
Mereka keluar dari area mall dengan berjalan kaki menuju restoran, karena jaraknya cukup dekat. Tercium aroma masakan yang menggugah selera, Liana menggandeng Palupi mencari tempat duduk yang nyaman. Kedua bodyguard pun ikut masuk, namun mereka duduk di meja yang berbeda, dan mulai memesan makanan.
Saat mengedarkan pandangannya, Palupi melihat orang yang dikenalnya, namun Palupi enggan menyapanya.
Namun semakin Palupi cuek, dia semakin mendekat dan menyapanya, "Dik... Apa kabar, tidak sengaja kita berjumpa lagi di sini ya. Kebetulan sekali ini kalau tidak mungkin aku akan kesusahan mencari keberadaan mu."
Ya... Dia Riris, setelah melakukan pertemuan dengan dokter Anita dan membicarakan tentang keadaan serta kondisi sang ibu yang harus melakukan kemoterapi dan tindakan selanjutnya, karena fasilitas peralatan kurang memadai dan harus melakukan rujuk ke Mount Elizabeth Hospital yang berada di Singapura.
"Dik... Maafkan segala kesalahan ibu kita, bagaimana pun juga beliau sudah membesarkan kita berdua dengan susah payah," air mata permainan drama ikan terbang Riris mulai meleleh melunturkan maskara yang ia kenakan.
Albert bersama Zaki tentunya semakin waspada dengan kehadiran Riris. Sebab segala cerita tentang Riris mereka sudah mendapatkan jabarannya dari Ray, dan ini sebuah wanti-wanti bagi mereka selama menjalankan tugasnya.
Liana terkejut dan membelalakkan matanya, seketika ia menghentikan kunyahan makanannya. "Ish... kau menangis, kau mengiba hmmm.... Ish..cyinn... Amit-amit maskara bukan waterproof leleh tuh, amboy... Modal dikit napa sih buat diri sendiri ihhh..., bukan level eyike."
"Liana, biarkan dia bercerita jangan disela dulu. Oh ya kakak, menginjak delapan belas tahun usiaku sekarang ini. Baru terasa manis terdengar dan mesra aku rasakan sebuah panggilan dik dari mulut kakakku yang cantik ini."
"Seratus juta untuk berobat ke Singapura kira-kira cukup tidak sih, kak Riris." Ucapan santai meluncur dari mulut Palupi yang tetap menikmati makan siangnya.
Riris terpaku, dia tidak menyangka jawaban Palupi nyelekit juga, tapi bukan Riris kalau dia menyerah begitu saja, "Dik... Mari kita lupakan cerita lama kita, sekarang demi ibu dik."
"Hmmm," Palupi menghentikan suapannya dan meletakkan sendoknya. "Aku tahu kok, selama ini aku menyebutnya ibu kepada ibumu. Tetapi apakah seorang ibu itu benar-benar seorang ibu? Pada kenyataannya perlakuan ibu kepadaku dan kepadamu berbeda."
Palupi kembali makan dan mengacuhkan Riris.
"Weh...sudah dengar tidak sih... Emak kau itu sakit bukan karena Palupi, dia sakit karena pola hidup yang tidak sehat, lihat eyike yah... Biar begini jalan hidup eiyke higenis loh... Ishh... Gemes bener sama orang model kau ini, dandan menor kek ulet keket aja kantong zonk... Sebel." Mulut Liana nyerocos tanpa menoleh sedikitpun pada reaksi Riris.
Merasa diabaikan Palupi dan Liana, emosi Riris tersulut.
"Hei...kalian berdua, aku ke sini baik-baik ngasih tau kalau ibu Palupi, ibuku juga sedang sakit, dan kamu siapa? Sok ngatur emang kau juragan di sini." Riris tesulut rasa amarah akan tetapi duduknya semakin merapat dengan kursi tempat Palupi.
Dua bodyguard Palupi seketika berdiri dan mendekati meja Palupi. Albert langsung menarik lengan Riris dan menghalaunya.
"Nona silakan pergi, nona kami sedang makan dan tidak ingin diganggu."
Riris menepis tangan Albert, "Hei aku ini kakaknya, dan aku satu-satunya saudara dia, apa salahnya sih." Riris masih saja tidak terima dengan keadaan yang ia dapati saat ini.
Selesai makan, walau tak sempat menghabiskannya, Palupi segera bangkit berdiri dan meraih tasnya. "Sudah... sudah... Albert, Zaki, kita pergi saja dari sini, malu dilihat orang."
Tak banyak bicara, Liana segera pergi ke kasir untuk membayar, sambil menunggu Palupi yang segaja dibiarkan adu argumen dengan Riris.
"Kak Riris maunya apa, jangan memalukan diri sendiri di tempat umum seperti ini."
Palupi menatap intens ke arah Riris, dan melangkah mendekati Liana yang sudah selesai membayar bill makanan mereka.
Palupi lalu menatap Liana. "Kita pergi dari sini, kita ke tempat yang sudah kita bahas semalam, ayo Zaki, Albert." Yang mendapatkan tatapan mata Palupi seakan sudah memahami apa yang diharapkan dari sang Nona.
Riris mengejar Palupi, "Hei... Jangan begini Lupi, aku butuh sedikit uang, untuk kebutuhanku berapa hari ke depan, bisakah kau beri sedikit padaku?" rengek Riris tanpa tahu malu.
"Ish...ish... Gadis menor tidak punya modal kehidupan, ngomong dari tadi kek kalau mau ngemis iihh.... Memalukan," Liana segera merogoh tas yang ia tenteng dan mengambil beberapa lembaran kertas berwarna merah diberikan kepada Riris. "Nih buat modal kehidupan mendatang, ishhh... Cari dong Oom-Oom yang bisa piara gadis seperti kamu, biar nggak ngemis kepada adik yang sudah dibuang tuh..."
Liana buru-buru mengandeng tangan Palupi dan melangkah keluar lalu diikuti dua pria bodyguard itu.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Suster itu dengan telaten merawat dan melakukan segala keinginan Juleha, "suster... Terima kasih banyak, semoga kebaikan suster menuai kebaikan juga."
"Ini sudah menjadi tugas saya nyonya. Untuk saat ini lebih baik nyonya fokus pada kesehatan dulu, jangan berpikir yang berat-berat. Sebab, segala penyakit timbulnya dari ambisi, dan pikiran kita yang tidak wajar."
Juleha mengangguk kembali, dan meminta suster untuk membawanya masuk ke dalam ruang rawat kembali.
Dokter Anita dari jauh nampak mengamati segala gerakan Juleha bersama suster yang merawatnya.
Handphone berdering dari sakunya.
"Ya sayang, di mana?"
"Kita makan siang di food court lantai atas ya, tapi agak terlambat sedikit jalanan macet. Sebentar lagi Palupi menuju rumah sakit."
Teriak Ray kepada istri tercintanya, dokter Anita.
Benar saja, belum juga selesai bicara, terlihat dari balik dinding kaca Palupi berjalan beriringan dengan Liana, menuju kamar rawat Juleha.
Palupi mengetuk pelan pintu ruang rawat, dan membukanya. Pelan-pelan Palupi dan Liana masuk diikuti Zaki, sementara Albert berjaga di depan pintu.
Palupi menyentuh tangan yang terlihat kurus dan rapuh. Juleha masih terpejam seolah enggan membuka matanya. Penderitaan batin mulai menderanya.
"Bu, Palupi datang."
Perlahan, mata Juleha terbuka. Air matanya tiba-tiba meleleh. Diraihnya tangan yang menyentuhnya. Ditariknya tangan lembut itu dan diciumnya, "Palupi, kapan kamu datang, Nak..?"
Hati Palupi tecekat, melihat tubuh yang semakin kurus dan tak terawat. "Maaf, baru sempat menengok." Dengan suara pelan Palupi menjawab.
"Nak, maafkan ibu ya. Ibu sudah jahat kepadamu," dengan berurai air mata, Juleha meminta maaf. "Ibu sekarang sudah menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatan ibu."
"Sudah Bu, jangan menangis. Penyesalan itu selalu di belakang. Semua sudah terjadi." Jawab Palupi sambil mengambil tissue dan menghapus air mata Juleha.
Palupi berusaha tegar menghadapi kenyataan yang ada di depannya. Batinnya bergulat melihat kondisi ketakberdayaan Juleha. Perempuan yang sudah membesarkannya tanpa iringan kasih. Kini dia terkapar tanpa daya.
"Ini siapa, Nak?" Tanya Juleha sambil mengarahkan pandangannya ke Liana. "Kenalin, eiyke Liana, kakak ketemu gede Palupi. Sekarang Palupi jadi adik eiyke...," jawab Liana tanpa memberi kesempatan bagi Palupi menjawab.
Juleha terdiam dapat jawaban menohok dari Liana. Kembali matanya terarah kepada Palupi. Juleha terkejut setelah melihat penampilan Palupi yang berbeda. Di matanya Palupi terlihat bagai seorang putri. Mengenakan gaun mewah, dan dari tubuhnya menguar aroma wangi yang lembut.
"Apakah kamu sudah bertemu dengan orang tuamu, Nak?" Tanya Juleha kemudian. "Bila ibu diberi umur dari Tuhan, Ibu ingin bertemu dan mohon maaf kepada orang tuamu. Ibu akan ihklas menjalani hukuman, bila orang tuamu memasukkan ibu ke penjara. Saat ini ibu sedang menjalani hukuman dari Tuhan." Kembali Juleha meneteskan air matanya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
ish eiyke gumusshhh ishhh ciinnn. lanjut aja ishh ๐คง
TBC ๐