
Setelah tiga hari Bambang baru berani bercerita kepada isterinya, bahwa dia menghamili seorang gadis. Laila, isteri Bambang duduk termangu setelah menerima pengakuan dari suaminya. Sebagai seorang isteri, hatinya terluka. Lima belas tahun perjalanan pernikahannya dengan Bambang belum juga dikaruniai keturunan. Sekarang, dirinya merasa gagal sebagai perempuan. Terngiang dalam benaknya, percakapannya dengan sang suami.
"Aku harus menikahi gadis itu, Laila. Dia hamil anakku." Ucap suaminya membela diri. "Tetapi kenapa, Mas? Apa yang kurang dariku?" Bantah Laila sambil menangis. Ada rasa bersalah, saat Bambang berusaha berkata jujur. Namun, semua sudah terjadi. Laila sudah berusaha dengan berbagai cara agar bisa hamil, namun Tuhan belum memberinya kesempatan.
Agaknya suaminya tak puas karena hanya punya anak adopsi yang sah secara hukum, yang diangkatnya saat usia perkawinannya yang kesepuluh tahun, dengan mengambil salah satu anak kandung kakaknya Laila sejak bayi. Laila dan Bambang pun menyayangi Dondi putra angkatnya dengan tulus. Tak ada yang tahu status Dondi kecuali mereka berdua dan kakak laki-lakinya Laila. Namun agaknya, Bambang masih mengharap punya anak kandung sendiri.
Laila, wanita tipe yang setia kepada suami, akhirnya memberi izin sang suami menikah lagi karena sadar tak bisa memberi keturunan, dengan syarat sang suami berlaku adil, tidak mengganggu harta milik mereka. Artinya, Riris harus mau hidup dari gaji suami dan tidak berhak atas harta bersama Bambang dan Laila, termasuk perusahaan milik Laila yang dikelola Bambang.
Uniknya, perjanjian suami-isteri itu dibuat di hadapan Notaris. Laila terpaksa melakukan itu yang bertujuan melindungi diri sendiri dan putra angkatnya dari keserakahan sang suami dengan isteri barunya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Riris diantar pulang oleh Bambang ke rumah Juleha setelah lebih dari seminggu menemani Bambang. Juleha terkejut karena anaknya tak pernah membawa laki-laki pulang menemuinya. "Silakan duduk Pak." Juleha menyilakan Bambang duduk karena Riris langsung masuk tanpa berkata apa-apa. "Perkenalkan Bu, saya Bambang. Saya ingin melamar putri Ibu untuk menjadi isteri kedua saya."
Jedeeeeeerrr...
Bagai suara guntur di siang bolong, ucapan Bambang menghantam pendengaran Juleha.
"Sampean sadar Pak? Tiba-tiba, tanpa ba bi bu, datang-datang melamar anak orang?" Emosi tubuh rentan itu meluap. Tiba-tiba Juleha berteriak, "Ririiiiis!" Teriakan Juleha memancing Pak RT yang sedang lewat di depan rumah Juleha. Tergopoh-gopoh dia berlari dan masuk ke dalam rumah Juleha.
Pak RT sebagai pengurus lingkungan terkejut melihat Juleha lunglai dipeluk Bambang. "Heh, sampean siapa? Bu Juleha kenapa?" Cecar pak RT. Riris yang mendengar teriakan ibunya berlari ke ruang tamu. Dia kaget melihat Bambang memeluk ibunya, dan pak RT yang berdiri dekat ibunya. Perlahan Bambang menyandarkan tubuh Juleha, "tolong ambilkan minum, Ris!" Perintahnya.
Setelah memberikan air minum dan Juleha mulai tenang, akhirnya pak RT pergi karena tak nyaman bila terlibat dalam urusan rumah tangga warganya. "Riris antar ibumu istirahat," perintah Bambang tegas. Tak berani membantah, Riris lalu menuntun ibunya berdiri. Belum sempat masuk, tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
Tok... tok... tok..., permisi.
Dua orang polisi berdiri di depan pintu. Bambang kaget melihatnya, "Iya Pak, mau cari siapa?" Tanyanya dengan kebat-kebit. Ada rasa khawatir di hatinya jangan-jangan isterinya melaporkan ke Polisi. "Kami mendapat tugas dari komandan untuk menjemput ibu Juleha.
Mendengar nama ibunya disebut, Riris terkejut. "Hah, ada apa ini?" Tanya Riris sambil mendekat. "Izinkan kami menemui ibu Juleha." Jawab Polisi tersebut. Bambang menyilakan kedua polisi itu masuk dan menemui Juleha yang masih duduk di ruang tamu.
Bambang yang sudah tahu bahwa peristiwa ini pasti terjadi karena sudah tahu kisah yang sebenarnya dari sahabatnya yang bekerja di Polres. "Kami ditugaskan mengantar surat panggilan untuk ibu Juleha. Mohon kerjasamanya ya Bu. Silakan dibaca." Juleha menerima surat itu dengan tangan gemetar. Riris kebingungan dan bertanya kepada ibunya, "Bu, ada apa sebenarnya? Kenapa Ibu harus ke kantor polisi?" Tanya Riris panik.
Riris yang tak terima ibunya dipanggil menghadap polisi, langsung protes kepada ibunya. "Ada masalah apa sih, Bu?" Tanyanya tak sabar. Juleha tak menjawab, justru bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamar. Bambang yang melihat kondisi Juleha, menghentikan Riris yang berusaha mengejar ibunya. "Ris, sabar. Beri waktu ibumu menenangkan diri." Ucap Bambang.
Keesokan harinya, Riris yang terkena 'morning sick' tak berhenti muntah. Juleha yang mendengar anaknya muntah-muntah segera bangun dari tidurnya. "Kamu kenapa, Nak?" Sambil membuka pintu kamar mandi.
Melihat kondisi Riris, Juleha langsung curiga. "Kamu hamil, Ris?" Riris terkejut, "a... aku..., ah... nggak Bu. Aku cuma masuk angin." Kilahnya takut ibunya marah. Badannya tiba-tiba hilang keseimbangan. Beruntung Juleha berdiri didekatnya. Juleha menangkap badan Riris dsn menuntunnya kembali ke tempat tidur. Melihat gelagat Riris, Juleha langsung menelpon tetangganya yang bidan untuk memeriksa Riris. Dari hasil pemeriksaan itu, Riris tak mampu mengelak. "Jadi, kamu hamil dengan laki-laki yang kemarin datang dan melamarmu? Astaga Riiis..., kok ya kamu itu gak bisa jaga diri. Kenapa Riiis? Tangis Juleha meratapi kebodohan anaknya.
Riris terdiam mendapat cecaran ibunya. "Aku sebenarnya mau menggugurkan bayi ini, Bu. Tapi mas Bambang mengancamku. Aku akan dipenjara kalau berani membuang bayi ini," tangis Riris. "Anak bodoh. Jangan berbuat dosa, Nak. Cukup ibu saja yang di penjara." Keduanya bertangisan sambil berpelukan.
Setelah reda dari tangis, Riris menanyakan tentang kedatangan dua aparat kepolisian ke rumahnya. Juleha menarik nafas dalam-dalam. "Semua itu salah ibu, Nak. Kalau ibu tak terbawa emosi ingin kaya, ibu tak akan menjadi pencuri dan penghancur rumah tangga orang lain." Kembali air mata Juleha menetes. "Ibu sudah masuk DPO Interpol karena kasus penculikan bukan pencurian." Ujar Juleha sambil mengusap air matanya. "Haah, apa Bu? Penculikan? Siapa yang Ibu culik?" Tanya Riris terkejut.
"Apa kamu lupa dengan pasangan bule yang datang menengok ibu di rumah sakit? Itu orang tua kandungnya Palupi. Ibu yang menculiknya ketika Palupi masih kecil. Niat ibu hanya mencuri tas berisi perhiasan milik ibunya Palupi, tetapi penumpang kapal mengira ibu adalah pengasuh Palupi, jadi ibu menggendongnya dan membawanya masuk ke kamar crew kapal karena ibu bekerja di kapal pesiar itu." Mendengar pengakuan ibunya, Riris sontak gemetar. Tak disangkanya ternyata Palupi bukan saudara tirinya.
"Bu, aku takut. Bagaimana nantinya kalau polisi juga menangkapku?
Kita sudah menjual Palupi kepada Tuan orang asing itu, Bu." Tangis Riris kembali pecah setelah tahu kebenaran status Palupi. "Aku gak mau di penjara Bu, hu... hu..., hu..., aku sedang hamil." Tangisnya Riris tersedu-sedu.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
To be continued ๐
Salam sayang, sehat selalu bahagia dan sejahtera always ๐
mampir ke karya Rhuji yang baru tentang putri duyung yuk Mak ๐ค
kali ini mengisahkan tentang fantasiโบ๏ธ