I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 96



Berbekal izin tertulis di atas kertas bermeterai dari isterinya yang pertama, Bambang kembali mendatangi rumah Juleha. Hatinya sudah mantab untuk meminang Riris menjadi isterinya yang kedua. Sambil bersiul mengikuti lagu yang disetel di mobilnya. Bambang menyetir dengan santai.


Setibanya di rumah Juleha, Bambang mengetuk pintu. Riris membuka pintu dengan tampang muka bantal dan rambut acak-acakan. "Oom..., eh Mas, silakan masuk. Maaf aku baru bisa tidur waktu subuh tadi." Ucapnya membela diri setelah melihat wajah Bambang yang mengeryitkan dahi.


Tak apa-apa sayang, aku tahu kamu pasti susah tidur. Kan guling hidup baru datang." Goda Bambang yang membuat Riris tersipu malu. "Sudah ah, aku mau cuci muka dulu." Riris masuk kembali ke kamarnya. Entah kenapa jantung Riris sempat berdebar kencang saat melihat senyum dan kedipan genit mata Bambang.


Juleha menemui Bambang setelah selesai masak. Matanya menelisik pria yang seusia adiknya. "Saya minta maaf, tempo hari sudah mengejutkan Ibu. Saya terlalu bahagia sehingga melupakan adab dan sopan santun." Dengan menunduk malu Bambang menemui Juleha. "Iya, saya maklum. Kebetulan sampean juga sudah tahu keadaan saya. Tetapi sebelumnya saya ingin tahu, apa sampean tidak punya isteri dan anak?" Tanya Juleha yang mencurigai niat baik Bambang.


"Jujur saya sudah punya isteri dan anak yang masih berusia lima tahun. Saya sudah mendapat izin tertulis dari isteri saya. Saya ingin menikahi Riris sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai laki-laki yang telah menghamili putri Ibu."


Hati Juleha terharu setelah mendengar pengakuan Bambang. Setidaknya ada laki-laki yang akan merawat dan melindungi Riris saat Juleha masuk penjara. "Apakah sampean betul-betul tulus mencintai putriku? Atau sekedar main-main saja?" Tanya Juleha untuk memastikan kesungguhan Bambang.


"Riris, kamu tahu kan bahwa ibu sudah siap menjalani hukuman. Sekarang di hadapan ibu, ada laki-laki yang meminangmu untuk jadi isteri kedua. Apakah kamu mau menikah dengannya?" Riris yang ditanya menjadi bimbang. Hati kecilnya sangat mencintai Tomo, namun kenyataan yang ada, mau tidak mau harus menerima jadi isteri Bambang atau dia masuk penjara karena ancaman Bambang.


"Bu, kalau menurut Ibu aku harus menikah, aku bersedia. Aku tak mau bayi ini lahir tanpa bapak." Jawab Riris, walau hatinya menginginkan Tomo yang meminangnya. Hatinya masih meragukan siapa ayah bayinya yang sebenarnya.


"Kalau boleh tahu, sampean kerja di mana? Berani menikahi anakku berarti berani memberi kehidupan yang layak," cecar Juleha sambil mengamati penampilan Bambang yang dandy dengan sisiran rambut klimisnya. "Ibu jangan khawatir, saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai suami untuk memberi nafkah lahir batin bagi Riris." Jawab Bambang. "Mas Bambang ini direktur perusahaan pengerah tenaga kerja yang terbesar di kota S, jadi soal biaya hidup, aku yakin bayiku tak akan kelaparan, Bu." Bela Riris yang disambut Bambang dengan senyum bangga.


Juleha menyadari kondisi dan situasi yang dihadapinya. "Apakah sampean tidak punya saudara atau keluarga dekat kok datang sendirian melamar anak saya?" Tanya Juleha dengan suara getir. "Maafkan saya Bu, saya yatim piatu sejak kecil dan saya anak tunggal tidak punya sanak keluarga." Jawab Bambang dengan tampang sedih.


Akhirnya Bambang dan Riris resmi menikah di KUA. Tiga hari setelah Riris menikah, Juleha datang ke kantor Polres melaporkan diri. Harry langsung memerintahkan anak buahnya menahan Juleha untuk memudahkannya hadir di Pengadilan Negeri menghadiri persidangan sebagai terdakwa.


Beldiq dan Anne sudah mendengar dari Ray bawa jadwal persidangan bagi Juleha telah ditetapkan. Surat pemberitahuan dan undangan dari Kejaksaan telah diterima lewat pengacara yang ditunjuk John untuk mendampingi Angelique Bethany Gulizar alias Palupi Tan Gulizar dan Anne Wilson. Persidangan akan diadakan seminggu menjelang acara perkawinan Beldiq dan Anne.


Beruntungnya seminggu sebelumnya John dan Ray telah mengurus perizinan dan kelengkapan dokumen yang diperlukan untuk pernikahan Beldiq dan Anne, karena mereka berstatus warga negara asing yang menumpang nikah di Indonesia.


Dalam menghadapi dan menyelesaikan kasus pidana yang melibatkan warga negara asing sebagai korbannya, Anne dan Palupi memohon kepada Kapolres agar kasus pencurian tidak terlalu dijadikan alasan utama dalam penuntutan, namun lebih ditekankan pada penculikan.


Anne dan Palupi diantar Ray dan John menemui Juleha di tahanan untuk mengetahui kondisi Juleha. Keduanya sebenarnya tak tega melihat Juleha yang menderita sakit parah. Namun, hukum tak mengenal kompromi. Secara tak sengaja Riris yang diantar Bambang suaminya menjenguk Juleha bertemu dengan Anne dan Palupi.


Melihat kedatangan Anne dan Palupi, Riris yang sedang menemui ibunya langsung berdiri dan dan menemui keduanya. "Nyonya, Palupi, maafkan saya. Saya salah telah berbuat jahat kepada Palupi." Riris langsung bersimpuh di hadapan keduanya. Juleha yang menyaksikan peristiwa itu hanya bisa menangis.


John yang melihat Riris, langsung naik emosinya. Namun sebelum meledak kemarahan John, tiba-tiba Bambang meraih bahu Riris untuk berdiri. "Maaf, Tuan. Perkenalkan, saya Bambang suami Riris. Kami baru seminggu menikah. Sekarang Riris menjadi tanggung jawab saya. Lagi pula Riris sedang mengandung anak kami. Maaf, isteri saya memang bersalah, saya mohon kebijaksanaan Tuan dan Nyonya untuk tidak menuntut isteri saya. Bukankah ibu mertua saya yang menjual kepada Tuan yang ternyata masih keluarganya Palupi?"


'Waah cerdik juga suami Riris yang berusaha menyelamatkan isterinya dari jerat hukum.' Batin Ray yang berdiri di dekat Anne. "So, apakah Riris masih jual diri?" Tanya Palupi blak-blakan. Pertanyaan Palupi sontak membuat wajah Bambang merah menggelap. "Maaf Nona, sekarang Riris sudah menjadi isteri saya, maafkan dia. Riris sudah mengakui kesalahannya. Dia sudah bersumpah tak akan melakukan lagi kesalahan seperti di masa lalu." Riris menangis dalam pelukan suaminya. "Apakah anda tidak tahu, orang yang anda sebut isteri ini, tega menjual keperawanan saya kepada orang asing? I'm not a floozy, you're a whore!" Teriak Palupi menuding Riris dengan emosional.


Harry yang kebetulan melihat kericuhan yang terjadi di ruang bezoek tahanan memerintahkan anak buahnya agar membawa kembali Juleha ke dalam sel tahanan dan menyuruh tamu yang berkunjung meninggalkan lokasi.


Harry segera menelpon Ray agar membawa rombongannya ke ruang kerjanya. Harry menyambut tamunya dan mempersilakan mereka duduk. John mengambil air mineral gelas yang ada di meja dan menyuruh Palupi minum untuk meredakan emosinya. Harry tersenyum melihat Palupi. "Sudah tenang?" Tanyanya, yang dijawab dengan anggukan. "Sudah Oom. Entah kenapa, tiba-tiba saja pingin memaki Riris." Cengir Palupi. "Baik, saya ingin bertanya kepada nona Gulizar, apakah akan menuntut Riris atas perbuatannya di masa lalu?"


Pertanyaan Harry membuat Palupi terdiam dan menoleh kepada Anne. "Mom, haruskah kita juga melaporkan Riris?" Tanya Palupi kebingungan. Di satu sisi, perbuatan Juleha yang dibantu Riris sudah melukai batin dan harga dirinya. Namun, di sisi lain Palupi menemukan fakta pengakuan Bambang, bahwa Riris sedang hamil. "Cukup sudah sayang, biar nyonya Juleha saja yang dihukum. Walau Riris juga jahat, tetapi saat ini dia sedang hamil. Mommy, sebagai seorang perempuan sekaligus juga seorang ibu, tidak tega karena Riris juga korban ketidakmampuan ibunya mendidik anaknya. Mommy bersyukur, kamu masih baik-baik saja. You're still a virgin now, my baby." Ucap Anne yg memeluk Palupi. Yakinlah sayang, suaminya akan mendidiknya. Saat ini dia juga dihantui oleh rasa bersalah." Tiba-tiba, "case close." Ucap John yang diikuti dengan tawa mereka.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


To be continued ๐Ÿ˜‰


Salam sayang, sehat selalu bahagia dan sejahtera always ๐Ÿ˜˜


mampir ke karya Rhuji yang baru tentang putri duyung yuk Mak ๐Ÿค—


kali ini mengisahkan tentang fantasiโ˜บ๏ธ