
Dering ponsel Palupi sejenak menghentikan aktivitas Palupi dengan Liana yang sedang fokus mempersiapkan beberapa gaun pesanan yang di bantu dua orang karyawan Liana.
"Call, for you nona Gulizar! Jangan lupa selipkan kata manis biar tuan Boss makin meleleh, hehehehe," gurau Liana menggoda Palupi yang sedang kegirangan berlari kecil menghampiri ponselnya yang tergeletak di meja tidak jauh dari mereka beraktivitas.
Kerling mata Palupi mewakili godaan Liana sambil mengisyaratkan jarinya di ujung bibir untuk sedikit silent. "Hi j... John,"
"Sayang, seperti janjiku tadi pagi, kita makan siang bersama, tiga puluh menit lagi aku sampai di apartemen Liana kau bersiap-siap ya." Sendu penuh kerinduan dalam tatap mata John saat melakukan video call.
"Tapi nanti kita langsung ke villa kan, John? Sela Palupi sambil tersipu.
"Ya tentu, bukankah your Mom akan berlibur ke Bali bersama bro Beldiq?"
"Baiklah, aku akan segera berkemas dan pamit ke Cici, bye John.."
"Honey... I miss you."
"I miss you too John." Pipi merah merona itu tidak bisa berdusta, bahwa Palupi sedang bahagia namun malu oleh tatapan mata John yang jahil.
Panggilan pun usai lalu Palupi mendekap ponsel yang sudah mati dan memejamkan matanya sambil tersenyum tipis. "Ish... ish... yang sedang dimabuk asmara, uuhhh.... Malu-malu meong beut.. ha... ha... ha..." Liana semakin menggoda Palupi.
Waktu yang di tentukan John telah tiba, 30 menit kemudian Palupi berpamitan kepada Liana, senyum ceria Palupi mengisyaratkan sejuta kebahagiaan yang telah ia raih membawanya ke dalam rasa percaya diri.
Di depan pintu apartemen Liana, John sudah berdiri menunggu Palupi. Kecupan hangat mendarat di ujung kening Palupi, "John, aku malu dilihat Cici tuh...!
"Tenang baby, eiyke tidak lihat, anggap saja eiyke manekin. Awas saja ya! Kalau bikin nona Gulizar menangis akan kugantung kau di gapura villa di puncak, ha..., ha..., ha..." Liana berseloroh membalas candaan John Norman yang selalu ia berikan padanya tatkala mengkhawatirkan Palupi.
John meraih tangan Palupi dan melangkah ke tempat parkir yang berada di basement. Terlebih dahulu ia buka pintu untuk Palupi, krmudian ia berjalan memutar dan duduk di depan kemudi.
"Gulizar, I miss you so much," John meraih tangan Palupi dan menciumnya, menatapnya dengan penuh rasa sayang.
Palupi yang merasa mendapatkan tatapan sedemikian rupa menjadi kikuk.
Ciuman lembut mendarat di dahi, hidung dan berakhir pada bibir mungil Palupi. Nafas mereka seakan memberikan kehangatan di antara dinginnya air-condition mobil.
Kruucuk... krucuk...
"Sayang lambungku menggeliat, hehehe." Palupi malu-malu sambil melepas pangutan mesra John.
John sedikit mengangkat alis dan mengikuti tawa Palupi dengan lepas.
Lantunan musik romantis yang mereka dengar di dalam mobil, memecah kesunyian dan teriknya jalanan aspal kota S. Tangan John tidak pernah lepas dari keusilannya menarik pundak Palupi dari sisi lain dan mendekatkan pada bahunya.
"John, nyetir yang bener kenapa sih! Bahaya loh..., ini jalan raya dan padat dengan kendaraan lainnya." Palupi menolak tangan John, namun dia tetap menyandarkan kepalanya pada lengan John, sebentar kemudian malu-malu Palupi mengecup dari samping wajah John lalu menyandarkan kepalanya kembali.
Akhirnya sampai juga mereka pada area parkir yang luas dengan nuansa tradisional, asri dan sejuk. Sepasang gadis dan bujang dengan dandanan ala tradisional menyambut kedatangan mereka.
"Gulizar... Makan pelan-pelan kenapa harus buru-buru, kamu lucu dengan bibir yang belepotan begini," tangan John meraih tissue dan mengusap lembut bibir Palupi.
"Aku tidak akan meninggalkanmu dan membiarkanmu sendiri tanpaku di sampingmu Gulizar." Kerling genit John menggoda Palupi lagi dan lagi.
"Ish puitis banget
Mas, nanti yang ada bikin aku gendut dengan kata-katamu donk," tawa Palupi sambil memegangi perutnya.
"Mas! That's means gold or what?" Todong John sedikit bingung dengan sebutan dari Palupi yang baru saja ia dengar.
"Di sini yang di maksud mas itu adalah semacam panggilan, contohnya mas John dan itu kamu bukan gold beda jauh deh,"
"Titel baru buat aku?"
Ha... ha... ha...
Tawa bahagia mereka pecah di sela-sela makan siang yang itu terlihat sangat mengasyikkan bagi mereka berdua.
Tidak jauh dari sudut ruangan tempat mereka, terlihat Ray dan Anita yang juga berada di tempat yang sama tanpa ada janji temu.
"Sayang, lihat mereka! Pacaran gaya apa itu. Tapi sungguh dunia detektif yang John geluti ternyata tidak menggambarkan dia sebagai laki-laki yang ngawur," gumam Ray sambil mengunyah makanan.
"Mereka pasangan yang sama-sama beruntung ya Mas. Walau perbedaan usia mereka agak jauh, tetapi cinta telah menyatukan mereka." Ray tertawa mendengar celoteh isterinya. "Gak terlalu jauh juga. Masih wajar kok. Lagi pula pria Inggris kebanyakan menikah di atas usia tiga puluh tahun. Yah, sekitar usia 33 tahun hingga 36 tahun, karena mereka ingin mapan dulu dan menikmati masa muda mereka. Jarang pria barat yang menikah di bawah usia 30 tahun." Anita tertawa mendengar uraian Ray. Keduanya menikmati makan siang tanpa berusaha mengganggu John dan Palupi yang saling suap.
"Mas, nanti kembali ke kantor apa langsung pulang?" Tanya Anita setelah mereka selesai makan. "Aku mau pulang saja, badanku capek sekali. Kita pulang saja, terus ehhmm, ehhmm, mumpung anak kita di rumah eyangnya." Wajah Anita merona seketika. "Dasar suami mesum. Masih kurang saja, padahal semalam sudah bikin aku kelelahan," sungut Anita yang ditanggapi dengan kekehan sang suami karena berhasil menggoda isterinya.
Tawa Ray tertangkap di pendengaran John. Dia langsung berdiri dan mengedarkan pandangannya. John tersenyum saat melihat Ray yang melambaikan tangan. John kembali duduk dan melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan, John dan Palupi mendekati Ray dan Anitha yang juga sudah selesai makan. Mereka ngobrol hingga tak sadar telah beberapa puluh menit berlalu. John memanggil pelayan dan meminta bill dua meja. Tak lama pelayan kembali dan menyerahkan bill, sedangkan John menyerahkan Amex credit card untuk digesek. Ray hanya tersenyum saat tahu John yang membayar makan siang mereka. Sambil berjalan ke luar, John mampir ke kasir untuk memasukkan pin dan mengambil kartunya dari kasir. Mereka akhirnya berpisah di tempat parkir. Dua pasangan penuh kasih itu masuk ke mobilnya masing-masing untuk kembali ke tempat tujuan masing-masing.
Perjalanan menuju villa sangat dinanti oleh Palupi. Setelah saling bertukar kabar, Palupi memberitahu mommynya bahwa dirinya dan John sudah dalam perjalanan menuju villa. Palupi menginginkan mommynya juga segera pulang ke villa.
Anne yang sedang makan siang berdua Beldiq, gembira saat menerima khabar bahwa putrinya mau pulang ke villa. "Hon, kita selesai makan langsung check out ya. Gulizar sudah dalam perjalanan ke villa. Aku sudah rindu tidur memeluk putri yang telah kutemukan. Kami akan bikin 'me time' berdua." Beldiq hanya tersenyum mendengar keinginan calon isterinya. Baginya kebahagiaan Anne saat ini yang utama.
Sementara itu di kota M, setelah kepulangan Tomo, Bambang masih dengan setia menunggu Riris yang sedang bedrest dan menjalani pengobatan agar janinnya dapat terselamatkan. Perubahan sikap Bambang terhadap Riris mulai dirasakan oleh Riris. Hatinya mulai bimbang.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
To be continued π
Sambil menunggu update di chapter berikutnya, kita buka novel sahabat Rhuji yuk kak π€
di jamin istimewa ceritanya π
Love and sayang always by RR ππ