
Anne menatap lekat ke arah Juleha, rasa benci, iba dan marah berbaur menjadi satu. "Nyonya Juleha, mungkin hanya kata maaf yang nyonya harapkan dari kami. Tetapi ketahuilah, aku dipaksa harus terpisah dengan buah hatiku selama empat belas tahun. Ibu macam apa anda yang tega melakukan perbuatan semacam ini. Lihatlah gadis yang seharusnya bertumbuh dan berada dalam pelukanku, juga mendapatkan kasih sayang dariku sebagai ibu kandungnya," sambung Anne sambil menunjuk Palupi yang tertunduk sedih.
Semua terdiam, saat Anne meluapkan rasa yang menekannya ketika berbicara kepada Juleha. "Apakah nyonya juga tahu, suami saya berjuang mencari putri kami? Tak sedikit uang dan harta yang kami korbankan untuk membayar dedektif dan mencari berita, karena kami meyakini putri kami masih hidup. Masih belum cukup penderitaan yang mendera, saya juga akhirnya kehilangan suami yang tewas dalam kecelakaan pesawat terbang dalam upayanya mencari putri kami. Anda tahu Nyonya? Masih beruntung saya tidak gila." Berat terasa bagi Anne untuk menerima kenyataan ini.
Semua yang berada di dalam ruangan terperanjat dengan suara Anne yang pelan namun menghujam.
Juleha tergeragap mendengar kata-kata yang terucap dari bibir tipis Anne. "Nyonya, katakan apa salah kami kepada anda? Di kapal pun kita tak saling mengenal. Apa dosa putri saya sampai anda melakukan human trafficking? Satu lagi, ini sangat tidak adil bagi anak saya. Apa dosa anak saya hingga anda tega menjual tubuhnya kepada lelaki hidung belang. Putriku bukan pela*cur. Harga dirinya jauh lebih mahal dari nilai nominal yang anda tentukan. Tak ada yang mampu mengukur rasa sayang saya sebagai ibunya, tidak juga anda." Emosi Anne memuncak dan tanpa ada yang menyadari, tangan Anne menampar dengan keras wajah Juleha yang berurai air mata penuh penyesalan.
"Saya akan menuntut anda! Tapi apakah ini sebuah keputusan yang bijaksana? Sedangkan anda sendiri dalam keadaan terkapar tak berdaya begini. Saya akan memastikan hukum di negara ini akan menjerat anda!" Gemetar tangan Anne mengepal, bibirnya bergetar saat berbicara meluapkan rasa yang menyesak di dadanya. Siapapun akan sulit menerima kenyataan seperti ini.
Palupi mendekat dan menarik Anne mundur kemudian merangkulnya. Begitupun dengan Beldiq, meraihnya ke dalam pelukannya. Dia merengkuh tubuh Anne sekaligus Palupi, mereka bertiga dalam satu pelukan, "calm down darling, it's oke!"
"Mommy..." Palupi di antara kegundahan hati dan pikirannya, ia berusaha memberikan rasa nyaman dalam pelukannya untuk Anne. Air mata Anne da Palupi menetes tak terbendung yang berubah jadi tangisan sedih.
Ray bangkit dari duduknya, iapun mendekati brankar dan berusaha menenangkan Juleha yang menangis tersedu-sedu menyesali dirinya sendiri, sementara kini dalam kondisi keterpurukannya, ia berusaha menerima apapun yang yang harus diterimanya saat ini. "Tenang dan sabar nyonya, semua akan baik-baik saja." Hibur Ray yang khawatir Juleha akan kembali drop dan menggagalkan rencana yang sudah disusunnya.
Ruangan sesaat penuh dengan kesesakan. Emosi penuh amarah di dada Anne dan Palupi masih membuncah, namun harus mereka lebur sendiri. Hening beberapa waktu, hingga Juleha membuka suara lagi masih dalam isakannya. "Ampuni saya Nyonya, saya akan menerima dan menjalani hukuman apapun yang akan dijatuhkan kepada saya." Ucapnya masih tergugu. "Tuan Ray... Saya sadar, dosa dan kesalahan saya tidak termaafkan. Saya mohon segera datang ke rumah saya untuk menyelesaikan kewajiban saya, Tuan. Saya siap bertanggung jawab atas perbuatan saya. Saya masih menyimpan tas berisi dokumen beserta barang berharga milik Tuan dan Nyonya Anthony.
Pegawai Notaris itu, diam-diam merekam peristiwa tersebut. Sebagai warga negara, dia sangat malu saat tahu ada seorang ibu di negaranya yang tega dan berbuat jahat menculik anak orang asing, bahkan setelah besar anak itu dijual untuk dijadikan pela*cur. Kejahatan Juleha termasuk pelanggaran HAM berat yang dapat terancam pidana berat bahkan ada kemungkinan terancam hukuman pidana mati.
Suara tangis Juleha menarik perhatian perawat yang melintas di depan ruang rawat Juleha. Bersegera dia kembali ke nurse station dan menghubungi Dokter Anita. "Dok, ada suara tangisan yang mencurigakan di ruang rawat pasien atas nama Nyonya Juhehartini." Lapor perawat tersebut. "Baiklah Sus, saya segera ke sana untuk mengeceknya." Jawab dokter Anita yang segera berjalan cepat.
Dokter Anita melihat kedua bodyguard berdiri di depan pintu. Dari situ akhirnya Dokter Anita tahu bahwa suaminya dan rombongan Nyonya Anne sudah ada di dalam ruang rawat Juleha. Albert segera membukakan pintu saat Dokter Anita sampai, dan mempersilakannya masuk. Semua orang melihat ke arah pintu yang terbuka. Dokter Anita menyapa tamu pasiennya, "maaf, saya akan memeriksa pasien saya dulu." Sambil mendekati brankar si pasien. Semua yang duduk dan berdiri du dekat brankar langsung beejalan ke arah sofa untuk meredakan emosi yang sempat terpicu.
"Lho, kok nangis Bu Juleha? Ingat lho, harus dijaga emosinya. Sekarang kan kondisinya sudah mulai pulih. Ada kemungkinan besok sudah bisa pulang bila hasil lab menunjukkan hasil yang positif. Sekarang tenangkan dulu pikiran dan perasaan Ibu Juleha." Nasihat Dokter Anita kepada pasiennya.
Semua orang mengangguk dan bersiap keluar. Palupi kembali mendekati brankar Juleha. "Lupi pamit ya Bu." Juleha melihat ke arah Palupi dan berkata, "Maafkan ibu, Nak. Ampuni ibu yang sudah berdosa kepadamu." Palupi mengangguk, suliit mulutnya berucap, karena tak sanggup berkata-kata.
Semua yang ada di ruang rawat Juleha keluar. Hanya Ray dan Palupi yang berpamitan kepada Juleha. Rombongan itu berjalan ke luar meninggalkan rumah sakit. Ray kemudian mengajak semuanya untuk makan siang bersama, sambil membahas rencana kunjungan ke rumah Juleha yang akan didampingi Kapolres kota S.
Tak sengaja dari kaca ruang food court Riris melihat rombongan Palupi berjalan ke area parkir untuk pergi. "Mas Tom, kita kembali ke kamar Ibu. Itu tamunya Ibu sudah pergi." Rengeknya kepada Tomo yang sedang menyesap kopi.
Akhirnya Tomo menuruti kemauan Riris untuk kembali ke ruang rawat ibunya. Sesampainya di ruang rawat, Riris bertemu dengan perawat yang sedang memasang infus di tangan ibunya. Riris terkejut dan berlari mendekati ibunya.
"Ibu, apa yang terjadi? Kenapa Ibu dipasangi infus lagi? Apa keluarganya Palupi berbuat jahat? Kenapa Ibu nangis?" Riris bingung melihat ibunya yang masih terseguk-seguk habis menangis dan mengelap matanya dengan tissue. Tomo hanya melihat tanpa berusaha campur tangan karena dia memang tak tahu ada masalah apa antara Juleha dan keluarganya Palupi.
Melihat anaknya datang dengan panik, Juleha meraih tangan anaknya. "Ibu tak apa-apa. Mereka tidak salah. Ibu yang salah. Ibu tak tahu ada gunung yang begitu tinggi. Biarlah semua ini ibu tanggung sendiri." Riris makin bingung dengan jawaban ibunya. "Di sini tak ada gunung, Bu." Jawab Riris yang tak paham dengan ucapan ibunya.
"Kamu tak akan pernah tahu, Nak. Ibu berharap, kamu jadilah perempuan yang baik." Ucapan ibunya ternyata sangat sulit dipahami oleh Riris. "Bu, tolong katakan. Apa yang sudah terjadi? Aku betul-betul bingung." Masih dengan memegang tangan Juleha. "Nak, jangan bertanya dulu. Ibu lelah sekali. Nantilah, ibu akan ceritakan." Ujar Juleha yang kemudian memejamkan matanya. Mulutnya terkunci tak sanggup bercerita.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
TBC π
nah loh Riris π€§
kita lanjutin ke next chapter Mak, like komen ya Mak!
Salam Sayang Selalu By; RR π