya, lalu berhambur keluar dari kamar, "Mommy..."


Anne memeluk putri kesayangannya, tidak lama kemudian ia lepaskan pelukannya dan, "oh... dear...you so smelly, saliva ya saliva ohh dear, anak mommy sudah melakukan apa ini?" Palupi terkesiap, dan menunduk malu.


Senyum Anne menggoda Palupi yang malu-malu, "Mommy jangan keras-keras, malu," bisik Palupi sambil melepaskan diri dari pelukan Anne, dan berlari ke arah kamar mandi di kamarnya.


Beldiq hanya dapat tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya melihat hasil ulah adiknya.


Ha..ha... ha... Tawa mereka pecah saat melihat Palupi lari. Merry yang melihat Beldiq tertawa lepas merasa bahagia. Sudah lama Merry ingin melihat majikannya bahagia, karena selama ini wajah Beldiq kaku tanpa senyum dan sangat irit bicara.


"Hon,kalau capek istirahat dulu di kamar." Ujar Anne kepada Beldiq, lelaki yang kini sudah kembali ke dalam pelukannya. Sementara itu Anne bersama Merry menuju dapur untuk menyiapkan teh hangat bagi Beldiq.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Ray tak melepaskan belitan tangannya dari perut isterinya. Mereka tertidur setelah pertandingan seru dan mencapai garis finish secara bersamaan. "Tampannya suamiku ini." Bisik Anita sambil membelai wajah Ray yang masih tertidur lelap. Perlahan disingkirkannya tangan Ray dari perutnya dan bangkit dari tempat tidur. Diliriknya jam di dinding, jarum pendek sudah di angka delapan. Buru-buru Anita masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


Ray terbangun saat Anita sedang menyisir rambutnya yang basah. "Cintaa, kenapa sudah mandi? Ayo tidur lagi," ajak Ray. "Bangun Mas. Ayo mandi, aku mau bantu mbok Nah nyiapin makan malam kita yang sudah terlambat sejam." Jawab Anita sambil berjalan keluar kamar menuju arah dapur.


"Masak apa Mbok," sapa Anita kepada asisten rumah tangganya yang sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri, karena tak mau pulang ke desanya yang sudah rata tertutup luapan lahar muntahan gunung berapi yang meletus dan meratakan lima desa.


"Masak capcay, ayam kuluyuk sama udang asam manis," semoga Ning Ayu dan Mas Bagus suka ya." Jawab mbok Nah. Ning Ayu adalah sebutan yang disematkan untuk Anita yang disayanginya sejak dia mengabdi kepada orang tuanya Anita. Sedangkan Mas Bagus adalah julukan yang diberikannya kepada Raynaldi, suami Anita.


Sambil menyesap teh hangat, Anita menunggu Ray keluar dari kamar untuk makan malam.


Beberapa menit kemudian, Ray berjalan mendekat dan join dengan Anita yang sedang serius menatap ponselnya.


"Ada apa sayang, serius banget mantengin ponselnya?" Kepala Ray nyelonong mendekat lalu ikut melihat apa isi ponsel milik Anita.


"Mereka main hujan-hujanan mas, duh ke mana yang jaga kok malah kirim video ke sini, ya ampun," komentar Anita. Ray setelah melihat video itu langsung tertawa. "Sayang, lihat siapa yang kirim video itu dan pukul berapa video itu. Gak apa-apa mereka main hujan-hujanan." Anita kemudian melihat nama pengirimnya, tertulis nama Opa Donna-Donny. "Astaga Mas, ini Opa yang kirim," sahut Anita sambil tertawa.


Donna dan Donny, anak kembar Ray dan Anita yang berusia tiga tahun sudah mulai menunjukkan keingintahuannya pada banyak hal. Saat mereka bermain di halaman belakang, tiba-tiba turun hujan. Mereka gembira saat merasakan air yang menyentuh kulitnya dan menadahkan tangannya berusaha menangkap air yang jatuh sambil berlarian tanpa takut jatuh.


Sang Opa melihat mereka bermain air hujan, langsung merekamnya, walau tak lama kemudian pengasuhnya mengangkat kedua balita itu dan memandikannya. Kejadian itu mengingatkan sang Opa pada kesukaan Ray di masa kecilnya bermain air dan hujan-hujanan. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


To be continued ๐Ÿ˜‰


Netizen terkasih ๐Ÿค— sambil menunggu karya Rhu up lagi, searching ke karya kawan Rhuji yuk! di jamin mantap๐Ÿ‘


Salam Sayang Selalu By RR ๐Ÿ˜˜