
"Pak Dokter, terima kasih banyak atas segala perhatian dan upaya dalam pengobatan yang saya jalani selama di rumah sakit ini," Juleha menatap dokter yang menanganinya.
Lalu menatap ke arah dokter Frans yang akan mendampingi kepulangannya ke Indonesia, "Pak dokter, saya juga mengucapkan terima kasih. Perasaan saya tenang karena kepulangan saya ke Indonesia bersama Pak Dokter sebagai pendamping saya."
Dokter Frans mengangguk sambil membetulkan letak duduknya, "Nyonya Juleha, semua ini merupakan kebetulan saja. Saya ada tugas seminar di rumah sakit tempat Nyonya dirawat di kota S."
Keberangkatan akan dilaksanakan beberapa jam ke depan. Persiapan kepulangan Juleha sudah maksimal, dan kondisi fisik Juleha juga sangat stabil saat ini. Senyum cerah tergambar di wajahnya, terbersit akan kerinduannya pada kehidupan yang normal sebelum di vonis menderita penyakit yang mematikan ini.
Kursi roda yang ia duduki berjalan pelan dengan bantuan suster yang mendorongnya menghampiri mobil ambulance yang akan membawanya ke Changi airport. Setibanya di bandara, debar jantungnya terpacu normal dan sesekali ia melihat lalu-lalang para pengantar dan calon penumpang di bandara. Begitu banyak orang berbaur di bandara baik itu warga lokal dalam negeri maupun luar negeri.
Lantunan doa sebisa mungkin ia ucapkan dalam hatinya. Bibir yang sedikit cerah itu pelan bergerak dengan ayat-ayat suci Tuhannya yang selama ini pernah ia pelajari walaupun sedikit. Keterbatasan yang dimilikinya menumbuhkan keinginan untuk bertaubat begitu kuat dalam keyakinan Juleha.
Dokter Frans mengamati sejak dari rumah sakit. Senyumnya ikut merasakan kelegaan pada pencapaian Juleha dalam menjalani treatment pengobatan yang ia terima dari Mount Elizabeth Hospital terbilang sukses.
"Nyonya apakah anda merasa kedinginan? Anda bisa menggunakan selimut yang sudah tersedia!"
"Oh... Terima kasih Pak Dokter," senyum Juleha bersama anggukkan kepalanya, tangannya membetulkan letak selimutnya dan menutupi tubuh kurusnya.
Selama ini Dokter Frans hanya menjalankan tugas profesinya. Ia tidak mengetahui siapa Nyonya Juleha itu dan misteri apa yang menyelimuti dalam kehidupan Juleha. Apa yang telah dan sedang dilakukannya. Bagi Dokter Frans, dia hanya membantu Dokter Anita sebagai sahabat dekat yang telah mewanti-wanti untuk menjaga dan mengawasi setiap perkembangan Juleha. Ia hanya tahu, Juleha adalah pasien dengan catatan khusus yang dirujuk dari salah satu rumah sakit mitra di kota S.
Perjalanan dari Singapore ke Bandara Kota S yang merupakan tempat tujuan memakan waktu 2 jam 20 menit. Pesawat akhirnya landing dengan selamat. Nafas lega Juleha dengan senyum cerah berusaha mengintip aktivitas melalui jendela kaca kabin pesawat. "Dokter... Kita sudah sampai, Alhamdulillah.... Terima kasih sudah diberi kelancaran."
Awak pesawat membantu Juleha ke luar dari pesawat dan didudukkan di kursi roda kemudian mendorongnya memasuki garbatara menuju ruang kedatangan untuk mengambil koper dan bawaan lainnya.
Dua orang petugas Porter kemudian membantu mendorong kursi roda Juleha dan troli berisi koper dan bawaan lainnya ke pintu keluar area kedatangan untuk diantar menuju ke ambulance yang sudah menunggunya. Dokter Frans yang mendampingi pasien menyerahkan Juleha lengkap dengan medical recordnya kepada petugas medis di ambulance, kemudian melakuan serah terima pasien.
"Selamat petang Dokter Frans, kami mewakili Rumah Sakit perujuk, menerima kembali pasien atas nama nyonya Julehartini dan kami akan membawa ke rumah sakit." Dokter Frans kemudian menandatangani dokumen serah terima pasien.
Tak lama sopir yang diutus Dokter Anita mendekati Dokter Frans dan mempersilakannya memasuki mobil yang sudah menunggunya untuk diantar ke hotel yang sudah disiapkan oleh pihak manajemen Rumah Sakit sebagai penyelenggara seminar.
Keesokan harinya....
"Selamat pagi Nyonya Juleha, bagaimana keadaan Nyonya? Lebih nyaman bukan saat ini...?" Dokter Anita melakukan kunjungan dan mengecek kondisi Juleha, sambil tersenyum ikut bahagia dengan perkembangan.
"Pagi Bu Dokter, terima kasih banyak sudah memberikan yang terbaik pada saya, hingga saya bisa berangsur pulih kembali."
"Hari ini akan ada kunjungan dari Nona Gulizar bersama Nyonya Anne sudah terjadwal. Keluarga itu yang membiayai seluruh rangkaian pengobatan Nyonya. Dari hasil laporan yang tercatat di Medical Record dari rumah sakit di Singapore, kondisi kesehatan Nyonya sudah berangsur membaik secara signifikan. Selanjutnya kami akan memantau melalui rawat jalan. Jadi Nyonya harus rajin kontrol nantinya setelah kembali ke tempat tinggal nyonya, bagaimana? Sudah rindu suasana rumah tentunya." Binar mata Juleha menatap ke arah Dokter Anita dan itu sudah sebagai jawabannya.
Dokter Anita pamit keluar ruangan, karena segala keperluan untuk memeriksa Juleha sebagai pasiennya sudah selesai. Di saat keluar dari ruangan dan berjalan menuju ruangan berikutnya, Dokter Anita sempat melihat Riris berjalan melenggang bersama Tomo, dengan penampilan seksinya sambil berjalan menenteng tas tangan memasuki ruang rawat Juleha.
"Sayang..."
"Hmmm... Tumben nelpon sepagi ini pada jam kerja, sudah kangen ya...?" Kelakar Ray menjawab panggilan ponsel Anita.
"Jangan mengoda dong, semalam sudah cukup membuat aku lemas, capek tahu! Sayang... Aku ada info, pagi ini Riris bersama seorang laki-laki sedang menjenguk nyonya Juleha, sedangkan hari ini juga bukannya kalian akan datang bertemu dengan nyonya Juleha juga?"
Perbincangan melalui ponsel mereka berlanjut hingga beberapa menit, dengan selingan kekonyolan Ray pada sang istri.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Riris melangkah dengan gaya elegan yang dibuat-buat, sedangkan Tomo yang menemani berjalan di samping Riris dengan dada membusung dengan penampilan sok perlente handalnya.
'ingat! Aku harus bersikap manis di depan siapapun, walaupun sikapku bukanlah yang sebenarnya dan aku akan berbuat baik pada siapapun, asal Palupi bisa aku dapatkan.' Bermonolog Riris mendikte dirinya.
"Ooh... Pagi ibuku..., Apa kabar Ibu!" Riris memulai peran manisnya dengan menyapa Juleha. Mereka berpelukan dan saling bercengkrama, "Ibu, sini Riris yang menyuapi ibu."
Sambil mengulurkan tangannya ia meraih makanan di atas nakas dan menyuapi Juleha dengan telaten. "Ibu harus makan dengan nutrisi yang cukup dan bagus, agar segera pulih dan melihat pernikahan Riris dengan mas Tomo, iya kan Mas?"
Tomo yang tiba-tiba mendengar kata-kata itu tentu saja kelabakan menjawabnya, "eh..., i... iya, iya Bu kami akan segera kawin, eh...iya nikah maksud saya, hhmm."
Riris tersenyum penuh misteri, sedangkan Juleha yang merasakan perubahan akan diri anak semata wayangnya tidak curiga sedikitpun tentang perubahan itu.
"Ibu, apakah Palupi mengetahui kepulangan ibu? Oh... Riris juga kangen dengan gadis malang itu, bagaimana pun juga dia tetap adikku satu-satunya." Ucap Riris dengan senyum jahat menghias wajahnya.
Semakin ke sini Juleha semakin senang mendengar ucapan Riris, dia bersyukur merasa permohonannya terkabulkan pada saat ia melantunkan doa-doanya. Untuk sesaat Juleha melupakan bahwa dia sudah berlaku tidak adil kepada Palupi. Putri kandungnya hanyalah Riris sedang Palupi anak yang terpaksa dia bawa karena mencuri tas milik Anthony.
Dengan menggendong Palupi, semua orang yang melihat Juleha, mengira bahwa dia adalah pengasuh Palupi. Tak seorang pun mencurigai perbuatan Juleha.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
TBC ๐
Sambil menunggu up chapter berikutnya, mampir ke karya kawan Rhuji yuk bestie๐, jangan lupa like jempolnya, favorit and then komen membangun ๐.
Salam Sayang Selalu By RR ๐