I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 57



Palupi dan keluarga barunya tiba di kota tempat penghasil kerajinan tas-tas kulit dan berbagai souvernir yang terbuat dari bahan baku kulit. Tempat ini adalah tempat pertama yang mereka kunjungi. Sopir yang sangat kompeten dan bertanggung jawab dengan tugasnya, menemani Anne dengan Beldiq dan Palupi sebagai pemandu mereka.


Walaupun ia kurang paham banyak tentang seluk-beluk area mana yang akan mereka kunjungi, namun setidaknya Liana sudah pernah mengajak dan membawa Palupi ke beberapa tempat di daerah itu untuk ia kunjungi.


Anne asyik melihat dengan takjub hasil produksi kerajinan dari desa T di kota S itu. Dia terkesima dan tak henti-hentinya mengagumi dan berkata, bahwa semua hasil karya kerajinan di kota ini tidak jauh berbeda dengan yang mereka dapati di negaranya.


Hasil karya kerajinan dari Desa T di Kota S ini merupakan jenis komoditas ekspor dari Indonesia yang diimpor oleh importir negara Inggris sebagai bentuk realisasi perjanjian dagang bilateral antara negara Indonesia dengan negara Inggris. Tentunya harganya jauh lebih murah di negara asalnya dibandingkan di Inggris.


Sedangkan Albert bersama Zaki juga tidak jauh dari posisi mereka, Palupi yang dari tadi juga serius melihat lihat di dalam pertokoan, tidak menyadari sepasang mata tajam mengamati mereka dari tempat yang tersembunyi yang tanpa henti mengikuti setiap gerak-gerik Palupi.


Dia adalah Tomo, yang kebetulan juga berada di tempat tersebut. Tomo sedang mendampingi kekasih gelapnya mencari beberapa souvernir untuk dibawa ke negeri tempatnya bekerja sebagai oleh-oleh untuk majikannya.


"Sayang... Kamu di mana?" Suara lirih Tomo memanggil Riris lewat ponselnya. Saat itu Riris sedang duduk di cafe yang berseberangan dengan bag's and wallet store.


"Mau ke mana, atau bagaimana bukan urusanmu mas. Bukannya mas sudah dengan wanita ganjen yang juga banyak duit itu kan? Untuk apa mencariku lagi?" Ketus jawaban Riris berikan pada panggilan Tomo.


"Ishh..., dengarkan dulu, ini penting sayang, aku bertemu dengan Palupi adikmu yang pernah kamu ceritakan itu. Dia sedang bersama dua bule, sepertinya mereka sedang belanja barang mahal di toko kerajinan ini." Tomo melanjutkan kata-katanya, dan sepertinya Riris mengerti apa maksud dari cerita Tomo.


"Mas ikuti saja gerak-gerik mereka, lalu kasih tahu ke Riris. Sebentar lagi kita akan membuat strategi untuk mengambil kembali Palupi, dan dia harus aku antar ke mama Santi, untuk menjadi penghuni wisma Gembira Ria milik mama Santi." Riris seakan lupa dengan kemarahannya atas sikap Tomo padanya. Kini sikap Riris berubah haluan dengan ide-ide gilanya untuk memaksa kembali mendapatkan Palupi.


Seorang wanita dengan dandanan menor tidak beda jauh penampilannya dengan Riris, dengan leher dan tangannya dipenuhi perhiasan dan aksesoris, mendekati Tomo, "mas... Terima telpon dari siapa...? Sepertinya serius sangat, sampai sampai panggilanku tidak mas dengarkan." Gerutu wanita itu lalu menggelayut ke lengan Tomo.


"Sayang, kali ini kamu pulang dulu ya. Soalnya aku sedang ada tugas dadakan oleh pak Bambang, kamu Tahukan pekerjaan mas apa? Jadi kamu harus nurut sama mas, hmm," Tomo memulai rayuan mautnya pada wanita menor itu, dengan maksud ia akan membuntuti mobil yang akan Palupi tumpangi pergi.


"Baiklah mas, tapi awas! Kalau mas lupa pulang lagi, akan kugunting cucakrowo mas Tomo itu dan akan menjadi burung pipit seketika." Ancam wanita itu sambil membulatkan matanya seolah-olah memberikan rasa takut kepada Tomo.


Sedangkan Tomo yang mendengarnya, hanya bisa nyengir kuda saja, tapi dia tetap menuruti kemauan si wanita tersebut asalkan ada fulus yang mengalir, apapun bisa jadi. Wanita itu segera meninggalkan Tomo dan tidak lupa meninggalkan beberapa lembaran warna merah di atas meja sebelum melangkah pergi. Dengan kecupan dan pelukan mesra, Tomo melepas kepergian wanita itu dengan taxi online yang ia pesan beberapa saat lalu.


Tomo dengan cermat mengikuti ke mana arah mobil itu melaju, saat tiba di stopan traffic light, Tomo menggunakan kesempatan itu untuk menelepon Riris, dengan menggunakan bluetooth wireless headset.


"Sayang... Mereka sepertinya sedang menuju ke dalam kota. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Riris yang menerima panggilan telepon dari Tomo, tetap mendengarkan penjelasan dari Tomo. Ia melebarkan senyumnya dan merasakan bahwa keberuntungan sudah ada di depan mata.


"Mas, ikuti saja ke mana mereka pergi. Jangan mendekatinya, sebab Palupi saat ini sedang dalam pengawalan bodyguard. Jadi mas mengamati saja dari jauh. Aku ingin tahu di mana dia bertempat tinggal. Selebihnya biarkan aku sendiri yang melakukannya."


Tomo menguntit mobil yang ditumpangi Palupi dalam jarak dekat. Perbuatan dan cara Tomo yang menguntit, mulai terbaca gerak-geriknya oleh Albert tanpa disadari oleh Tomo. Karena mencurigai gelagat anehnya Tomo, Albert dan Zaki yang masing-masing juga naik motor Kawasaki Ninja dengan helm fullface pelan-pelan memepet motor Tomo menepi dan mengurangi kecepatan, sehingga mobil buruan Tomo lepas dan hilang dari pandangan Tomo.


'Oh... Sialan, lepas deh buruanku. Ini siapa sih sok jagoan banget mepet-mepet aku?' Gerutu Tomo saat sadar mobil yang ditumpangi Palupi dan keluarganya sudah tak terjangkau untuk dikejar. Dengan perasaan dongkol Tomo balas memepet Zaki, tapi justru Tomo tersentak kaget saat Zaki menggeber motornya. Melihat postur tubuh Zaki yang kekar dengan menaiki motor yang lebih besar, langsung ciut nyali Tomo. Zaki dan Albert langsung memacu motornya dengan kencang mengejar mobil yang membawa Palupi.


Sementara itu Tomo yang kehilangan buruannya, dan takut mendekati kedua motor gede itu, akhirnya membuat Tomi kembali ke kantornya. Dia enggan menemui Riris karena tak mau dianggap tak becus mengerjakan tugas dari Riris. Dalam benak Tomo sendiri sudah tersusun rencana dan agenda untuk menangkap Palupi untuk kepentingannya sendiri.


Tomo yang sedang membolak-balik dokumen calon TKW tersenyum saat menemukan data calon korban yang sudah berhasil dia bawa jalan-jalan ke mall. Dia sudah membayangkan ppp berikutnya untuk menemukan cara menaklukkan dan memerangkap gadis desa yang sedang ikut pelatihan calon TKW. 'Ah, aku belum sempat menyentuh tubuh sintalnya. Aku baru membawanya jalan-jalan dan memanjakannya sudah kepergok Riris.' Keluh Tomo dalam hati.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


TBC ๐Ÿ˜‰


Sambil menunggu up chapter berikutnya, mampir ke karya kawan Rhuji yuk bestie๐Ÿ˜‰, jangan lupa like jempolnya, favorit and then komen membangun ๐Ÿ‘.


Salam Sayang Selalu By; RR