
Senyum gembira menghiasi bibir John. Ayunan langkah kaki 'tuk perjalanan John Norman menuju Indonesia kali ini terasa ringan. Semua kebutuhan sudah lengkap yakni segala dokumen dan kelengkapannya siap dibawa. Memang untuk menyelesaikan tugas mencari dan menelusur keberadaan orang yang telah hilang selama 15 tahun itu memang rumit dan membutuhkan waktu yang tidak pendek.
Berkat kegigihan dan ketelatenannya, akhirnya tuntas juga semua tugas yang ada di Inggris. Kini dia berusaha meraih mimpi untuk bertemu dengan gadis kecil yang sudah mampu memorakporandakan hatinya, dan menggoyahkan jiwa jomblonya. Dan itu semua semakin membuatnya tidak bisa mengulur waktu, untuk segera bertemu kembali.
Masih jelas tatkala membawa pulang Palupi di malam pertama itu. Sungguh, di hatinya hanya rasa benci akan kehidupan wanita ja*lang. Hingga membuatnya tanpa rasa hati sedikit pun, dia menyakiti Palupi.
Aahhkk....andai waktu bisa kembali berputar, tentu saja John tidak akan setega itu, sedangkan gadis polos itu ternyata sebagai kunci untuk meraih mimpinya dan mampu memberikan rasa hati hingga bergetar indah dengan bisik azimat kata cintanya.
**Sabar maupun tidak sabar, ia harus tetap mengikuti prosedur schedule penerbangan dan harus transit yang memakan waktu tidak pendek bagi orang yang sedang dimabuk kerinduan dan dilanda asmara atau tepatnya cinta jarak jauh memang menyiksa. Sebab John bukan billioner yang ke mana-mana pake jet plibadeh, dengan bandara pribadi yang merangkap lapangan golf**
Di bandara Hongkong di mana ia harus menunggu transit untuk beberapa jam lamanya, untuk mengusir rasa jenuhnya ia berusaha menghubungi Ray terlebih dulu. Karena mau tidak mau ia tetap cemas dengan keadaaan Palupi yang tetap saja menjadi incaran Riris, yang belum tahu siapa Palupi itu sesungguhnya.
"Ray... Apa yang kau lakukan saat ini? Apakah pengacara dan notaris sudah siap? Sudah menghubungi Kapolda dan jajarannya ke bawah? Termasuk juga pejabat pemerintah daerah? Jangan sampai kita dituduh melakukan pelanggaran HAM.
Beruntun pertanyaan Jonh kepada Ray membuat Ray terdiam dan memilih tak menjawab pertanyaan John Norman. John tetap akan tunduk dan mengikuti ketentuan undang undang yang ada, dalam menyelesaikan tugasnya.
"Sudah pertanyaannya?" Jawab Ray. "John, kami semua sudah siap. Tinggal pengaturan waktu untuk menyelesaikan semuanya. Besok kuantar ke Konsulat agar semua berjalan sesuai prosedur hukum yang berlaku.
John menyimak penjelasan rinci dari Ray. "Oh ya Ray, mengenai si Riris, kalau dia si uler keket kecil kata Liana, ingin coba-coba bermain dengan si Woodypakcer kita layani saja Ray. Hanya saja tunggu aku sampai di Indonesia," jelas John kepada Ray kembali.
"Ha...ha...ha...aku tahu kwalitasmu dude, makanya aku tunggu kedatanganmu dulu baru kita eksekusi gadis aneh itu." Ray menimpali sembari menyulutkan sedikit api kepada John yang memang sudah gemas dengan ulah Riris, bahkan kali ini sudah kelewat batas.
Panggilan dengan Ray sudah terputus dan kini John mengalihkan panggilannya kepada Liana. "Ya hallo boss... Apa kabar, ish..ish.. eiyke sudah menduga bosku ini sudah lumutan sepertinya menunggu waktu terbang ke Indonesia dengan menahan rasa serta libido yang berakhir di toilet, ha...ha...ha..." Belum sempat John bersuara sepatah kata pun sudah mendapatkan cerocosan Liana dengan khas gaya manjanya, setelah sekian lama harus extra fokus dengan keluarganya yang sudah menerimanya kembali.
Dibutuhkan untuk extra hati-hati juga saat berbicara di tengah keluarganya, apalagi di hadapan Mario yang sedang masa pertumbuhan di golden age-nya bisa saja dengan mudah akan menyerap segala ucapan dan tindakan ataupun tingkah laku yang akan berdampak dan mempengaruhi perkembangan psikologinya.
Sebenarnya dibalik telepon jauh di seberang benua, John menahan tawa atas ulah Liana yang memang konyol namun memang begitu adanya, "hei Liana, apa begini perbuatan yang kau ajarkan pada Gulizar disaat dia jauh denganku, hmm?"
"Tunggu saja aku datang, bila ada kesalahan yang fatal, aku juga tidak akan segan segan-segan menjadikan dirimu sebagai santapan buaya di KBS, ha...ha..ha..." Gertak John pada Liana.
"Idih boss... Sudahlah ciiynn...isshhh eiyke lebih garang dari pada buaya, ha ... ha... ha... hanya saat digantung di gapura depan villa saja yang membuat eiyke syerem." Candaan mereka mampu membuat semakin erat kedekatan dua manusia sesama jenis namun berbeda penampakan itu.
"Coba eiyke sambungkan ke Gulizar ya boss ciiynnn! ishh tidak kangen apa takut menahan rasa hingga meleleh yah, he he..."
"Aku ingin menikmati waktu berdua saja dengan Gulizar, no call's dan no noise apapun itu." Pinta John Norman membuat tawa Liana kembali meledak.
John hanya bisa senyum-senyum sendiri mendengar kekonyolan Liana, John juga tidak habis pikir menghadapi si Liana, walaupun kadang sangat menyebalkan dengan ulahnya yang kacau, namun rasa sayang sebagai sahabat dan teman yang saling membantu sama lain, seolah menimbulkan ikatan yang sulit renggang di antara mereka.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Riris sibuk mematut dirinya sendiri di depan cermin rias di dalam kamarnya, malam ini ia akan menemani Bambang menghabiskan malam yang indah bersamanya.
"Riris, ibu perhatikan kau sekarang agak gemukan. Dengan tubuh yang seperti ini kamu terlihat makin cantik sayang," puji Juleha sambil duduk di bibir ranjang Riris.
"Isshh ibu, dari dulu kan Riris sudah cantik to Bu, buktinya! Banyak tuh pria yang kecantol sama senyum manis Riris, bahkan Oom Bambang saja meninggalkan istri pertamanya yang mandul itu, iya kan..?" Riris menyanjung dirinya sendiri, lalu menatap kembali ke arah cermin dengan pantulan tubuhnya yang memakai dress minim bahan serta super ketat itu.
"Ibu... Riris besok pesan manisan buah kedondong yah... Maunya yang sedikit pedas!"
"Riris berangkat dulu, jangan lupa tutup pintu sebelum masuk kamar tidur. Riris mungkin bisa dua atau tiga hari baru akan pulang ke rumah, pokoknya manisan buah kedondongnya siapin saja ya Bu!" Walaupun Riris keterlaluan ia tetap juga pada melakukan kewajibannya untuk cium tangan kepada Juleha sebelum keluar dari rumah.
Juleha hanya mampu menikmati hasil yang selama ini ia tanam selama hidupnya. Rasa nelangsa dan sesal timbul di saat semua sudah terjadi.
"Manisan buah kedondong yah! Tidak biasanya Riris menyukai buah asam itu, bukannya dia benci dengan buah-buahan yah...? Aakhh.... Semoga dia hanya mencoba rasa dan penasaran untuk menikmatinya saja."
Juleha tercenung. "Tapi....! Aakh.... Tidak mungkin." Juleha dilema dengan pendapatnya sendiri tentang perubahan fisik Riris.
"Aakhh... Tidak mungkin Riris melakukan itu tanpa pengaman." Sebagai orang tua, walaupun itu kesalahan terjadi berasal pada dirinya sendiri, namun juga tidak akan pernah mempunyai mimpi mendapatkan penerus yang sama seperti dirinya juga.
Kini bayang-bayang masa lalu kembali muncul dalam benak. Teringat bagaimana dirinya dijual oleh suaminya hanya untuk memenuhi hasratnya menikmati narkoba. Juleha sangat menyintai suaminya yang pengangguran itu. Dia rela melakukan apa saja asal tidak ditinggalkan suaminya. Sampai akhirnya laki-laki itu menyerah pada takdir dan meninggal.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
to be continued...