
Malam yang bertabur bintang, suasana sejuk yang tidak biasanya di kota S memberikan tiupan bayu membawa kenangan hingga akhir hayat kelak.
Dua insan sesama jenis namun berbeda gender itu lepas tertawa bahagia. Malam belum larut cahaya bulan menerobos melalui celah sunroof mobil yang mereka tumpangi, seolah ingin ikut andil rasa bahagia yang Palupi alami.
Namun bukan pada rasa Liana yang semakin dirundung kebimbangan, antara ingin dan engan menyatu mengorek hatinya nan rapuh. "Liana, kau belum menjawab semua pertanyaanku! Apa yang terjadi pada dirimu? Aku tau kau saat ini tidak sedang dalam kebimbangan, ceritakanlah! Mungkin aku bisa sedikit membantu." Suara Palupi menghentikan tawa mereka.
Liana menoleh sesaat dan menepikan mobil yang mereka tumpangi, "kita berhenti di taman itu."
Hening..... Hanya irama musik Budi Doremi mengalun pelan, pandangan mata Liana jauh menatap temaram kegelapan.
Palupi dengan setia menanti sebuah jawab. "Gulizar... Esok aku harus pulang. Keluargaku menunggu kepulanganku, entah apa yang akan terjadi kelak, aku harus sanggup menerima konsekuensinya dari keluarga." Tangan Liana menggenggam erat kemudi hingga memutih jari-jarinya.
"Pulanglah Liana, seburuk apapun kita sebagai anak di mata dunia sekalipun, namun..., kita tetap kecil di mata orang tua kita. Sehina apapun kita di mata masyarakat, orang tua kita tidak mungkin membuang begitu saja status anak yang pernah mereka timang sejak dalam kandungan, karena dengan cinta mereka orang tua kita, kita bisa hadir di sini."
Liana terpana mendengar ucapan yang ia dengar pelan, namun mampu mencubit jiwa rapuhnya. "Ha... ha... ha..., My angel... Darimana kau bisa bicara seperti itu? Ya, aku akan pulang tapi aku janji aku akan kembali bangkit seperti kemarin lagi."
Liana memeluk Palupi, air mata mereka berurai tangis dalam tawa, memberikan kekuatan satu sama lainnya. "Nasib kita sama Liana, hanya versi kita yang beda. Aakhh... ironis memang."
Mobil itu melaju kembali, kali ini pelan melintasi keramaian kota berjajar lampu pijar, mereka menyanyikan lagu yang sama mengikuti irama pelan lagu yang mereka putar.
Liana membawa arah mobil ke sebuah jalan, memasuki sebuah kompleks perumahan elite. Rumah bercat putih itu, berpagar tinggi kokoh pilar nan tinggi menjulang hingga ke lantai dua. Lampu taman temaram, sepi...
"Rumah siapa...?" Palupi menatap kearah Liana yang masih tergugu, menatap penuh kesedihan. "Ini rumah masa kecilku, Palupi, aku harus pulang ke sini besok. Entahlah, aku ragu apa mereka akan menerima keadaanku saat ini?"
Tangan Palupi Meremas tangan Liana, lalu ia merebahkan kepalanya pada pundak Liana. "Pulanglah...! Lawan ketakutanmu. Bila mereka tidak menerimamu, kembalilah kau padaku. Karena aku adalah bagian dari rumahmu."
Mereka lantas saling memeluk dan tersenyum saling menguatkan, "yakinlah Liana.... Kau bisa, hhmm..."
"Kita pulang, sudah larut," Liana kembali memutar haluan mobilnya dan melaju santai mengarah ke apartemennya sendiri.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Dering telpon berbunyi nyaring di salah satu kamar di hotel Sheraton itu, waktu sudah menunjukkan Pukul 09.00 pagi. Waktu yang ditentukan oleh Ray untuk bertemu dan merundingkan jadwal kegiatan Nyonya Anne agar dapat berjumpa dengan pejabat yang akan membantunya.
Sejam kemudian Ray meluncur ke hotel Sheraton. Ray sudah menyiapkan mobil lengkap dengan sopirnya yang akan bertugas melayani Tuan Beldiq dan Nyonya Anne selama mereka berada di Indonesia. Sang sopir juga memiliki kwalifikasi sebagai pemandu bagi tamunya sesuai persyaratan sebagai sopir bagi orang asing yang punya kedudukan setara pejabat.
Ray menunggu Tuan Beldiq dan Nyonya Anne turun dan menemui di restoran hotel untuk sarapan walau jam sarapan sudah terlambat. Mereka membahas acara pagi itu, yakni menemui Notaris untuk mengambil dokumen Pernyataan dan Berita Acara yang sudah ditandatangani oleh Juleha, sebagai modal bagi mereka mengambil tas milik Anthony yang berisikan dokumen perjanjian dan perhiasan milik Nyonya Anne.
Semua rencana berjalan dengan lancar sesuai apa yang mereka harapkan. Karena usia Palupi masih 17 tahun, dia masih termasuk usia di bawah umur, maka segala kepentingannya masih berada di bawah tanggung jawab orang tua kandungnya. Namun demikian, Palupi sudah berhak mendapatkan passport atas namanya sendiri yang diterbitkan oleh Pemerintah Inggris melalui Konsulatnya yang ada di kota S.
Selepas dari kantor konsulat, Ray dijemput sopirnya untuk kembali ke kantornya. Sopir yang bertugas mengantarkan Anne dan Beldig langsung mengarah ke alamat apartemennya Liana karena sudah saatnya menjemput Palupi yang masih menunggu dijemput di apartemen Liana. Dengan langkah berlari kecil Palupi menyusuri lorong koridor apartemen menuju lift. "Hi... Mommy.... hi Uncle... maafkan Lupi jadi merepotkan kalian," senyum itu masih saja canggung. "Eemm... Mommy, Uncle Kita pulang ke villa kan?"
"Ayolah baby... Belum sekalipun kau menyapaku dengan sebutan yang lebih akrab dari pada sebutan uncle," Beldiq rupanya merajuk.
"Oh Tuhanku, he... he... he.., jangan merajuk sedang proses Uncle, sabar." Kerling mata Palupi menggoda pasangan Anne yang dalam waktu dekat bisa jadi mereka akan menikah.
Mobil melaju dengan kecepatan standard, menuju puncak di mana villa John berada. Mereka saling bercanda, bercerita. Palupi yang duduk berdampingan dengan Anne tidak pernah melepaskan diri dari pelukan Anne, kecupan demi kecupan selalu Anne berikan seakan tidak akan pernah ada puas puasnya ia lakukan itu.
"Mommy... Apakah John akan lupa jalan kembali ke Indonesia? Kenapa lama sekali...?" Ucap Palupi tiba-tiba.
"Ha..ha..ha...kau merindukan dia anakku? Katakan iya." Beldiq begitu saja memotong percakapan itu. Palupi yang sadar akan kata-katanya baru saja menutup mulutnya dan tersenyum malu-malu. Anne melebarkan matanya dan menggelengkan kepalanya, "sayang... Ternyata John kerasan di Indonesia ternyata sedang menemukan berlian di sini."
"Apa yang sudah ia lakukan bujang tua itu padamu sayang? Hemm.. dia harus bertanggung jawab, kita menikah bareng saja honey, gimana ? Deal..." Tantang Beldiq kepada ibu dan anak yang disayanginya itu.
"Oh, no..., no..." Putriku masih punya masa depan yang harus diperjuangkan. Lagi pula Gulizar masih di bawah umur." Jawab Anne sambil memeluk erat Palupi yang tersenyum malu-malu.
"Ihh... Uncle, aku sayang John, tapi..." Sahut Palupi sambil memainkan jari-jarinya. "Tapi... apa sayang?" Tanya mommynya sambil menarik dagu putrinya mendengar ucapannya yang menggantung.
"Aku masih ingin kuliah, tapi boleh gak orang kuliah sambil pacaran?" Meluncur begitu saja pertanyaan yang polos dari mulut Palupi. Kepolosan Palupi mengharukan hati Anne sebagai seorang ibu.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
TBC ๐
Boleh donk pacaran ya Mak ๐คญ, janji nggak aneh aneh kecuali kepepet ๐คฃ๐คฃ
Sambil menunggu up chapter berikutnya, mampir ke karya kawan Rhuji yuk bestie๐, jangan lupa like jempolnya, favorit and then komen membangun ๐.
Salam Sayang Selalu By; RR ๐