
Pagi yang cerah dan kicau burung bersahutan membangunkan Palupi dari tidurnya. Perlahan dia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Dengan langkah perlahan karena masih mengantuk dia masuk kamar mandi. Kantong kemihnya serasa akan meledak karena sudah penuh. Dengan tak sabar dibukanya baju dalamnya dan duduk di closet. "Ahh, lega rasanya sambil menekan tombol untuk menyiram. Tangan Palupi tak sengaja menyentuh tombol shower hingga airnya menyemprot dan membasahi baju tidurnya.
Palupi menyusul Merry yang sedang sibuk menyiapkan sarapan bagi penghuni villa. Setumpuk strawberry pancake siap disajikan. Jari jahil Palupi segera menyolek saus olahan Merry. "Uumm, manisnya enak." Komentar Palupi sambil menjilati jarinya. "Tentu saja enak, ini pakai gula aren campur dan ditambah daun pandan saat merebusnya, jadi wangi." Sahut Merry dengan bangga, karena hasil kreasinya dipuji Palupi.
Semua penghuni sudah bangun dan siap di meja makan. Dengan sigap Merry dibantu Palupi melayani acara sarapan. Palupi menuang kopi untuk Beldiq dan John, sedangkan untuk Anne dan dirinya, dia memilih English Tea dengan campuran susu murni. Beldiq mengangkat jempol untuk Palupi yang sudah pintar membantu Merry menyiapkan sarapan. Anne tersenyum melihat putrinya sudah mulai menyerap pengetahuan belajar mengenal tata cara hidup masyarakat Inggris.
"Morning gaesss," suara nyaring mendayu, menyapa penghuni villa yang sedang sarapan. Liana langsung masuk dan menuju ruang makan. "Aiiihh, eiyke mau dong Merry, enak tuh pancakenya." Seru Liana dan langsung duduk di samping Palupi. "Kau ini, sudah jadi slonong girl saja Liana," tegur John. Palupi mencubit pinggang John. "Aduuh," teriak John yang mengundang tawa semua orang. "Aiihh, Bos, suka gitu deh ma eiyke. Awas lho ntar ada yang cembulu, hi... hi... hi...," goda Liana. Suasana sarapan semakin ramai dengan kedatangan Liana yang pada dasarnya suka bercanda.
"Liana, buku mode sudah dibawa?"
"Ada nih ciiyyn. Aku ke sini kan mau ukur tuh body Tuan Beldiq." Ucap Liana sambil menyuap pancake. "Wait, aku juga mau diukur. Bikinkan sekalian baju couple dengan Gulizar," pinta John. "Boleh usul Bos?" Ucap Liana sambil memainkan alisnya. "Heehh, usul apa nih?" Sambar Palupi sambil senyum-senyum.
"Nah kaan..., nona cantik dah cembulu, hi... hi... hi...," goda Liana. Pipi Palupi langsung merona, hingga Anne menengahi sambil tertawa. "Sudah, sudah, jangan digoda terus putriku. Ada rasa hangat dan bahagia mengalir di hati Beldiq. Suasana ceria di pagi hari yang diisi dengan tawa gembira, sudah diimpikan Beldiq sangat lama. Suasana yang menghilang sejak orang tuanya pergi untuk selama-lamanya.
"Baju batik khas Indonesia untuk pasangan Bos dengan Gulizar, itu yang kuusulkan." Jawab Liana sambil tersenyum. "Kita semua tahu, cuaca cukup panas saat nanti acara di Bali." Anne dan Beldiq serempak menganggukan kepala. "Aku setuju. Bagaimana sayang," tanya John sambil menoel pipi Palupi. Yang ditanya makin merona wajahnya. "Aku sih setuju saja. Yang penting Mommy dan Daddy bahagia." Jawabnya malu-malu.
๐น๐น๐น๐น๐น
Sudah dua malam Riris menginap di apartemen Bambang. Terkadang hatinya masih diliputi kegelisahan. Namun, perhatian dan kasih sayang Bambang mulai mengikis keraguan di hati Riris.
Ingin rasanya terbang ke rumah dan kembali memeluk bantal dan guling kesayangannya. Apa daya Bambang tak mengizinkan dia pulang ke rumahnya.
Berkali-kali Riris mencoba menghubungi Tomo, namun yang terdengar hanyalah suara operator, "nomor yang anda hubungi di luar jangkauan." Riris melemparkan ponselnya ke kasur karena tak mendapat jawaban yang memuaskan hatinya. Sementara itu Bambang yang sedang rapat di kantor menyuruh semua karyawannya mematikan ponselnya agar tak terganggu saat rapat.
Wajah Bambang yang sumringah dan selalu senyum mengundang tanya di hati semua karyawan termasuk Tomo. "Saya sedang punya proyek besar untuk masa depan. Bila dalam tujuh bulan ke depan, proyek ini berhasil, saya akan membagikan bonus dua kali gaji dan cuti massal." Ujar Bambang mengakhiri rapat siang itu.
Seketika terdengar dengung bisik-bisik suara peserta rapat mengiringi langkah Bambang yang jalan ke luar dari ruang rapat. Tomo segera berlari mengikuti langkah Bambang. "Bos, kita ada proyek di mana?" Tanya Tomo penasaran. "Hemm, itu proyek pribadi. Turuti saja semua perintahku dan jangan membantah." Jawab Bambang sambil berjalan menuju mobilnya untuk segera pulang ke apartemennya.
Tomo segera balik badan dan menghidupkan ponselnya. Puluhan tanda panggil dari Riris memenuhi layar ponselnya. 'Ada apa dia nelpon aku sampai segininya.' Batin Tomo. Sejak lebih sering bertemu Aisyah, Tomo mulai jarang berkomunikasi dengan Riris. Tomo mulai merasa ada hati yang harus dijaga. Perhatian dan sikap lembut Aisyah mulai menguasai hati Tomo, yang merasa yakin bahwa perhatiannya kepada Aisyah tak bertepuk sebelah tangan.
Sesampainya di apartemen, Bambang memberikan rujak bebeg (tumbuk) pesanan Riris, yang disambutnya dengan gembira. "Sayaang, nanti sore mas harus pulang ke rumah. Kamu gak apa-apa kan kutinggal sendiri. Kan ada si mbok yang menemani." Ujar Bambang sambil mengelus kepala Riris. "Aku akan membicarakan rencana pernikahan kita dengan Laila, isteriku." Riris tercenung mendengar rencana yang disampaikan Bambang.
'Haduh, ini gimana sih? Iihh, malu rasanya menikah dengan orang yang seunuran dengan ibuku." Keluh hati Riris. 'Tapi kalau gak nikah, ini perut pasti makin buncit.' Keluh hati Riris. 'Apa ibu mengizinkan aku nikah dengan lelaki yang seumur ibuku?' Kembali Riris bermonolog menyesali diri. 'Kenapa sih Oom Bambang ngotot banget merawat janin ini? Kok sepertinya dia yakin, ini anaknya? Kalau ternyata bukan, gimana dong? Iihh, sebel deh.' Keluh Riris.
๐น๐น๐น๐น๐น
Juleha menjalani hari-harinya dengan penyesalan. Tubuhnya semakin kurus walau hasil kontrol kemarin di rumah sakit cukup bagus. Kanker di rahimnya tidak menunjukkan tanda-tanda yang membahayakan. Kini hatinya mulai merindukan Palupi
Gadis bule yang diaku jadi anaknya, kini telah kembali ke pelukan orang tua kandungnya. Satu sisi, beban batinnya berkurang, namun di sisi lain, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di muka hukum.
'Palupi anakku. Maafkan ibu, Nak. Aku telah menghancurkan hidupmu. Kamu putri seorang milyader yang kupaksa ikut hanya untuk menutupi perbuatan jahatku jadi pencuri.' Keluh Juleha. 'Aku telah menjualmu dan memaksamu jadi pelacur. Tapi, Tuhan menyelamatkanmu. Ternyata Tuan yang membelimu adalah keluargamu sendiri. Kamu memang bukan seorang pelacur seperti diriku. Maafkan ibu, Nak. Biarlah kini ibu siap menjalani hari-hari di balik jeriji besi, sebagai penebusan atas dosa-dosa ibu.' Tangis Juleha dalam perenungan diri.
Di bawah bimbingan seorang ustadzah, Juleha kembali belajar tentang makna dan hakikat hidup. Penyesalannya semakin mendalam, namun kini dia hanya dapat pasrah, bila suatu hari surat panggilan pengadilan diterimanya. 'Ya Allah, hamba siap menjalani hukuman. Berilah hamba-Mu kekuatan untuk pasrah. Hamba memang pendosa. Hamba mohon ampunan-Mu, ya Allah. Aaminn aamiin ya rabbal alamin ' Doa yang dipanjatkan Juleha seusai shalat.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
To be continued ๐
Salam sayang, sehat selalu bahagia dan sejahtera always ๐
mampir ke karya Rhuji yang baru tentang putri duyung yuk Mak ๐ค
kali ini mengisahkan tentang fantasiโบ๏ธ