I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 76



PoV RIRIS


Aku Risnawati, putri kandung ibu Juleha. Aku dibesarkan bersama Palupi, saudara tiriku. Kata ibuku, Palupi adalah anak ibu dengan lelaki bule ketika ibuku bekerja di luar negeri. Saat itu, pacar ibuku lupa pakai pengaman, sehingga ibuku hamil di luar nikah. Tentu saja lelaki itu tak mau menikahi ibuku karena dia juga sudah punya anak dan isteri.


Usiaku hanya selisih dua tahun lebih tua dari Palupi. Bocah bule itu dibawa pulang ibuku dan menjadi adikku.


Terkadang aku sering dibuatnya jengkel dan iri, bila ibu diam-diam memberinya uang jajan. Aku sering merampasnya separuh, bila tak ketahuan ibu.


Ibu menyekolahkan aku bersama-sama Palupi. Aku sering dibikin geram karena Palupi selalu jadi juara kelas walau kelasnya dibawahku.


Ketika aku kelas 5 SD dan Palupi kelas 4 SD, dia sudah mewakili sekolahku untuk lomba cerdas cermat se kabupaten. Dia berhasil jadi juara umum dan membawa pulang piala untuk ditaruh di sekolah.


Ketika duduk di bangku SMA, Palupi menduduki peringkat 1 debat antarsekolah dalam bahasa Inggris. Aku tak sanggup mengimbangi kepandaiannya. Aku merayu ibuku agar Palupi yang mengerjakan semua perkerjaan di rumah, dari mencuci baju, menyapu dan mengepel, juga masak untuk makan kami sehari-hari.


Ternyata seburuk apapun aku menjahati Palupi, dia tak pernah menentangku. Dari kecil selalu kutekan bahwa adik harus nurut kepada kakak. Ibuku sering menegurku bila aku bertindak kasar kepada Palupi. Ibu menegurku saat Palupi tak ada di sampingku, sehingga dia tak pernah tahu bahwa ibu juga memperhatikannya. Aku iri dengan kecantikan juga kecerdasannya. Kulitnya putih dan lembut seperti sutra dan sering kucubit. Rambut pirangnya lebat bergelombang membuat banyak teman-teman sekolahku menyukainya. Aku sering membully dan mengatakan bahwa dia anak haram yang tak jelas bapaknya.


Aku semakin membenci Palupi saat duduk di kelas 11 SMA. Ketua OSIS yang kutaksir ternyata menyukai Palupi dan mengabaikan diriku. Padahal aku sering menraktir dia jajan di kantin. Aku semakin membenci Palupi. Sejak itu aku mulai merancang untuk menawarkan Palupi kepada mamih Santi sebagai penghuni rumah kacanya. Aku tak suka kepada Palupi yang masih virgin, sementara aku telah kehilangan virginitasku saat pelanggan ibuku memaksaku ikut minum hingga mabuk, dan saat bangun pagi aku sudah kehilangan kegadisanku. Sejak saat itu aku meniru dan mengikuti jejak ibuku.


Saking benciku pada Palupi, aku mau dia juga mengikuti langkahku. Terlebih saat itu ibu mengalami sakit di perutnya yang tak kunjung sembuh. Untuk berobat agar sembuh memerlukan biaya yang tidak sedikit, sehingga ibu bingungng. Agar punya uang untuk berobat ke rumah sakit, aku dan ibu membujuk Palupi serta berusaha menawarkan keperawanannya dengan harga yang tinggi seratus juta. Aku mulai melatihnya dengan menyuruh jadi pelayan di pub tempatku mengais duit. Mungkin dari situ Palupi dapat belajar sebagai murid dan aku gurunya. Ah, ternyata tak butuh waktu terlalu lama ada bule yang membelinya lewat temanku.


Aku pun juga dapat sugar daddy yang sangat menyayangiku. Laki-laki paruh baya pemilik perusahaan pengerah tenaga kerja. Dia tak segan memberi uang yang banyak, bahkan apapun yang aku minta pasti dibelikannya. Ya, Oom Bambang yang tak pernah puas bermain, sayangnya dia tak bisa bermain lama. Aku mulai merasa tak puas dengan sentuhannya, tetapi aku telah mendapatkan kepuasanku lewat mas Tomo, tangan kanan Oom Bambang, walau dengan cara sembunyi-sembunyi.


Aku ingin uang yang banyak karena aku tak punya kepandaian apapun selain jadi pemuas nafsu. Oom Bambang memberiku mobil bekasnya dan berjanji akan membelikan yang baru kalau aku berhasil membawa Palupi ke pelukannya. Profesiku sebagai lady escort sama sekali tak mendukungku dapat upah banyak sehingga aku memberi layanan plus plus agar dibayar tiga kali lipat.


Aku tak sepandai Palupi dan tak secantik dirinya. Aku harus menang dan menaklukkan Palupi menjadi sumber penghasilanku. Tetapi sayangnya, di rumah sakit, Palupi memperkenalkan pasangan bule sebagai orang tuanya. Ah, mungkin ibu sudah menjualnya kepada pasangan itu? Karena mereka yang membiayai ibu berobat, bahkan sampai ke luar negeri. Betapa beruntungnya Palupi, dan aku kembali kena sial. Tambah lagi Oom Bambang menolak Palupi dan mengancam ku bila aku mencelakai Palupi. Ada apa ini sebenarnya? Mas Tomo pun melarang ku mengejar Palupi.


Sekarang Palupi sudah tidak pulang kembali ke rumah. Dia telah tinggal dengan perempuan jadi-jadian yang sangat cantik. Seribu satu cara aku mendekati Palupi agar aku dapat menjadikannya seorang pela*cur, tetapi masih juga tidak berhasil. Bahkan sekarang punya body guard yang bukan kaleng-kaleng. Body guard dengan badan kekar dan gagah.


Ibu sekarang sudah kembali sehat, namun justru sudah sehat itu, membuat aku kecewa karena ibu menamparku dengan keras saat ku utarakan keinginanku menjadikan Palupi sebagai penghuni rumah kaca. Kini aku semakin kecewa. Beban hidupku semakin bertambah. Ibuku sudah tak bisa lagi bekerja seperti biasanya, sehingga tak punya penghasilan. Simpanan uang pun semakin menipis. Ibu tetap pada keputusannya bahwa aku tak boleh menyentuh dan mengganggu Palupi.


Hanya kepada mas Tomo aku mengadu. Dia laki-laki yang kuharapkan menjadi suamiku. Aku sudah memberikan segalanya kepada mas Tomo. Bahkan uang yang kudapat dari Oom Bambang kuberikan sebagian untuknya. Kini aku harus bekerja lebih keras lagi mengumpulkan uang untuk biaya hidup sehari-hari. Aku harus mendapatkan lelaki yang berdompet tebal. Aku harus punya trik agar mereka kaum lelaki yang memakai jasaku memberi imbalan besar. Aku ingin seperti putri pejabat yang tak pernah pusing kekurangan uang. Andai nasibku semanis nasib Palupi.


Jujur, aku masih dibikin bingung dengan Palupi. Sekarang ibu sudah tak mendukungku. Siapa sebenarnya Palupi itu? Bukankah dia pantas jadi penghuni rumah kaca? Aku harus mencari cara dan waktu yang tepat untuk menggiring pulang Palupi. Aku yakin Palupi mau pulang, karena biar bagaimanapun ibu adalah ibu yang sudah melahirkan, membesarkan dan mendidiknya sampai sekarang.


Semoga rencanaku berhasil. Semoga tidak ketahuan tuan Ray yang tampan tapi punya isteri yang sangar, padahal dia seorang dokter. Mungkin pengawalnya Palupi bisa ku suap dengan tubuhku yang aduhai ini. Jadi rencanaku dapat berjalan mulus.


PoV end *******


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Di apartemen, Liana sudah bangun pagi-pagi. Dia sudah menyiapkan outfit yang sesuai untuk Palupi. Semalam Liana sudah buat janji dengan pemilik salon agar pagi ini Palupi diberi perawatan rambut dan wajah. Liana ingat bahwa John akan membuat kejutan bagi Palupi. Romantic dinner sudah terkonfirmasi pukul 19.30 bagi pasangan yang dimabuk asmara tapi enggan mengakuinya. 'Semoga semua berjalan lancar sayang. Sudah waktunya Gulizar bahagia,' batin Liana sambil mandi.


Palupi yang terbangun kemudian merasa bingung melihat kamar tidurnya. 'Aku di mana? Eh, aduh... kok lupa ya. Ini kan kamar Liana.' Cengir Palupi saat tersadar dia berada di kamar Liana.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


To be continued ๐Ÿ˜‰