I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 49



Kehancuran Liana beriring dengan penghianatan seorang kekasih, suami dan sahabat yang selama ini telah mengisi hidupnya.


Kegagalan membina rumah tangga sesama jenis, membawanya ke sebuah penyesalan dan patah hati.


Di rantau hanya Miss Maria tempat ia mengadu dan mencurahkan semua tentang cerita hidupnya.


"Liana, semua insan tidak luput dari masa lalu termasuk aku dan kamu."


"Keluarga adalah tempat paling nyaman untuk berbagi. Keluarga bahagia adalah surga yang datang lebih cepat. Jangan takut mencoba hal yang baru, gapailah impianmu. Tapi ingatlah, tak peduli ke mana kamu pergi, keluarga adalah tempatmu kembali. Ibarat bangau terbang tinggi, pada akhirnya tetap kembali ke sarangnya. Keluarga adalah tempat terbaik untuk kita belajar tentang hakikat hidup berumah tangga, yang di dalamnya ada kebaikan dan pengorbanan."


"Kekuatan sebuah keluarga, mirip seperti kekuatan tentara, yakni terletak pada kesetiaannya satu sama lain. Keluarga, seperti sebuah cabang pohon, kita semua tumbuh ke arah yang berbeda, namun akar kita tetap satu." Tidak bosan-bosannya Maria memberi nasihat kepada Liana yang sedang galau dengan peristiwa yang menerpanya dan berujung pada keinginannya untuk bercerai.


"Cici, aku takut dengan kondisiku ini, mereka akan menolak kehadiranku di tengah tengah mereka." Liana tertunduk lesu.


"Sedangkan, Andre tempatku melabuhkan harapan dan kelak kami menua bersama, ternyata dia hanya benalu yang selama ini tanpa aku sadari."


"Hik...hik...hik..." Isak Liana kembali. "Kondisiku saat ini sangat buruk di mata keluargaku Ci... Papaku tidak akan dengan mudah menerimaku begitu saja."


Maria menggenggam erat tangan Liana, "puaskan hatimu menangis dan merenungi jalan hidupmu Liana, akan tetapi jangan larut untuk menyesali apa yang telah terjadi.


Tidak akan ada kebangkitan seseorang bila hanya terpaku pada masa lalu. Hanya dengan bangkit, akan terwujud dari keberhasilan yang mereka ukir."


"Semangat Liana, kamu Liana yang kuat. Cici akan tetap berada di sampingmu, apapun yang terjdi."


"Cici..." Tangis Liana semakin deras dalam pelukan maria, tidak dipungkiri Maria dengan Liana memang saling membantu, dan saling menopang satu sama lainnya, baik dalam bidang bisnis maupun keluarga.


"Baiklah Cici, aku akan melupakan Andre dan si pelakor Sherly. Aku akan kembali ke Indonesia dan merintis bisnis fashion di sana."


"Liana... Please Liana....!"


Belum juga selesai perbincangan mereka tiba-tiba pintu di buka dengan kasar.


Seorang asisten Maria datang dengan ketakutan memberikan keterangan tentang Andre yang begitu saja masuk tanpa menghiraukan larangannya . "Maaf nyonya, kami tidak mampu melarang tuan Andre untuk tidak mengganggu nyonya bersama Miss Liana."


"Sudah, tidak apa! Keluarlah dan biarkan Andre di dalam." Maria menjawab asistennya dengan kata-kata lembut, untuk mengaburkan permasalahan yang sedang mereka hadapi.


"Andre, berlakulah sedikit sopan! Bagaimana pun juga kamu adalah tamu di sini, dan jangan pernah melibatkan para asistenku untuk memaksa segala problem kalian. Selesaikan baik-baik masalah kalian, kerena kalian adalah orang orang yang terpelajar. Harusnya paham di mana kamu saat ini berada Andre!" Dengan suara agak keras Miss Maria menegur Andre.


Andre yang mendapat teguran, langsung menangkupkan kedua tangannya di dada dan meminta maaf kepada Maria pemilik rumah.


"Selesaikan baik-baik masalah kalian, jangan berbuat sesuatu yang semakin mempermalukan diri kalian," Miss Maria berlalu dari ruangan , sambil mengusap tajam kearah Andre.


Andre jongkok di depan Liana dan memegang tangannya, "Liana... Maafkan aku! Aku khilaf, aku pria bodoh. Aku terhanyut oleh rayuan Sherly."


Dengan kesadaran penuh Liana melepaskan tangannya dari sentuhan Andre, "Andre... Aku sayang kamu, tetapi kita memang harus berpisah dan ini semua aku lakukan karena aku sangat mencintaimu. Tidak menutup kemungkinan kejadian serupa pernah terjadi terulang dan terulang beberapa kali."


"Teruskan hubungan kalian, kita sudah selesai. Bagiku sebuah penghianatan adalah akhir sebuah ikatan."


"Keluarlah dari sini sebelum aku berubah pikiran, aku tidak mau itu terjadi padamu."


"Kemana hati dan rasa sayang mu padaku, ketika kalian bercumbu, ketika kalian saling asyik menikmati, ke mana semua itu."


Liana menghapus air matanya. Disingkirkannya tangan Andre. "Pergilah Dre, kaupikir ini rumahmu? Seenak udelmu kamu nerobos rumah orang. Biarkan aku sendiri! Aku gak butuh manusia munafik sepertimu. Pergilah! Usir Liana kepada suaminya.


Tak lama masuklah dua orang satpam berdiri di belakang Andre yang masih jongkok. "Tuan Andre, silakan pergi dari sini, atau kami yang menyeret anda keluar." Gertak kedua satpam yang dipanggil Miss Maria karena khawatir Andre akan melakukan kekerasan kepada Liana.


Perlahan Andre bangkit berdiri. Hatinya takut juga bila sampai terjadi kemarahan Liana dan memberikan perintah dua satpam yang berwajah garang dan bertumbuh besar itu.


"Aku pergi Liana, jangan tinggalkan aku, tanpamu aku lemah sayang." Andre berlalu dari ruangan itu, melangkah dengan terburu-buru menuju mobilnya yang diparkir di halaman luas milik Miss Maria.


Sementara itu setelah Andre berlalu dari pandangan matanya, tangis Liana kembali tergugu tangannya mengepal kuat hingga terlihat kemerahan dalam rongga jari jemarinya.


'Aku Liana, aku punya jiwa besar untuk bangkit kembali, aku harus kuat'


Pintu terbuka, tidak lama muncullah Miss Maria dengan senyum lesung pipinya, mendekat dan duduk di samping Liana.


"Sudahlah...! Akhirnya kau tahu sendiri kwalitas sahabat dan kekasih yang selama ini begitu kau sayangi, mereka adalah pecundang. Liana.... Ayo bangun kembali.


Kau tidak layak untuk bersedih ataupun menyesali ynag telah terjadi."


Miss Maria mengulurkan black card pada Liana, "Pulang! Dan rintislah semua yang pernah kuajarkan. Kembangkanlah ilmu telah kau dapat dan tekuni selama ini. Pengetahun yang kau kuasai hasil dari kuliahmu di Institute of Fashion Technology, Beijing, China, sudah waktunya kamu aplikasikan dan kembangkan di negerimu sendiri."


Liana terpana saat diingatkan Miss Maria tentang kewajibannya untuk mempraktikkan ilmu yang sudah diraih dan dikuasainya. "Aku mendukungmu."


"Cici...." Semakin deras air mata itu berjatuhan, rasa haru, bahagia berbaur jadi satu.


"Jangan cengeng. Bangun Liana. Ayo semangat dan segera lakukan semua mimpimu!"


Miss Maria menyemangati Liana untuk bangkit dari keterpurukan yang kelak dapat menghancurkan hidupnya.


Liana memeluk erat Miss Maria, "aku berjanji, Ci. Akan kutunjukkan kepada dunia bahwa aku Liana, mampu berdiri dengan tegak sekali pun tanpa kekasih."


Miss Maria tersenyum melihat semangat yang tiba-tiba menyeruak dan membuat wajah Liana kembali bersinar. Hatinya bahagia, tak sia-sia dia menyemangati bunga yang hampir layu karena ulah pasangannya yang tak tahu diri.


"Cici..., terima kasih ya, kau selalu ada saat kuterpuruk dan saat kudihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan. Aku bahagia punya Cici yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Cici bukan sekedar mentorku. Aku menemukan kasih seorang ibu dalam dirimu." Mereka hanyut dalam sebuah pelukan.


TBC....


Liana... tetep semangat yah cuyung,🤧 aku yakin kok disini banyak netizen yang sayang sama kamu...


so.. you've to be strong jangan mewek yah🤧 nanti takutnya emak-emak marahin Rhuji 🥺.


Sambil menunggu up chapter berikutnya, yang masih mengenai cerita Liana, mampir ke karya kawan Rhuji yuk bestie😉, jangan lupa like jempolnya, favorit and then komen membangun 👍.