
Hari yang Palupi tunggu-tunggu pun tiba, begitu pula halnya dengan Anne yang sekian tahun memimpikan berada dalam pelukan anak semata wayangnya.
Suara Arrival announcer berkumandang di terminal kedatangan bahwa pesawat British Airways telah landing. Para penjemput mulai berkumpul dekat pintu keluar terminal kedatangan. Penjemput sabar menunggu orang-orang yang mulai bergerak dari arah dalam menuju keluar sambil mendorong troli bawaan mereka.
Liana dengan setia mendampingi Palupi, yang sudah tidak sabar menanti kedatangan sang ibu yang sangat dirindukannya. Palupi baru tahu bahwa dia bukan anaknya Juleha, tetapi anak dari seorang ibu yang sedang dijemputnya. Dia ibu yang melahirkannya dan sekian lama telah terpisah.
Sedangkan Ray bersama Anita juga berada di antara mereka, rasa haru itu juga menyelimuti perasaan Anita, "sayang...andaikan kita terpisah oleh waktu hingga sekian lama, apa yang akan kau lakukan padaku? Apakah setiamu akan menemani hari tuamu kelak...?"
Ray menatap kaget ke arah Anita yang sedang melontarkan pertanyaan yang tiba-tiba. "Tidak mungkin itu terjadi, kecuali kau sudah bosan padaku." Sambil mencubit hidung bangir Anita karena gemas dengan pertanyaan isterinya.
"Idih..., nggak lucu sayang...!" Anita mencubit lengan Raynaldi sambil memonyongkan bibirnya. "Oach...sakit sayang, kamu beberapa hari ini kok garang banget yah.... Masa sama Riris aja kamu cemburu, ha... ha... ha..., dia bukan levelmu sayang. So, be relax, I'm your man and only."
Waktu yang dinanti-nanti pun tiba. Pesawat terbang British Airways telah menurunkan Anne dan Beldiq di landasan pesawat. Keduanya menaiki bus penjemput di landasan untuk diangkut ke terminal kedatangan. Wajah
girang nampak jelas terlihat dari senyum Palupi, binar mata itu membuat hati Liana semakin trenyuh.
Bagaimana tidak! Sedangkan dia sendiri saat ini sedang menghadapi dilema yang hampir sama, namun beda versi. Liana harus membuang jauh jauh rasa melow yang melanda lemah hatinya, dia harus tegar di depan Palupi.
Mereka bersama mendekat ke arrival gate, sementara Anne menggenggam erat tangan Beldiq, keringat dingin tidak mampu ia sembunyikan antara bahagia dan sedih membaur menjadi satu.
Satu menit.... Dua menit hingga beberapa menit pun berlalu lambat serasa seminggu, seakan waktu pun enggan beranjak dari momen yang kian mendebarkan itu.
Ray sebagai orang pertama yang menemui Anne bersama Beldiq saat keluar dari lobby kedatangan, kemudian mempersilakan keduanya lewat jalan yang sudah ia siapkan bagi mereka menuju area pertemuan dengan putrinya.
"Mommy...." Pelan bibir mungil itu memanggil Anne yang sejak beberapa menit lalu sudah susah payah menahan pecahnya tangis.
"Oh... Gulizar... baby..." Pelukan itu seakan menjadi awal pecahnya tangis bahagia mereka, disaksikan sekian ratus pengunjung di terminal kedatangan bandara. Dua wanita beda generasi itu berpelukan. Setiap orang yang melihat mereka ikut terharu.
Sekalipun terpisah oleh waktu dan tempat, kuatnya doa seorang ibu yang merindukan anaknya dijawab Sang Pemberi Hidup dengan nempertemukan keduanya. Kepala Palupi bersandar di dada Anne. Dada yang mengalirkan air kehidupan yang diminum Palupi saat baru lahir hingga berusia dua tahun. Air mata ibu dan anak mengalir. Air mata bahagia yang membuat keduanya meresapi betapa baiknya Sang Pemberi Hidup yang telah mepertemukan kembali mereka.
Pelukan keduanya terurai ketika Beldig dengan senyum kebapakan ikut membelai kepala Palupi. "Sorry, aku melupakanmu," kata Anne kepada Beldig. "Ya, tidak apa-apa. Aku turut bahagia karena kita sudah menemukan putrimu yang hilang."
Tak ada yang tak meneteskan air mata haru melihat peristiwa itu. Anita, Ray, dan Liana. Ketiganya terkesima melihat betapa lembutnya Anne memeluk dan membelai kepala Palupi. Palupi merasakan getaran yang yang sangat membahagiakan saat memeluk Anne. Palupi pernah dipeluk Juleha saat dia sakit, tetapi Palupi tak pernah merasakan sebagai pelukan yang mengandung aura kasih. Sementara saat Palupi dipeluk Anne, yang dirasakan adalah rasa damai dan bahagia.
"Nyonya Anne, Tuan Beldiq! Selamat datang di Indonesia, akhirnya kita bisa berjumpa di hari yang sangat penuh keharuan ini." Liana mendekat dan mengulurkan tangan bersalaman, yang diikuti oleh Anita sambil memperkenalkan diri masing-masing.
Rombongan itu tiba di hotel Sheraton. Bellboy dengan sigap menjemput dan menurunkan koper, sedangkan Ray segera melakukan konfirmasi ke resepsionis tentang kedatangan tamunya yang akan menginap di hotel mereka walau hanya semalam karena perjalanan tujuh belas jam itu sangat melelahkan. Ray menawarkan makan malam kepada Anne dan Beldiq, ternyata mereka setuju untuk makan malam di restoran hotel.
Mereka berenam menuju ke restoran, dan menikmati makan malam bersama sambil ngobrol. Ray mengangkat gelasnya dan bersulang bagi Anne dan Beldiq sebagai ucapan selamat datang diikuti oleh yang lainnya dengan penuh kegembiraan.
Di tengah kegembiraan itu, Liana mengatakan, bahwa dia akan mengajak Palupi menginap semalam di apartemennya yang lokasinya tak jauh dari Sheraton Hotel. "Malam ini, biar Nyonya Anne dan Tuan Beldiq beristirahat. Izinkan Nona Gulizar menginap di apartemen saya karena besok siang saya harus pergi ke suatu tempat."
Palupi seolah meminta izin kepada Anne maupun Beldiq dengan isyarat mata, Palupi tahu Liana sedang tidak baik-baik saja, " Mom... Esok Lupi bawa ke puncak, di sana banyak air terjun kita refreshing sejenak dengan yang sejuk sejuk alami." Kedip mata Palupi sama persis dengan gaya mendiang Anthony membuat Anne tercekat lalu menatap ke arah Beldiq sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Beldiq mencium kening Anne sambil membisikkan sesuatu ke telinga Anne, "she is the real Anthony, you must proud of her."
"Yes... Beldiq aku bahagia, thanks dear," Anne merebahkan kepalanya ke dada bidang Beldiq.
Anita yang menyaksikan moment manis itu mencubit lengan Raynaldi, "tidak bisakah kau seperti mereka, aku mau Ray..."
Jelas saja suara itu terdengar semua yang sedang duduk dalam satu tempat. "Ish ... ish... Tuan boss harusnya lebih romantis donk, jangan mau kalah sama emak emak tuh, iihhh bikin level sejajar donk ciyynn..." Liana nyerocos aja tanpa rem.
Perbincangan antara mereka selalu berakhir dengan gurauan dan kekonyolan Liana. Kebahagiaan itu terlukis indah pada gurat senyum dan tawa lepas mereka.
Perpisahan sementara pun kembali terjadi, Liana membawa Palupi ke apartemennya, Liana bertekad akan menceritakan bagaimana dan dimana keluarga besarnya berada.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
TBC
Nah... gitu donk Liana, biar bagaimanapun jujur lebih baik, walaupun kepentingan lebih utama daripada kejujuran π€ ishh... sok bijak dech gua ππ.
Sambil menunggu up chapter berikutnya, mampir ke karya kawan Rhuji yuk bestieπ, jangan lupa like jempolnya, favorit and then komen membangun π.
Salam Sayang Selalu By; RR π