I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 86



Pagi buta terjadi kehebohan di unitnya Liana. Kepanikan John membangunkan penghuni yang masih merajut mimpi. "Hey John, kamu kenapa?" Tanya Palupi sambil berlari ke luar kamar. John terpana saat melihat Palupi yang tiba-tiba telah berdiri di depannya diikuti Liana di belakangnya.


"Aku bingung kenapa aku tidur di sini." Ucap John sambil meraih pinggang Palupi memeluknya. "Hadeh tuan John. Ingat ya, ini di apartemenku. Kita berbagi dinding dengan tetangga. Teriakanmu pasti mengejutkan orang yang sedang tidur." Gerutu Liana yang melihat John nyengir.


"Dah tidur lagi. Ini baru pukul tiga pagi, John." Bisik Palupi sambil bangkit dari pelukan John. Liana kembali masuk ke kamarnya. Sedangkan John kembali meraih pinggang Palupi, kembali memeluknya dan menjadikannya guling hidup.


Pukul delapan pagi, John pamitan setelah sarapan sandwich dan secangkir kopi. "Aku masih harus rapat dengan Ray dan tim kerja kami. Nanti siang kujemput, kita makan siang bareng." Ucap John sambil mengusak kepala Palupi yang sedang minum black tea hangat. Liana hanya tersenyum melihat ulah John yang bucin.


Begitupun dengan Palupi, ia menghentikan aktivitas minumnya dan memalingkan wajahnya pada John, lalu membalas usapan tangannya dengan pelukan dan membisikkan kata mesra untuk John. "Sayang.... hati-hati, aku menunggumu kembali."


Liana yang menyaksikan kejadian langka di depannya, begitu saja ia menimpali kebucinan mereka. "Ish...ish... eiyke mau donk tuan Boss, duhhh indahnya yang sedang mbucin. Dunia serasa milik berdua yah, eiyke yang di sini tidak terlihat sedikitpun, hik..."


"ha... ha... ha..., pergi cari pasangan yang sehati biar bisa saling berbagi rasa," ucap John menutupi kecanggungan lalu melenggang keluar dan berangkat menemui Ray.


Palupi yang malu setengah mati menyembunyikan wajahnya dengan mencari kesibukan. Berbeda dengan Liana yang mulai timbul keisengannya untuk menanggapi sikap Palupi yang akhir-akhir ini sering kedapatan malu-malu karena kelakuan John yang lebih terang-terangan menunjukkan sikap sayangnya pada Palupi.


"Jadi..., gimana nich, mau yang muda apa yang tiga puluh tahun ke atas, hhmm..?"


Tentu saja Palupi tertawa lepas saat menerima ledekan dari Liana, dan dia masih ingat dengan jelas bahwa dia sendiri yang menolak mempunyai kekasih yang jauh lebih tua dari usianya. "Yang tua yang asyik kan, sayang." Liana mencolek dagu Palupi lalu mereka tertawa bersama.


"Liana, aku tidak tahu dengan apa yang terjadi pada diriku. Di sisi lain aku bimbang dengan usia kami yang terpaut terlalu jauh, namun bila aku boleh jujur! Aku sangat nyaman saat berada di sisi John dan aku sering merindukannya." Palupi berusaha jujur dengan kata hatinya sendiri.


"Walaupun sebenarnya John lebih menyebalkan pada awal pertemuan kami," Palupi lirih berbicara namun jelas terdengar oleh Liana sebagai pendengar yang baik. "Jalani saja dulu, bila kalian berjodoh, pasti akan bersatu." Ujar Liana menyemangati Palupi.


"Sayang, mungkin seminggu lagi unit milikmu selesai direnovasi. Ruang tidurnya lebih luas, dekat dapurnya ada mini bar, juga ada ruang belajar yang dekat jendela, jadi nyaman buat belajar." Liana menjelaskan unit yang akan ditempati Palupi. Unit itu memang lebih luas dibandingkan unit milik Liana.


"By the way, berkas untuk pendaftaran sudah kamu siapkan, belum? Tanya Liana. "Eh, iya. Tempo hari, waktu kita ambil dari rumah Ibu, saat dia masuk rumah sakit, kan semuanya dibawa ke villa. Ujar Palupi. "Kan jadwal pendaftaran masuk baru akan dibuka sebulan lagi, Ci." Liana tersenyum melihat wajah Palupi yang bersemangat untuk mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswi di Universitas Petra.


"Yuk kita tengok unitmu, sudah sampai mana mereka merenovasi." Ajak Liana kepada Palupi. Mereka berdua bergandengan tangan berjalan ke unit milik Palupi.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Nanti juga akan baikan Oom, memang akhir-akhir ini saya sering kurang enak badan. Tapi setelah minum air hangat saya kembali enakan, Oom. Jadi Oom Bambang santai saja Riris sehat kok."


Riris berusaha menutupi rasa yang ia alami saat ini.


Sebab, mau tidak mau ia sebenarnya juga khawatir sudah hampir satu bulan ia mengabaikan kondisi tubuhnya. Di saat senggang ia Googling dengan ponsel miliknya, namun ia menepis jauh dengan penjelasan google bahwa gejala yang ia alami saat ini adalah awal kehamilan.


"Ya sudah kamu istirahat sebentar. Oom mau ke depan menyelesaikan pembayaran di resepsionis. Nanti Oom suruh pelayan antar teh panas untukmu." Ujar Bambang sambil berjalan ke luar kamar. 'Apa iya Riris cukup kuat naik mobil lima jam. Tadi wajahnya pucat sekali.' Pikir Bambang sambil mengeluarkan kartu debitnya untuk pembayaran sewa kamar hotelnya.


"Rumah sakit atau klinik terdekat di mana ya, Mbak?" Tanya Bambang kepada petugas resepsionis yang bertugas. "Tiga gedung dari sini Pak, ada klinik 24 jam." Jawab si petugas. "Baiklah Mbak, sekalian check out, saya mampir ke sana."


Bambang kembali ke kamar dan memeriksa kondisi Riris. "Aku gak apa-apa Oom. Yuk kita berangkat," ajak Riris sambil mengambil tasnya. Bambang kemudian menarik kopernya. Mereka keluar dari hotel. "Kamu yakin tidak apa-apa Ris?" Tanya Bambang dengan tampang khawatir.


Rasa was-was tentu ada, sekarang yang menjadi tanda tanya besar adalah. Bagaimana ia akan mengetahui siapa ayah biologis janin yang ada dalam kandungannya, "apa yang harus aku lakukan? Apakah aku akan mengugurkan saja kandungan ini, bila aku memang telah hamil. Ini pasti akan membuatku kesulitan ke depannya." Batin Riris bertarung dengan ambisi dan kebodohannya.


Sedangkan Bambang tentu bukan laki-laki bodoh, dengan diam-diam ia telah merencanakan akan membawa Riris ke dokter terlebih dahulu dari pada menanggung resiko dalam perjalanan. Lima jam adalah waktu yang sangat melelahkan untuk seseorang yang sedang dalam kondisi kurang fit untuk melakukan perjalanan.


Perjalanan pun akan mereka mulai, dengan langkah yakin, Riris mengikuti langkah Bambang sambil menggelayut manja pada lengan Bambang. Yang entah bagaimana akhir-akhir ini Riris lebih menyukai bau badan yang melekat pada tubuh Bambang.


"Oom... Berapa lama perjalanan menuju ke tempat kita?" Lirih Riris bertanya dengan manja.


"Kurang lebih lima jam perjalanan, tapi kalau kamu merasa lelah atau kurang enak badan kita bisa berhenti dan istirahat sejenak." Jawab Bambang dengan mencubit gemas pipi Riris yang manja.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hamil anak e sopo sih Ris? eh di gugurkan 😳😳😳


To be continued πŸ˜‰


Salam Sayang Selalu By RR 😘