I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 47



Setelah kembali dari perjalanan dan aktivitas sehari-hari yang menguras pikiran dan emosi Liana, dirinya dihadapkan pada dilema yang membuat perasaannya sakit.


Kepergian ibunya menghadap kepada Yang Mahakuasa di usianya yang masih sangat muda membuat Liana kehilangan arah dan pijakan pertumbuhan psikologisnya.


Liana yang dari kecil juga suka bermain boneka dengan adik-adiknya, lolos dari pengamatan ayahnya yang sibuk mencari uang dan mengembangkan usahanya.


Liana lebih suka bermain dengan teman-teman perempuannya dan menghindari bermain dengan teman-temannya yang lelaki, yang menurut perasaan Liana mereka terlalu kasar.


Liana sadar bahwa kebiasaan hidup yang dijalaninya terbentuk oleh lingkungan tempatnya bertumbuh itu. Kini yang mulai dirasakan bahwa kehancuran dirinya lebih disebabkan oleh karena ulahnya sendiri yang pada akhirnya berujung pada sejuta penyesalan.


"Liana... Apa yang terjadi padamu? Senyum yang kau berikan sama sekali tidak menggambarkan sebuah keceriaan?"


Air mata Liana kembali menetes yang sulit ia bendung, "Gulizar, ini semua salahku. Aku anak durhaka dan aku adalah penyebab sakit yang saat ini ayahku derita. Ini sungguh menyiksa batinku. Tidak pulang, aku rindu tapi bila aku pulang, ayahku menuntut diriku akan adanya sebuah pernikahan yang beliau harapkan."


"Aku tidak ingin permasalahanku ini akan menyeret seseorang masuk ke dalamnya, ini akan semakin menyakitkan Gulizar." Sambil menghapus sisa air matanya Liana kembali tersenyum.


Namun semakin ke sini semakin Palupi rasakan ada sesuatu yang Liana sembunyikan, 'siapa yang akan terseret ke dalam cerita kehidupan Liana?' berkerut kening Palupi mencoba meraba kembali tutur kata Liana, namun Palupi belum memiliki kemampuan berpikir sejauh itu. Usianya masih terlalu muda untuk memahami. Daya nalarnya juga belum mampu untuk melangkah hingga pada titik jawaban yang ia butuhkan.


"Oh ya sayang... Nyonya Anne akan segera datang. Ray sudah memberikan kabar itu semalam, dan selama beliau berada di Indonesia, beliau akan selalu di sampingmu. Jadi aku bisa pulang untuk menjenguk ayahku dalam beberapa hari ke depan, oke?!"


Palupi menatap tidak berkedip ke arah manik indah Liana dengan bulu mata nungging berjejer nan mempesona, "Apa kau pergi sangat lama Liana...? Apa kau akan membiarkan aku sendiri tanpamu Liana? Aihh, aku akan kesepian tentunya."


Palupi tetap saja memancing Liana, untuk bercerita lebih jauh akan masalah yang dihadapinya saat ini. "Jangan khawatir sayang, mommy Anne akan segera tiba di Indonesia. Oh ya..., lusa, dokter Anita akan mengundang kalian ke dalam sebuah pertemuan. Kau bisa mengajak mommy Anne hang out bersama. Don't worry baby, hemm..."


Liana membelai kepala Palupi. "Aku ke kamar dulu ya, Gulizar juga istirahat ya."


Di dalam kamar Liana.


Setelah membersihkan diri dan berganti baju tidur, Liana kembali merenungi perjalanan hidupnya.


Diambilnya dompetnya yang khusus menyimpan foto keluarganya. Dipandanginya satu per satu wajah yang ada difoto itu.


Ingatannya melayang ke masa lalu yang dirasakan pahit. Kegagalan perkawinan sejenis yang dilakukannya di luar negeri itu hanya seumur jagung. Penghianatan 'suami' yang berselingkuh dengan sahabatnya membuatnya frustrasi dan putus asa.


Namun, masih ada sahabat lain yang justru menumbuhkan motivasi untuk bangkit dan mampu tampil sebagai insan tegar dan mandiri. Liana tak ingin pengorbanan yang dilakukan atas nama cinta justru menghancurkan dirinya. Kerja keras dan semangat membara membentuk pribadi Liana yang kokoh dan mandiri.


'Papa.., maafkan semua perilaku yang selama ini aku jalani. Aku bahkan tidak bisa menjadi putra kebanggaanmu, luka itu terlalu dalam aku torehkan'


Dering suara telepon membuyarkan lamunan Liana, matanya yang basah berkedip sambil meraih benda pilih yang sedang berbunyi," Koko..., hiks..., hiks... Segeralah pulang! Apa yang membawamu masih kuat pada pendirianmu, Koh?"


Suara Liana tercekat, dan tidak mampu melanjutkan kata-katanya, ketika sekilas ia menyaksikan sang ayah tergolek memejamkan matanya.


"Koko Ah Lian..." Mata Feng Ling yang menyaksikan fisik dan keadaan Liana yang sebenarnya, ia menutup mulutnya dan berlalu keluar dari ruangan sang ayah. Feng Lin tak mampu berkomentar, melihat kakak laki-lakinya memakai daster layaknya seorang wanita.


Begitu pula halnya Liana yang baru menyadari bukannya memakai kaos oblong seperti biasanya saat menerima telpon yang bukan dari adik bungsunya.


Setelah tertangkap basah oleh adik keduanya. Air mata Liana kembali meleleh. Hatinya bagai diiris sembilu saat melihat adiknya yang terbelalak kaget melihat penampilannya. Bukan dengan cara begini dia harus bertemu dengan adiknya.


"Koko, kami semua merindukanmu. Kenapa Koko bisa berubah jadi begini...? Pulanglah kembali kepada kami, lihatlah kondisi Papa yang semakin hari semakin lemah, mari kita berbicara dari hati ke hati, Koh!"


Feng Ling menatap Liana yang memiliki nama pemberian dari orang tuanya, Lianto Simon Chow. Mendengar kata-kata adiknya, Liana tak sepatah katapun yang mampu ia ucapkan. Lidahnya kelu matanya semakin tidak mampu menopang air mata yang berdesakan.


"Feng Ling, maafkan aku, dengan keadaanku yang seperti ini apa yang kalian harapkan? Kalian akan menganggap aku adalah aib keluarga, dan aku bukan yang terbaik buat kalian."


Jawab Liana dengan sesenggukan tanpa dapat membendung air matanya yang tumpah.


"Ling, beri waktu sesaat kepada Koko. Aku memastikan akan pulang segera. Aku juga merindukan kalian, karena kalian saudaraku. Aku juga rindu pada papa. Sekeras apa pun dulu papa memperlakukan dan mendidikku, dia tetap papa kita. Aku juga sangat menyayangi papa."


Liana kemudian mematikan koneksi telponnya dengan sang adik. Dia menjatuhkan badannya ke tempat tidur dan berusaha menenangkan dirinya. Cara adiknya menegurnya, terlebih suara adiknya mengingatkan Liana pada suara mamanya yang telah tiada.


Batin lelah Liana membawanya kedalam dunia mimpi, terbuai diantara rongga jiwanya yang kosong, Mungkin Matahari masih terbit esok hari, tapi belum tentu dengan duka dan penyesalan yang ia rasakan dalam hidupnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


TBC...


Aku tuh nulis chapter ini serasa kembali ke zaman Sundirah ๐Ÿฅบ, Sabar liana...!


lanjut Mak...


Sambil nunggu cerita dan kesadaran keluarga Liana, searching karya kawan Rhuji yuk Mak ๐Ÿ˜˜, jangan lupa seperti biasa yah... like, favorit, dan komentar membangun. Sebab komentar membangun kalian adalah penyemangat kami untuk berkarya ๐Ÿฅฐ


Salam Sayang Selalu By RR ๐Ÿ˜˜