I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 68



Palupi terbangun di pagi yang mendung. Rintik hujan membasahi bumi. Dari lantai 15, Palupi melihat lalu lintas di bawah lewat jendela. Diamatinya aktivitas di kejauhan mobil dan motor, juga alat transportasi lainnya yang berlalu lalang di jalan raya. "Ihh lucu, seperti mobil mainan kalau dilihat dari atas." Tunjuknya sambil tertawa.


"Mandi dulu sayang, nanti kita sarapan di food court di lantai dasar ya." Liana mengingatkan Palupi yang masih asyik mengamati lalu lintas di jalan raya. "Kita akan pergi pukul berapa, Sist?" Tanya Palupi sambil mengambil handuk bersih di nakas dekat kamar mandi.


"Suka-suka kitalah. Mau langsung atau kita hunting sesuatu dulu." Ujar Liana sambil membuka lemari dan memilih baju untuk dirinya sendiri dan menyiapkan pakaian untuk Palupi. Liana memang sudah menyediakan pakaian termasuk under wear khusus untuk Palupi sesuai permintaan John, bila sewaktu-waktu Palupi menginap di apartemen Liana.


Keduanya sudah rapi dan cantik. Palupi mengenakan teneeger outfit yang pas dengan tubuhnya sehingga tampil sesuai dengan usianya. Liana merias Palupi hingga tampil modis sebagaimana layaknya putri seorang milyarder. "Wow, kenapa aku jadi beda penampilanku?" Palupi justru berdecak kagum dengan penampilan dirinya sendiri.


"Sist, ajari aku mematut diri dan merias wajah ya. Aku ingin tampil cantik nanti kalau ketemu John." Liana tertawa geli dengan reaksi Palupi saat berdiri di depan cermin besar. "Wah, kenapa tidak tampil cantik di depan mommy dan daddy, sayang?" Liana mencoba mengalihkan pikiran Palupi. Tiba-tiba,


Krrriing, krriiing.


Palupi mengamati ponselnya. Muncul permintaan video call dilayar ponselnya. Jarinya sudah fasih menggeser tombol terima, "Good morning sweety," sapa John. "Good morning too, eh... eh salah. Good evening," cengir Palupi saat tersadar bahwa di Nottingham sudah malam. "Wow, looks so beautiful, my lady," komentar John saat melihat penampilan Palupi yang segar. "Kok kamarnya beda? Gulizar sedang di mana?" Liana muncul di belakang Palupi, "Hi Boss, nona cantik menginap di apartemenku karena kami mau hunting sesuatu di mall siang nanti."


Rona kerinduan terpancar pada mata elang John Norman, Palupi yang mendapatkan sanjungan dengan tatapan yang menyejukkan rasa di relung hatinya dari orang yang diam-diam ia rindukan hanya tersipu. Semburat merah pada pipinya menambah keluguan yang ia miliki.


"Ceritakan hari-harimu sayang, kenapa kau hanya diam menatapku seperti itu, apa kau sudah sangat kangen padaku, hhmmm....?" John Norman semakin menggoda karena gemas melihat tingkah Palupi yang ia rindukan beberapa pekan ini.


"Sudah..., sudah tidak usah bilang begitu, dia gadisku saat ini yang lain lewat apalagi yang hanya lewat video call. Ledek Liana, "mana bisa kau colek pipi mengemaskan ini, ha...ha .ha...!" Tawa Liana dalam ejekan seolah dia senang sudah puas mengganggu mereka berdua yang sedang di mmabuk asmara Long distance relationship.


"Kamu...!" John melebarkan matanya dan dengan wajah menyeramkan menatap Liana yang menutup mulutnya masih tertawa puas.


"Baiklah, aku akan panggil orang untuk menggantungmu di gapura masuk villaku, nanti." Sungut John kesal dipermainkan oleh Liana, namun hatinya tertawa geli melihat tingkah Liana yang sudah bermetamorfosis ke dunia barunya.


Liana kabur dengan mencibir bibir sensualnya, "Oke oke... Maafkan, ruang privasi kuberikan padamu, tidak perlu menggantungku di bawah pohon kencur. Mana ada laki-laki yang akan tega menggantung wanita secantik aku? Yang ada mereka akan jatuh hari padaku, ha...ha...ha...." Liana berlari dengan gaya centil setelah puas menjahili John.


"John..., Liana sudah pergi ke ruang lain. Ihh, jangan sadis dengan dia, kasihan tahu..." Bela Palupi, sambil tersenyum geli melihat tingkah Liana yang tidak pernah berubah, bahkan seperti musuh abadi tapi saling memerlukan satu sama lain.


**Jadi ingat tom and jerry 🀭**


Waktu tidak terasa bergulir beberapa puluh menit. Lewat obrolan keduanya, mereka saling melepas rasa rindu. Mereka berbagi cerita, bercengkrama, walaupun hanya dapat saling pandang lewat video, namun rasa itu cukup terobati. Koneksi terputus saat Palupi mengakhiri obrolannya.


"Oke...kita berangkat, come on." Ajak Liana yang sudah rapi. "Apakah kita akan villa, Liana? John lusa pagi pada waktu Nottingham akan melakukan flight ke Indonesia." Palupi menceritakan pokok utama dalam percakapannya dengan John.


"Oh tentu sayang, ayuk!" Mereka masuk ke dalam lift menuju food court untuk sarapan sebelum pergi ke Mall. Dua potong sandwich plus vegetable salad dilengkapi milk shake dan americano coffee berhasil membuat perut keduanya kenyang.


Dalam perjalanan, keduanya kembali bercengkerama seperti tanpa beban apapun dalam keseharian mereka. Di dalam mobil mereka bernyanyi, memadukan irama dan isi hati mereka dengan musik yang Liana putar.


"Liana... Aku salut padamu. Begitu pahit kehidupan dalam cerita masa lalu mu, namun kau masih saja happy melewati semuanya. Kau sahabat sekaligus teman curhat yang paling baik yang kukenal selama hidupku. Aahh... beruntungnya aku." Palupi menoleh dan tersenyum lebar di sambut usapan tangan Liana.


"He..he..he... Apakah kau tidak marah bila aku bertanya sesuatu? Maukah kau menjawab pertanyaanku selanjutnya ini?"


"Tidak...tidak...! Aku tak akan marah padamu. Itu bukan sebuah alasan bagiku, katakanlah!" Laju mobil pelan dan berhenti sejenak karena traffic light.


"Eemm, jangan tersinggung ya. Apakah, kau tidak ingin mencari cintamu kembali, Liana? Apa kau tidak merasa kesepian dalam kesendirianmu? Sedangkan mereka yang sudah pernah mempunyai cinta, pasti akan mencari lagi bila kehilangan."


"Seperti Gulizar yang sedang menikmati indahnya rasa rindu pada John Norman, ha.. ha... ha..., begitukah maksudmu?" Liana memotong ucapan Palupi sambil tertawa ringan.


"Dengar Non. Aku sudah mendapatkan cinta itu kembali sayang, dan aku akan merawat cinta itu. Aku akan merawat dan menjaganya sampai kapanpun itu. Bagiku yang paling utama adalah cinta yang tumbuh dalam keluarga. Heemmm... Dan kau termasuk salah satu yang ada di dalamnya."


"Maksudnya?" Palupi masih juga tidak memahami ucapan Liana. "Aahhh... sayang... Duniaku sekarang lebih berwarna dari kemarin. Keluargaku adalah cintaku yang sedang bersemi. Ketahuilah, saat ini yang akan aku cari sudah ada dan aku dapatkan." Tangan Liana mengusap Surai indah Palupi dan kembali melanjutkan laju mobilnya ke arah jantung kota terdapat pusat perbelanjaan di sana.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Oom... Apakah Oom masih akan mengantar saya ke Timur Tengah untuk menjadi seorang tenaga kerja, saya tidak mau Oom!" Rengek Riris tangan dinginnya mengusap dada Bambang dengan kancing baju yang terbuka satu karena ulahnya. "Saya berjanji akan memberikan servis yang lebih bagus lagi, dan akan nurut dengan Oom, asal jangan di export ke sana ya Oom,"


"Oke...kita lihat ke depan bagaimana, dan satu lagi sayang... Jangan pernah mengusik ketenangan adik yang pernah kamu ceritakan padaku waktu itu. Kalau ada apa-apa dengannya Oom tidak akan ikut campur dengan urusanmu, dan Oom pastikan kamu akan kukirim ke kawasan di Timur Tengah."


"Jadi...?"


"Ya.., lupakan adikmu, dia bukan lawanmu. Mengerti!" Jangan pernah mengusiknya. Jangan membantah, karena aku orang yang tidak suka dibantah." Pelan nada ucapan Bambang, tetapi penuh dengan penekanan. Namun karena otaknya bebal, Riris tak sanggup mencerna peringatan Bambang.


Dering telepon milik Bambang tiba-tiba nyaring terdengar, "ya... oh... Baik Tuan, saya akan segera menandatangani...." Mimik serius Bambang menandakan ia sedang dalam situasi yang harus segera ia tangani.


"Oom... Kenapa semua orang melindungi Palupi? sedangkan dia hanya adik tiriku saja, apa perbedaannya...?" Sungut Riris setelah Bambang mematikan sambungan teleponnya.


"Baiklah... Oom harus ke kantor dulu, nanti malam temui Oom di apartemen Oom ya, hemmm....Oom jalan dulu." Masih dengan kesabaran yang Bambang miliki untuk menghadapi Riris, walaupun menjengkelkan tapi Riris adalah pemuas nafsunya selama ini. Hanya sebatas pemuas nafsu.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TBC πŸ˜‰


Lanjut yuk Mak 🀭 mumpung semangat, masih ada yang geram sama Riris yah 🀭 kita bikin pepes yuk πŸ˜‚


Salam Sayang Selalu By RR 😘