
Selesai kunjungan dari rumah sakit menengok Juleha, Liana memutuskan mengajak Palupi nonton film ke bioskop. Liana sengaja ingin menghibur Palupi agar hati remaja itu tidak terlalu galau setelah menemui Juleha yang terbaring sakit.
"Ciiyn, yuk ah kita nonton. Ada film bagus tuh." Ajak Liana. Wajah Palupi seketika sumringah mendengar ajakan Liana.
Dengan setia, kedua bodyguard itu segera membukakan pintu mobil dan mengarahkan kendaraan roda empat ke plaza yang ada bioskopnya.
Puas menonton dan bermain-main menghibur diri hingga sore, Liana mengajak rombongannya mampir ke apartemennya untuk beristirahat dan membersihkan diri, menunggu malam tiba.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pk.19.00 waktu setempat, Liana dan Palupi bersiap untuk bertemu dengan Ray.
Mobil yang mereka tumpangi perlahan mengarah ke Hamanasa steamboat restauran.
Saat turun dari mobil, banyak mata memandang ke arah Palupi dan Liana yang sedang berjalan beriringan. Keduanya nampak cantik di mata pengunjung restauran.
Liana membimbing Gulizar menuju tempat duduk yang lebih strategis dan nyaman yang menghadap taman yang dapat dilihat dari balik kaca.
Kedua pengawalnya duduk tak jauh dati Palupi, dengan posisi yang memudahkan mereka mengamati sekitarnya dalam menjaga keselamatan Palupi.
Liana tersenyum setelah mereka duduk, Liana mengawali percakapan mereka sambil menunggu kedatangan Ray, "Gulizar, sungguh aku tidak menduga hatimu seluas samudera, memang kalau sudah dasarnya berlian, jatuh di lumpur pun tetap saja berkilau."
Palupi tertawa kecil mendapat pujian yang tiba-tiba dari Liana. "Kamu ini gadis yang luar biasa. Di samping harus belajar beberapa metode melalui schedule yang aku berikan padamu, ternyata aku harus banyak belajar juga mengenai kesabaran darimu."
Palupi makin terkikik geli dan merasa lucu mendengar pengakuan dari Liana. "Ah..itu hanya kebetulan saja Liana, kau kan juga tidak tahu bahwa sebenarnya ada rasa amarah yang aku tahan hingga rasanya ingin main gampar saja, tapi aku tuh takut kamunya jadi berang dengan kelakuanku, jadi ya... Aku urungkan deh.. he...he...he..."
"Dasar... Kau ini..."
Perbincangan konyol Palupi terpaksa berhenti, karena tiba-tiba seorang wanita cantik mendekati tempat duduk mereka dan menyapa Liana dengan keakraban yang sudah terjalin sejak lama.
"Hiii sist Liana aduh..., makin sexy aja. Apa kabar sist, lama tidak jumpa yah kitanya." Sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
" Ini pasti nona Gulizar, hai apa kabar Nona? Saya dokter Anita yang menangani Nyonya Juleha," Anita kemudian melepaskan genggaman tangan Liana dan mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri kepada Palupi.
"Dan dia istriku yang cantik, kalian bisa ngobrol sesuka hati di sini." Ray tiba-tiba muncul di samping Anita sambil memeluk pinggang ramping itu.
Sesaat setelah bersalaman, Palupi celingukan mencari sesuatu yang dirasakan kurang di antara mereka. Ia diam membisu menunggu seseorang yang seharusnya ikut duduk dan bergurau bersama, menikmati makan malam bersama.
Pembicaraan kembali terpotong karena sikap Palupi yang tiba tiba menunduk dan terdiam.
"Gulizar, apa yang terjadi denganmu? Apakah kau kurang nyaman? Atau ada sesuatu yang sedang kaupikirkan?" Liana memberondong pertanyaan pada pada Palupi yang sikapnya berubah drngan tiba-tiba.
"Ray... Di mana John? Bukankah kaubilang dia akan join dengan kita malam ini?"
Candaan dan godaan yang membuat rasa keakraban mereka semakin terjalin lebih erat lagi ketika melihat betapa polosnya seorang Bethany Angelique Gulizar.
"Ya ampun bos Ray, ish...ingin rasanya eiyke jitak aja pala kau tuh andai tidak ada nyonya dokter nih, kejam sangat jahilin anak gadis yang sedang kasmaran." Sungut Liana sambil melotot ke arah Ray yang masih memegangi perutnya karena tertawa.
Singkat cerita....
Setelah mereka selesai makan malam dan dengan berbagai kekonyolan di antara mereka berempat yang ternyata, sama-sama setali tiga uang dengan masing-masing kelakuannya.
Kedua bodyguard ikut senyum melihat keakraban mereka.
Tak lama kemudian seorang pramusaji menghampiri meja mereka dan mempersilakan berpindah tempat ke ruangan khusus bagi mereka untuk mendiskusikan tujuan utama mereka datang bertemu di Hamanasa restoran ini.
Ray membuka lapropnya dan membuka program skype melakukan sambungan Internet wireless, untuk melakukan panggilan kepada John Norman yang berada di Inggris.
Layar laptop itu tepat menghadap kepada Palupi, tentu Palupi adalah orang pertama yang berhadapan langsung dengan lawan bicaranya yaitu John Norman. Setelah tersambung, Ray nemberi ruang privasi dengan meenyingkir dari keduanya saat mereka ngobrol.
"Hi sweetheart... Miss you so hard baby..." John Norman melambaikan tangan nya, sedangkan Palupi masih tergugu memandangi lawan bicaranya.
"Aku harap kau tetap bersabar menunggu aku kembali ke Indonesia dan membawamu pulang bersamaku ke Britania."
Palupi yang semula hanya mampu menatap sendu pada layar laptop, senyum manisnya kemudian mengembang saat melihat pujaan hatinya yang secara tidak langsung telah memberikan percikan asmara, dan mampu memberikan arti sebuah rasa kerinduan yang kini selalu bertandang pada setiap waktunya.
"John, aku senang bisa melihatmu lagi. Hampir seminggu, sejak kaupergi dan sekarang aku bisa melihatmu lagi."
Keduanya berbincang dan suara Palupi terdengar bahagia. Ketiga orang yang menyaksikannya juga turut bahagia dan tak tega untuk menganggu.
Setelah puas ngobrol dan saling mengungkapkan kerinduannya, perbincangan perlahan mengarah kepada persoalan tentang pengobatan Juleha yang harus ia jalani untuk waktu panjang.
Laptop kemudian diputar oleh Palupi mengarah dan mendekatkan pada ketiganya yang setia menunggu kesempatan bicara.
"Hi John perlu kau ketahui, nyonya Juleha harus dirujuk ke rumah sakit Mount Elizabeth di Singapura, karena memerlukan penanganan lebih lanjut." Kata dr. Anita saat dapat kesempatan bicara. Keputusan untuk mengirim pasien ke sana ada di tangan kalian, kami di sini akan mendukung apa pun keputusanmu."
Di sela perundingan antar John denga Ray dan Anita, tiba-tiba Palupi angkat suara,
"John, bisakah kami tersambung juga dengan mommy? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada mommy." Palupi mengutarakan pendapatnya pada John. Ray bersama Anita pun menyetujui dengan rencana yang akan mereka susun bersama.
...****************...
TBC πππ