
Kegiatan yang tidak pernah ada habisnya bersama Liana, membuat waktu Palupi berjalan dengan cepat. Sambil berdendang lirih Palupi keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan bath robes palupi memandangi wajahnya dari balik kaca yang berada di kamarnya. Sesekali ia tersenyum dan kemudian ia mengibaskan tangannya dan mengikat rambut panjangnya hingga terlihat jelas leher jenjangnya, "sayang, ready?" Liana masuk menghampiri sambil menenteng beberapa kotak besar di tangannya berisi gaun malam dan stiletto untuk Palupi.
"Liana aku nervous, oh... tapi aku... merindukan dia," Palupi berkata sembari menutupi wajahnya lalu duduk dan meraih gelas air putih yang tersedia di atas nakas.
Liana yang mengetahui dan pernah mempunyai rasa kerinduan kepada orang yang terkasih, menimpalinya dengan lembut. "Ingat! Jangan mudah tergoda oleh hawa nafsu bila berjumpa nanti. Sebab, bagaimanapun kalian belum sah menjadi pasangan suami-istri, walaupun tidak menutup kemungkinan tuan John adalah laki-laki dewasa dan bertanggung jawab."
"Tapi Liana...!" Palupi kembali menunduk sambil meremas tangannya sendiri.
"Tapi apa, hmmm?"
"Apakah mencintai laki-laki dewasa itu akan menjadikan wajah dan usiaku nanti ikut menjadi tua dan lekas keriput? Eh..., maksudku ikut dewasa, he he he he, aku bingung," Palupi bertanya sambil cengengesan tatkala Liana menahan tawa dan menata letak kotak yang isinya nanti akan dikenakan oleh Palupi.
"Pada dasarnya, kita akan mengikuti kehidupan pasangan kita, seperti..., cara berpikir, makan, habit dan berbicara, sehingga lambat laun kita akan mengalami penyesuaian dan secara tidak langsung kita akan lebih mengenal bagaimana pasangan kita. Seperti usia akan semakin tua dan matang seperti pasangan kita. Secara tidak langsung kita akan mampu belajar menjadi bagian dari hidupnya dan kita akan berubah, sedikit banyak terjadi penyesuaian kesamaan."
Tangan Liana mulai menata dan memberikan sentuhan kepada wajah Palupi untuk di rias senatural mungkin.
"Jadi..., nilai pasangan itu terbentuk dari baik buruknya dan kwalitas hubungan dengan pasanganmu. Jika pasangan kita pecandu narkoba misalnya, dan kamu berasal dari kalangan keluarga baik-baik, namun iman tidak kuat, akan dengan mudah menyeretmu ke dalam kubangan yang sama dengan pasangan kita. Bisa juga sebaliknya pasangan kita yang berbalik mengikuti jejak kita menjadi baik." Liana meneruskan dan menjelaskan kepada Palupi dengan segala pengalaman yang ia alami selama ini. "Semua tergantung bagaimana kita bisa menyikapi karakter pasangan kita masing-masing."
Palupi terdiam, sepertinya tidak punya celah untuk menjawab kembali. Dia hanya menjadi pendengar setia di setiap kata kata yang ia dengarkan dari Liana. "Lalu apakah John pribadi yang baik, Liana?"
"Hanya kau yang merasakan saat bersamanya nanti tuan putri Gulizar, hhmmm masih ragu atau sudah ngebet pingin ketemu nih ha...ha...ha...," tawa terpingkal Liana membuat tubuh dia ikut bergoyang.
"Isshhh kau mulai menyebalkan," Palupi cemberut sesaat. "Masih ingat kan? Pertama Jhon melakukan kekerasan padaku dan melukai tubuhku? Yah..., walaupun dia tidak mengambil kesucianku, tetapi dia sudah berani mempermainkan harga diriku sebagai wanita yang masih di bawah umur."
"Oh... Jadi mau menuntut balas atas nama cinta ya ceritanya? Heemm, ish... ish... ish... Makin ke sini adikku makin cantik dan pintar, tidak salah lagi."
"Sudahlah nanti kau tanyakan ulang sama boss John saja, hheemm... Sekarang kita membuat persiapan untuk dinner kalian berdua. Ingat..! Bertemu dengan pria matang tidak akan membawa kita cepat tua, keriput ataupun ikutan jadi tua yah..." Tawa liana terdengar kembali.
Tangan Liana dengan cekatan memberikan sentuhan lembut, serta manis untuk gadis belia yang di hadapannya.
Tidak lama akhirnya usai sudah semua persiapan, dan jarum jam pun sudah menunjukkan pada waktu yang sudah mereka sepakati.
Sesekali ia melihat arloji yang melingkar di tangannya, membetulkan tempat duduknya atau bahkan iseng ia mulai membuka medsos untuk mengalihkan kegelisahannya, tiga puluh menit bagi seseorang yang sedang menunggu dalam rasa menahan rindu itu bagaikan serasa tiga tahun lamanya.
(*Pengalaman plibadeh Othor Mak๐คญ)
Tiba-tiba notifikasi dari WhatsApp berdenting, telah terkirim sebuah video. "Oh... dear, kau milikku." John sendiri bergumam sambil tidak berkedip menatap ponselnya yang terdapat video kiriman dari Liana.
Pertemuan semakin dekat saja, Liana mengantar Palupi hingga ke ujung anak tangga sekeluarnya dari lift. Perasaan antara takut, rindu dan malu serta marah membaur menjadi satu di dalam hati Palupi.
John yang duduk memunggungi arah Palupi berjalan, sambil menunduk memainkan ponsel miliknya, Palupi pelan mendekati dengan sedikit canggung duduk di kursi kosong di depan John.
"Tu... tuan Jo... john, eh John maafkan aku yang terlambat datang. Apakah kau sudah lama menunggu?" Lirih Palupi menyapa John terlebih dahulu, sambil menundukkan kepala. Karena sekian detik tanpa ada jawaban dari John, Palupi mendongakkan kepalanya dan matanya terbelalak melebar.
"Kau bukan John, oh aku tertipu," Palupi bangkit dan mundur namun tubuhnya dengan cepat beralih ke dalam sebuah pelukan hangat.
"Sayang..., ini aku, kalau dia bukan ya..." Senyum John mengembang dan semakin erat membawa Palupi ke dalam pelukannya.
Mau tidak mau, walaupun masih bingung, Palupi membalas pelukan yang John berikan, tetapi matanya berusaha melirik mencari tahu siapa yang duduk tadi. "Hey, sayang... meja kita yang di sana." Sambil menunjukkan meja dan kursi yang dihias indah dekat dinding kaca. Dari sana mereka dapat melihat keindahan kota di waktu malam.
John perlahan menuntun Palupi menuju meja yang sudah disiapkan. Denting piano dengan lagu 'A Thuosand Year' mengiringi langkah keduanya. John berhenti dekat mejanya dan meraih Palupi kembali ke dalam pelukannya. "Kita berdansa ya. Ikuti langkahku agar tak terjatuh." Bisik John di telinga Palupi. Senyum malu-malu terbit dari bibir yang merekah indah, membuat John tersenyum dengan masih memeluk sambil mengayunkan langkahnya mengikuti irama lagu. Refleks keduanya saling berpandangan, perlahan John menundukkan kepala dan mengecup bibir yang memikat hatinya. Degup jantung mereka saling bersahutan. Keduanya tersadar saat telinga mereka sudah tak mendengar lagi lagu romantisnya Christin Perry. Tautan bibir mereka terlepas. Palupi tertunduk malu dengan wajah yang merona. John menarik kursi untuk diduduki gadis yang sudah membuatnya sulit tidur di malam hari.
Tak lama kemudian seorang waiters mendorong trolley di atasnya ada ember di dalamnya berisi botol. Waiters dengan cepat membuka tutup botol lalu menuangkan "Brut Champagne" ke dalam gelas berkaki, kemudian undur diri. John dan Palupi menyesap minuman itu untuk menggugah selera. Tak lama kemudian seorang pelayan resto mendorong trolley yang berisikan hidangan makan malam, dan menatanya di hadapan John dan Palupi.
Kembali terdengar denting piano dengan lagu-lagu romantis. Jari-jari sang pianist bermain lincah di atas tuts, sehingga John dan Palupi merasakan kebahagiaan di momen 'romantic dinner' yang tak akan pernah mereka lupakan.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
To be continued ๐
love and sayang always by: RR ๐