
Area 21+ Bocil wajib mlipir
Tak terasa tercipta keheningan suasana makan siang itu. Yang terdengar hanya denting sendok dan garpu oleh penggunanya. Riris mencoba memecah kebisuan,
"Mas..., semalam nggak pulang ya? Tidur di mana? Berbuat apa saja dengan perempuan gatal itu...?" Riris kembali menguyah makanannya, setelah menatap ke arah Tomo.
Tomo yang mendapatkan segala berondongan pertanyaan, hanya menanggapi dengan santai, "makanlah sayang, nikmati yang ada toh kita masih bisa saling menikmati dari masing-masing kemauan kita."
"Mas..."
"Iya, kenapa hhmm..."
"Aku tidak suka kamu berjalan dengan wanita itu. Di mana sih perasaanmu mas? Kau main tikung saja di belakangku, aku tidak terima di beginian Mas."
Mata Riris menatap Tomo lekat lekat sambil menahan air matanya menetes. "Aku mencintaimu Mas, tapi kamu tega mendua, aku berusaha semampu mungkin untuk segera mendapatkan yang aku mau. Terus untuk apa aku mau kita berjuang ...? Semua untuk kita berdua kelak Mas."
"Coba pikir, kurang apa aku Mas..?"
Selera makan yang semula menggugah rasa langsung menjadi surut. Kini hanya amarah yang mewarnai suasana di meja makan itu. Riris menghentikan aktivitas makannya, lalu bangkit dan lari ke dalam kamar.
Jederrr.....
Suara pintu itu tertutup dengan keras. Riris menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur yang masih berantakan bekasnya tidur. Wajahnya ia benamkan di sela-sela bantal dan meluapkan tangisnya
Tomo pun berhenti mengunyah makanannya. Pandangan matanya datar menyaksikan ulah Riris. Setelah minum, Tomo menyusul ke kamar tidur mereka, "jangan buang tenaga untuk sebuah kemarahan. Kalau kau punya rasa, aku pun juga memilikinya. Untuk apa kau meninggikan emosimu kalau hanya untuk masalah ranjang saja!"
"Kalau kamu punya rasa cemburu, bagaimana dengan perasaanku? Apakah kamu juga merasakan apa yang aku rasakan? Atau harus menutup mataku, ketika melihatmu menggelayut manja dengan Oom Bambang? Jawab!"
Dengan tangan kasarnya ia melucuti seluruh pakaian yang Riris kenakan, setelah sebelumnya Tomo melucuti pakaian yang dikenakannya dan hanya tersisa boxernya saja.
"Kau menginginkan aku? Ini aku! Sekarang aku milikmu!"
Jerit dan teriakan Riris tidak sedikitpun ia hiraukan. Dengan kasar Tomo meraup bibir Riris dan melu*matnya dengan brutal dan memaksa Riris membuka mulutnya. Dire*masnya pepaya Riris dengan cara kasar dan lembut. Mendapat perlakuan Tomo yang kasar, membuat Riris menggigit ujung lidah Tomo yang dibalasnya dengan mengalihkan mulutnya ke pepaya gantung milik Riris dan membalasnya dengan gigitan pula. Teriakan Riris menggema di dalam kamar. "Sakit, isshh." Sambil mengeplak kepala Tomo.
Tomo bangun dari tempat tidur dan menarik kuat badan Riris untuk berdiri. "Sekarang maumu apa?" Dengan wajah garang Tomo membentak Riris. Tanpa daya Riris diseret ke kamar mandi dan membawanya ke bawah shower. Tomo memeluk erat tubuh Riris di bawah guyuran air shower.
"Air ini kuharap bisa mendinginkan otakmu yang panas." Ujar Tomo sambil membalikkan badan Riris sehingga membelakanginya, sementara tangannya tak henti meremas lembut buah pepaya gantung milik Riris.
Riris yang mulai tenang emosinya, justru mulai mende*sah saat ujung buah pepayanya dipelintir. Riris pun tak tinggal diam. Tangannya membelai ular cobra yang mulai menggeliat dan menegang dengan cepat. Rem*asan tangan dan permainan lidah Tomo memberikan sensasi yang luar biasa, gerakan dan permainan yang menggugah rasa untuk mereka nikmati bersama.
Mulut Riris pun tidak ingin melupakan bagiannya, lidah liarnya mulai menyesap dan turun ke bawah dengan menjongkokkan tubuhnya, lantas menikmati ganasnya si ular cobra yang sudah men*egang maksimal.
Rintihan Riris penuh dengan tuntutan dengan menempelkan badannya ke badan Tomo. Riris tak henti memainkan tangan dan memijat lembut ular cobra yang ingin segera masuk ke sarangnya. Inci demi inci leher hingga punggung Riris tidak luput dari lum*atan dan gigitan liar Tomo.
Riris menuntun ular cobra masuk ke sarangnya. Tomo menghentak dengan keras hingga ular cobranya menari-nari dalam sarang hangatnya. Mata Riris terpejam dan mend*esah lebih kuat yang memicu adrenalin Tomo untuk semakin memacu ular cobranya berlarian di sarang kesukaannya.
Ritual mandi siang berakhir dengan lolongan keduanya saat sarangnya menjepit ular cobra yang kemudian menyemburkan bisanya yang membuat Riris lemas kelelahan.
Tomo membersihkan tubuh mereka berdua dan mengambil handuk, kemudian membungkus tubuh Riris serta menggendongnya ke tempat tidur.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Ray yang menerima mandat dari Nyonya Anne, segera mendatangi sahabatnya yang seorang Notaris.
"Selamat siang Bro." Sapa Ray kepada Ridwan,S.H.,M.Kn.
Ridwan yang sedang memeriksa dokumen perjanjian clientnya terkejut saat disapa Ray, teman semasa sekolah di SMA.
"Raynaldi, sobatku," sambut Ridwan sambil bangkit berdiri dan menjabat erat tangan sahabatnya itu. Keduanya tertawa gembira karena jarang bertemu. Keduanya semasa di SMA selalu jahil dan sering mengisengi gadis-gadis adik kelasnya, sehingga digelari 'duo brandal kesayangan' oleh teman-teman mereka. Ray dan Ridwan yang juga jago Karate dan Taekwondo, selalu maju lebih dulu membela bila ada siswa dari sekolah lain yang mengganggu gadis-gadis di sekolahnya. Walau sering jahil dan iseng, keduanya sangat ramah sehingga menjadi kesayangan teman-temannya di sekolah.
"Pasti ada hal yang sangat urgent, sampai tuan dedektif meluangkan waktu mampir ke sini." Ray nyengir ditegur temannya karena kesibukan masing-masing membuat keduanya jarang punya waktu untuk bertemu.
"Aku minta tolong dibuatkan Surat Perjanjian yang memuat di dalamnya lengkap dengan Berita Acaranya.
"Wah agak jelimet juga ya kasusnya." Ridwan melontarkan komentarnya setelah mendengar cerita tentang Palupi.
Ray menyerahkan setumpuk dokumen kepada Ridwan untuk segera dibuatkan Surat Perjanjian dan Berita Acara serah-terima semua benda milik Anthony yang dicuri dan dilarikan oleh Juleha.
"Kami juga sangat tidak menduga bahwa ternyata dokumen bersama berlian itu masih disimpan Nyonya Juleha, kalau mencermati dari kasus ini! Juga sedikit agak membingungkan."
Ridwan dapat memahami masalah tersebut.
Lebih lanjut Ray menjelaskan, "Sedangkan berlian itu hanya sebagian yang dia jual. Beruntung juga dokumennya juga masih tersimpan dengan baik."
Urai Ray dengan gamblang.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
kita lanjut lagi kak π semangat pokok e, itu Riris sama Tomo bikin pening kepala aja kelakuan mereka π€§π€§
okelah.... sambil menunggu up chapter berikutnya, ke karya kawan Rhuji yuk kak π€ jangan lupa like, fav, serta komen yang membangun π
salam sayang selalu by: RR π