I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 83



Diskusi cukup alot antara John dan Ray dengan Harry dalam menentukan sikap untuk melangkah lebih lanjut terkait kasus Juleha. Harry sebagai aparat penegak hukum tidak bisa begitu saja membiarkan tersangka bebas. Status Juleha sudah menjadi tersangka.


Proses hukum tetap akan berjalan. Harry menjelaskan bahwa Juleha terkena pasal berlapis, yang sangat memungkinkan Riris anaknya pun akan ditangkap karena sudah melakukan human trafficking terhadap Palupi. Mereka secara sadar telah melakukan pelanggaran HAM.


"Begini lho maksud saya, jangan dulu dimasukkan ke ruang tahanan di kantor Polisi, karena kondisi bu Juleha saat ini sangat lemah dan rentan. Bila ditahan, konsekwensinya akan berat biaya yang akan ditanggung pemerintah untuk perawatan dan pengobatan." Urai Ray tentang maksud John, agar Juleha tetap dikenakan tahanan rumah.


Akhirnya Harry setuju dengan usulan John, setelah mempelajari laporan kesehatan Juleha yang dibuat oleh pihak rumah sakit yang dibawa Ray.


Sambil menunggu proses yang sudah naik ke pengadilan, Harry telah menempatkan dua orang anggotanya untuk selalu jaga bergiliran mengawasi aktivitas Juleha agar tidak melarikan diri. Sementara itu Juleha yang sudah sadar akan kejahatannya hanya pasrah. Tak ada keinginannya untuk melawan. Dia sebagai seorang ibu hanya dapat mengkhawatirkan keselamatan Riris, anak kandungnya.


Di kota M, Riris dan Bambang selalu berbagi peluh setiap ada kesempatan yang memungkinkan bagi mereka untuk melakukannya. Seusai berbagi peluh, Riris yang sudah merindukan Tomo, mulai rewel dan mengajak Bambang pulang. "Oom sayang, kita pulangnya kapan ya? Tadi waktu Oom rapat, aku jenuh di kamar terus." Rengeknya dengan manja. "Ini, kartu ATM, pinnya lima enam kali. Pergilah ke Mall di seberang. Tapi ingat, belilah apa yang kau butuhkan seperlunya." Ujarnya sambil memberikan kartu. Senyum lebar langsung terukir di bibir Riris. "Makasih ya Oomku yang paling ganteng."


Tak menunggu lama, setelah mandi dan berdandan, Riris melesat ke Mall yang tak jauh dari hotel tempatnya menginap. Dengan santai dia berjalan dan masuk ke sebuah cafe yang berada di sayap depan Mall. Duduk sambil menikmati Macchiato, dan cuci mata melihat lalu lalang orang di bawahnya. Tiba-tiba matanya menangkap sosok lelaki dari masa lalunya. Mata mereka saling bersirobok, membuat lelaki itu terkejut. Dia memincingkan mata untuk memastikan bahwa yang duduk di cafe itu adalah Riris.


"Hai, Ris." Tegur pria itu sambil naik ke lantai Cafe. "Betul kan, kamu Riris?" Sapanya lagi sambil tersenyum. "Apa khabar, Wan? Kamu sekarang tinggal di kota ini?" Tanya Riris. Iwan pria masa lalu Riris yang sudah membeli keperawanan Riris seharga dua puluh juta.


"Kamu dengan siapa di sini?" Tanya Iwan sambil duduk di sebelah Riris. "Aku diajak Boss Ku. Menemaninya rapat di kota ini," jawab Riris dengan senyum-senyum. "Sekarang tubuhmu makin sintal Ris," goda Iwan sambil menoel pipi Riris. Seorang pelayan mengantarkan Americano coffee pesanan Iwan saat masuk cafe.


Sambil menyesap kopinya, Iwan melirik tubuhnya Riris yang padat berisi. "Ris, melihatmu tiba-tiba aku ingin mengulang kenangan kita dulu," sambil senyum mesum Iwan merayu Riris sambil mengelus pahanya. "Tak semudah itu Wan, tarifku dua puluh lima untuk short-time," ujar Riris bermaksud menolak. "Wow, luar biasa." Sahut Iwan.


"Jangan anggap sepele profesiku. Aku seorang Lady Escort. Tentunya kamu sudah tahu, jika kamu seorang pengusaha." Jawaban telak Riris tak menyurutkan niat Iwan. "Deal, kita ke hotel sekarang." Sambar Iwan yang sudah tak sabar, karena belutnya meronta. Terbit senyum kemenangan di bibir Riris. Tak ada ruginya dia moroti uangnya Iwan, toh hanya bermain sebentar. Dengan senyum smirk, Riris berjalan menggandeng Iwan, sambil menunggu Bambang selesai rapat.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Dering ponsel dokter Anita berdering saat memeriksa pasiennya. "Sebentar ya Bu," ujar Anita yang menggeser tanda hijau di ponselnya, "Iya Mas, bisa tunggu lima belas menit? Masih ada pasien." Kemudian mematikan ponsel dan menaruhnya di meja. Dokter Anita melanjutkan tugasnya memeriksa pasien dan memberi resep untuk ditebus.


"Yaaang, kita makan siang di luar yuk. Mumpung Mas sedang ada waktu luang. John tadi sudah kabur ngejar cintanya. Aku ditinggal sendiri." Adu Ray yang disambut kekehan isterinya. "Ya udah, Mas jemput aku ya, sekarang aku keluar nunggu di lobby rumah sakit." Jawab Anita sambil mengakhiri percakapan mereka.


Sementara itu, John naik taxi online menyusul Beldiq yang makan siang bertiga di sebuah restoran chinese food. Liana hanya mengantar mereka bertiga ke restoran, kemudian memacu mobilnya karena sudah ditunggu calon client di butiknya yang akan memesan gaun pernikahan.


John tersenyum saat memasuki restoran dan melihat kekasih hatinya sedang makan. Pelan-pelan ditariknya kursi dan duduk di sebelah Palupi yang sedang asyik mengupas udang. Ketika tangannya akan menyuap tiba-tiba ditarik dan udang masuk ke mulut John. Beldiq yang melihat ulah John hanya bisa geleng kepala. "Iihh, John..., iseng banget...," protes Palupi. "Ups, sorry honey, aku lapar," sahut John sambil nyengir.


Tangannya melambai ke arah pelayan untuk memesan makanan, kemudian mencuci tangan di wastafel. John kembali duduk dan membantu Palupi mengupas udang, lauk favoritnya. Tak lama pelayan menyajikan udang bakar madu ukuran besar dan nasi campur kesukaan John. Lidah John sudah terbiasa makan nasi sejak tinggal di Indonesia.


Selesai makan siang bersama, John minta izin kepada Anne untuk diajak pergi. "Boleh diajak pergi, tapi John, Gulizar masih terlalu kecil. Jangan sentuh dia, jangan ajari hal-hal yang aneh. Beri dia kesempatan menikmati masa remajanya. Berjanjilah! Deal?" Ucapan tegas Anne membuat kedua lelaki itu mengeryitkan kening.


"Yes!" Sambut Beldiq sambil tertawa, sedangkan John tersenyum masam. "Trust me, Madam." Sahut John sambil mengangkat dua jarinya. Wajah Palupi merona saat John dan mommynya saling berjanji.


Beldiq berbisik kepada John, "aku dulu pacaran dengan mommynya Gulizar pun tetap menjaga kehormatannya karena dia masih virgin. So, jaga permatamu dengan baik. Aku tahu kalian sudah saling jatuh cinta. Tetap jaga kepercayaan yang diberikan orang tuanya kepadamu."


"Okay Brother." Janji John kepada Beldig, dengan menghela napas dan tersenyum. John merangkul bahu serta mengecup pucuk kepala Palupi di depan Anne dan Beldiq. Kedua calon mertuanya hanya dapat geleng kepala melihat ulah John. Palupi langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu.


"Kita kembali ke hotelku dulu John,dari sana kamu bisa pakai mobil yang kusewa, karena tadi kami diantar Liana," ujar Beldiq, agar John dapat pacaran tanpa kesulitan dengan alat transportasi.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


To be continued πŸ˜‰


Salam Sayang Selalu By; RR 😘