I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 62



Kepulangan Juleha dengan terpaksa di undur, yang seharusnya hari ini sudah bisa pulang, namun harus menunggu sampai kondisi stabil kembali.


Setelah tidak mendapat jawaban dari Juleha, Riris bukannya berdiam diri, tetapi dengan seribu langkah ia keluar dari ruangan Juleha dan melewati lorong koridor rumah sakit menuju ruang Dokter Anita. Tanpa mengetuk pintu, dan tidak menghiraukan peringatan dari suster yang menemani dokter Anita bertugas.


"Dokter...apa yang terjadi dengan ibu saya, kenapa kepulangannya harus diundur kembali? Kalau terjadi apa-apa dengan ibu saya, saya tidak segan-segan akan menuntut kalian." Geram Riris sambil melotot kan matanya menatap dokter Anita. Dengan gaya santainya, Dokter Anita menjawab: "Dan saya juga akan memanggil petugas keamanan untuk menyeret anda keluar dari ruangan saya, pergi! D isini bukan ruangan yang layak untuk anda." Dokter Anita juga tidak kalah garang dengan kelakuan Riris yang sedikitpun tidak beretika.


"Keluar...! Di sini bukan tempat wanita bar-bar tidak tahu sopan-santun seperti anda, dan anda sangat menggangu tugas kami. Hallo security, tolong datang ke ruangan saya." Dokter Anita menaruh gagang teleponnya dan menatap tajam kearah Riris.


"Oh... bukan... bu... bukan itu maksudku dokter! Apa yang terjadi dengan ibuku, aku ingin bicara baik-baik dengan anda Bu Dokter." Riris mengiba dengan menautkan kedua tangannya.


Bersamaan dengan itu dua orang petugas keamanan mengetuk pintu ruang Dokter Anita dan masuk seraya berdiri siaga.


"Nona Riris, ibu anda membutuhkan istirahat total. Sebaiknya anda selesaikan masalah pribadi anda secara kekeluargaan. Rumah sakit fungsinya untuk merawat orang sakit. Tugas kami sebagai tenaga medis adalah merawat dan menangani kesehatan Nyonya Juleha, bukan mengurusi masalah keluarga yang menimpa anda sekalian saat ini."


"Baiklah, saya permisi." Walaupun Riris sudah berusaha untuk bersikap manis dan mengubah penampilannya, namun jiwa noraknya serta penampilannya tetap tidak sulit bagi siapapun untuk menebak, wanita seperti apa sebenarnya Riris itu.


Setelah ia keluar dari ruangan dokter Anita dengan didampingi dua security, wajah Riris semakin menunjukkan kemarahan dan dendam tentunya semakin menggerogoti otak dangkalnya.


'Sudahlah bodo amat dengan aturan rumah sakit, aaahhh dokter itu sialan banget, sok-sokan aja dia. Andai dia bukan istri tuan itu, sudah aku suruh para preman pasar untuk menculiknya dan menggagahinya tentunya, huhh..' batin picik Riris bermonolog dengan otak dangkalnya sendiri.


Dengan rasa yang masih mendongkol, ia keluar dari rumah sakit. Sebuah bangunan besar yang kokoh dan berkwalitas dalam pelayanan. Tomo yang sedikit banyak mengetahui maksud dan tujuan dari kunjungan orang asing itu. Begitu pula apa yang menjadi obsesi Riris untuk mewujudkan mimpinya. Termasuk juga hubungan antara Juleha dan wanita yang bernama Palupi dengan perempuan paruh baya yang cantik dan elegan serta berpenampilan menarik tadi.


"Ris kita ke kontrakan saja, sepertinya aku akan membantumu untuk memecahkan misteri Ibumu." Tomo menarik tangan Riris dan berjalan melambat. "Apa yang kau ketahui mas, katakan!"


"Bisa jadi Palupi adalah anak dari wanita bule tadi, kalau melihat dari penampilan dan wajahnya mereka bak pinang di belah dua, sangat mirip."


"Sayang..., itu tidak mungkin! Palupi adalah anak haram ibuku dengan pria bule yang mungkin kekasihnya dulu, dan mereka telah melakukan hubungan badan tanpa pakai pengaman atau alat kontrasepsi. Percayalah!"


Riris pun kembali berjalan dan diikuti Tomo menuju parkiran motor mereka lalu melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah kontrakan Tomo.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


**Netizen terkasih... Kita intip Liana yuk, semoga dia dalam keadaan baik-baik saja πŸ€—**


Hari kepulangan Liana....


Tubuh indah Liana, dengan dandanan dan penampilan yang tidak akan pernah ia ubah. Berdiri menatap rumah besar dan kokoh, asri namun sunyi itu. Sekian tahun telah ia tinggalkan namun tidak sedikit pun ada yang berubah. Di halaman samping ada ayunan tempat masa kecilnya bermain dengan kedua adik-adiknya Feng Ling dan Mei Ling.


Sosok Papa yang selalu perhatian dan mengutamakan anak-anaknya dari pada kebahagiaannya sendiri, " Ah... Lian... Ayo sini papa obati lukamu. Lain kali kalau naik sepeda hati-hati, jangan sampai terjatuh." Sang Papa mengendong dengan penuh hati-hati membawa Liana kecil menuju bangku panjang dan mengobati luka berdarah akibat terjatuh dari sepeda.


Terlintas juga ingatannya tentang amarah sang papa hingga mengurungnya di dalam kamar mandi karena lupa mengerjakan tugas sekolah, dan ketika malam tiba Liana kecil menggigil demam, sang papa kalang kabut memberikan obat dan menenangkan Liana yang mengigau meminta maaf.


"Papa... Lian pulang, maafkan Lian papa, saya tidak bisa menjadi anak yang papa harapkan dan banggakan." Lirih Liana sambil menundukkan kepala. Bening air mata itu ia biarkan sendiri menggulir jatuh.


Tanpa Liana sadari, dari balik gorden yang menutupi tembok kaca di kamar yang dulu menjadi kamar Liana kecil, sepasang mata menatap tajam, bibirnya bergetar menyebut nama Liana kecil. Tangan tua dan kurus itu dengan sigap menekan tombol kursi roda yang ia duduki.


Pelan ia menjalankan kursi roda elektrik itu, berhenti dengan tatapan mata yang mengembun, dengan dua rasa di hati yang bergulat menjadi satu. Rasa yang saling berlomba antara amarah dan kerinduan pada darah dagingnya yang selama ini ia nantikan.


Dari arah yang berbeda seorang suster berlari kecil dengan rasa was-was takut apa yang terjadi pada tuannya, "Tuan... hati-hati, Tuan menginginkan apa? Mari saya bantu!" Suara gaduh suster muda itu membuat wajah Liana mendongak mencari dari mana asal suara itu. Kelu rasa lidahnya, bergetar hatinya tatkala melihat sosok tua yang ia sebut papa itu.


Sedangkan Handoko Chow, sang Papa juga tergugu menyaksikan anak yang ia tunggu dan rindukan selama ini telah hadir dengan tampilan yang berbeda. Tangan tua itu melambai kepada Liana, "dia, ah Lianku yang hilang telah pulang, dia anakku."


Liana berjalan mendekat, lalu bersimpuh pada kaki Handoko. "Papa, maafkan Lian. Maafkan sudah pergi meninggalkan Papa dan adik-adik." Tangis Liana mengharu-biru hati siapapun yang melihat peristiwa itu. "Lian pulang Pa, Lian rindu Papa." Tuan Handoko meraih bahu anaknya, dan memeluk erat anaknya yang hilang bertahun-tahun dan kini sudah kembali. Mereka bertangisan disaksikan perawat papanya.


Tiba-tiba seorang anak kecil berlari ke arah Tuan Handoko, dan berteriak gembira, "Opaaaa," anak itu berhenti saat menyaksikan kakeknya memeluk wanita cantik sambil menangis.


"Opa... Kok menangis? Tante... Kok juga menangis kenapa...?" Anak laki-laki kisaran usia tiga tahun itu menatap bingung kearah mereka.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TBC πŸ˜‰


Detergen.... Eh netizen ding πŸ€£πŸ˜‚, apa sih rencana bengek Tomo untuk membantu si Riris?..😳


Lalu bocah laki-laki kecil itu siapa ya πŸ€”, bagaimana nasib Liana semoga sang Papa bisa menerima Liana sebenarnya.


Salam Sayang Selalu By; RR 😘