
Tengah malam saat orang-orang sudah beristirahat, Mesin Monitoring di ruang ICU yang terhubung di badan Juleha tiba-tiba berbunyi panjang. Beberapa perawat dan dokter jaga berlarian ke ruang ICU setelah blue code di ruang perawat berkedip-kedip.
Dokter memeriksa detak jantung pasien setelah melihat garis lurus di layar mesin monitoring pasien. Dokter kembali mengalungkan stetoskopnya di leher. Kemudian melihat jam tangannya. "Plus, Pk. 02.35 WIB." Seorang perawat melepaskan peralatan yang melekat di tubuh renta itu, kemudian menarik selimut dan menutup tubuh Juleha yang telah berpulang kepada Sang Khalik.
"Inna lilahi wa inna ilaihi raji'un."
Seorang perawat langsung mencatat di papan data pasien atas nama Julehartini. Tomo masih terkantuk-kantuk di depan ruang ICU terkejut melihat perawat dan dokter berlarian lewat depannya. Diraihnya kopi yang sudah dingin sisa minumannya.
Dokter yang memeriksa diikuti dua orang perawat keluar dari pintu ICU. "Siapa keluarga pasien atas nama Nyonya Julehartini?" Suara bariton sang dokter mengejutkan Tomo yang langsung berdiri. "Saya Pak Dokter." Jawabnya. "Kami mohon maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin. Tetapi Yang Mahakuasa berkehendak lain. Kami turut berduka cita." Tomo terbengong mendengar ucapan dokter tersebut. Tangannya gemetar mengambil ponsel di sakunya dan menelpon Bambang. Setelah tiga kali nada panggil terulang, baru terdengar suara Bambang. "Maaf ganggu Bos, itu ibunya Riris sudah meninggal dunia." Jawab Tomo. Bambang langsung beristighfar.
Bambang bingung untuk memberitahu Riris yang masih tidur dan dirawat di rumah sakit yang sama dengan ibunya. Dilema melanda hatinya. Bambang takut kandungan Riris yang masih trimester pertama akan terganggu bila tahu ibunya sudah meninggal. Namun, bila tak dikasih tahu, juga salah, karena itu ibu kandungnya Riris.
Dokter Anita terbangun saat menerima dering notifikasi pesan masuk di ponselnya. Perlahan disingkirkannya tangan suaminya yang melingkar di perutnya dan mengambil ponselnya. Segera dibukanya pesan yang masuk dari dokter rekan sejawatnya. Anita tercenung membaca berita bahwa Juleha telah berpulang. Dibangunkannya Ray yang masih memeluk guling. "Mas, bangun. Ini ada berita duka." Ray membuka matanya. "Ini Mas, bu Juleha sudah berpulang sekitar pukul setengah tiga tadi.
Ray meraih ponsel Anita dan pesan yang diterimanya langsung diforward ke ponselnya. Kemudian Ray mengirimkan pesan tersebut kepada John dan Harry.
Atas permintaan Bambang, Jenazah Juleha dimandikan dan dikafani di rumah sakit. Tomo ditugasi melapor kepada pengurus lingkungan dan tetangga dekatnya di tempat tinggalnya Juleha dan memberitahukan bahwa jenazah Juleha akan dishalatkan di surau dekat Taman Pemakaman Umum dan akan dimakamkan pukul sepuluh pagi.
Anne dan Palupi terbangun karena pintu kamarnya digedor John. "Ada apa John? Ini baru pukul lima pagi." Protes Anne. Beldiq yang tidur bareng John juga menyusul karena John bangun dengan berisik. "Ini, berita dari Ray, nyonya Juleha meninggal." Palupi yang mendengar langsung termangu. "Mom, kenapa ibu meninggal? Bukankah kemarin sudah dibawa kr rumah sakit?" Tanyanya kebingungan. Anne memeluk Palupi, "segala sesuatu ada waktunya. Kita tak bisa menolak bila Tuhan sudah berkehendak." Ucap Anne menenangkan Palupi. Semua duduk diam mengelilingi meja makan.
John menelpon Anita menanyakan kelanjutan rencana pemakaman Juleha. Anita menjelaskan bahwa semua sudah dilaksanakan oleh menantunya. Anita juga menjelaskan bahwa Riris belum diberitahu bahwa ibunya sudah meninggal. Saat itu kondisinya masih dalam perawatan karena kandungannya lemah.
Mereka semua pergi ke rumah sakit dan langsung ke ruang perawatan jenazah. Palupi meneteskan air mata duka saat melihat ibu yang membesarkannya sedang dikafani. Bambang yang menyambut kedatangan Beldiq sekeluarga menyalami mereka satu per satu.
"Sebagai wakil almarhumah dan keluarga saya mohon dimaafkan kesalahan ibu mertua saya. Terutama untuk nyonya Anthony dan nona Palupi Gulizar, maaf anda akan meringankan langkah almarhumah menghadap Yang Mahakuasa." Dengan masih berurai air mata, Palupi menjawab, "kami memaafkan ibu. Semua yang sudah terjadi, biarlah berlalu. Aku juga sudah kembali kepada orang tua kandungku."
"Kami turut berduka cita pak Bambang." Ucap John sambil menyerahkan amplop berisi uang duka.
Tak lama kemudian Tomo membantu mengangkat keranda jenazah Juleha dan memasukkan ke dalam mobil jenazah. Sopir mobil jenazah berkali-kali menghidupkan kontak mobil namun tak bisa hidup juga, sampai membuka kap mesin mobil namun tak menemukan masalahnya. Si sopir mencoba lagi namun tak juga hidup. Tiba-tiba Palupi terkejut ada sosok Juleha mendekatinya, "maafkan ibu." Ujarnya. Palupi menangkupkan kedua telapak tangannya di dada, "aku memaafkan Ibu. Selamat jalan Bu." Ucap Palupi, kemudian bayangan Juleha menghilang, dan mobil jenazah itu tiba-tiba hidup dan berjalan.
Anne yang menyadari peristiwa itu langsung memeluk Palupi. "Mommy bahagia, putriku sudah memaafkan, begitu juga mommy."
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Persiapan untuk acara perkawinan Anne dan Beldiq sudah mendekati selesai. Kini John dan Ray berangkat lebih dulu ke Bali. Mereka bertugas mengecek gedung gereja dan hotel, serta menyiapkan semua keperluan untuk acara perkawinan. John juga bertugas menjemput keluarga yang berdatangan dari Inggris.
Kerja keras juga dilakukan oleh Liana. Sebagai seorang disainer dan pemilik butik terkenal, dia menyiapkan semua kebutuhan adi busana untuk calon pengantin dan keluarga dekatnya. Anne memintanya untuk mengatur agar keluarga dekatnya semua memakai rancangannya.
Miss Maria yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Jakarta juga menyempatkan waktu mengunjungi Liana di kota S. Miss Maria geleng kepala saat tahu hanya dengan waktu dua minggu harus sudah menyelesaikan semua pesanan pakaian untuk acara perkawinan milyarder asal Inggris.
Liana juga menggandeng Make-up Artis (MUA) kepercayaannya untuk melengkapi semua kebutuhan perkawinan Anne dan Beldiq di Bali. Sebuah tanggung jawab yang tidak ringan. Bila itu semua berjalan dengan lancar, prestasinya akan berkibar di kancah internasional.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Tomo tersenyum smirk melihat Riris yang berjalan pelan-pelan digandeng Bambang. Tomo melihat perut Riris yang agak menonjol ke depan. 'Jadi Riris sedang hamil?' Batin Tomo. "Hei, bukakan pintu Tom," tegur Bambang kepada Tomo yang masih terbengong. Buru-buru Tomo meraih handle pintu mobil dan membukanya. "Kita ke apartemen Tom." Perintah Bambang sambil masuk ke mobil dari pintu satunya. "Baik Bos, laksanakan." Jawab Tomo sambil mengemudikan mobil dengan hati-hati.
Kondisi Riris sudah mulai membaik. Janinnya sudah mulai stabil dan tumbuh dengan baik berkat penanganan dokter kandungan yang melakukan pengobatan setelah dirawat selama hampir seminggu. Senyum Bambang selalu menghiasi wajahnya. Ada rasa haru, di usianya yang keempat puluh lima tahun, tiba-tiba gadis yang semula hanya jadi bonekanya berhasil hamil.
Bambang sangat sadar karena tanggung jawabnya bertambah. Dia tak berani mengganggu harta milik Laila isterinya. Kehamilan Riris mendorongnya untuk bekerja lebih giat lagi.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
To be continued ๐
Salam sayang, sehat selalu bahagia dan sejahtera always ๐
mampir ke karya Rhuji yang baru tentang putri duyung yuk Mak ๐ค
kali ini mengisahkan tentang fantasiโบ๏ธ