
PoV Handoko
☆☆☆ Dalam ilmu psikologi, secara umum menyebutkan hubungan intens yang manis dan indah antara orang tua dan anak tercipta saat anak dalam tahap golden age. Di usia itu hubungan indah dan kasih sayang orang tua tercurah penuh. Di fase ini terjadi pembentukan kepribadian yang baik dan sikap menghormati orang tua dan sesama, dan pembentukan jiwa yang rendah hati, melahirkan relasi yang intens. Hal ini dapat terlihat dari kwalitas hubungan di saat anak dalam fase golden age.☆☆☆
Begitu pula yang terjadi pada Lianto Simon Chow dengan panggilan sehari-hari Ah Lian. Merupakan sebuah kebanggaan yang mengakar dalam tradisi masyarakat Tiong Hwa, bila yang lahir anak pertama adalah anak laki-laki, maka segala macam bentuk perhatian dan kasih sayang tercurah penuh saat menyambut kelahirannya, relasi orang tua dan anak yang tak dapat dipatahkan oleh apapun jua.
♥️♥️♥️♥️
'Kok jantungku agak berdegup ya pagi ini? Kenapa firasatku mengatakan hari ini ada yang spesial? Ah... Kerinduanku padanya tidak mungkin pudar. Biar bagaimana pun dia tetap anak sulungku. Kembalilah Lianto, papa akan menerima dan memaafkan apapun bentuk kesalahan yang telah kauperbuat.' Firasat tuan Handoko akan kehadiran sosok Lianto yang telah ia nanti sekian tahun mampu memberikan guncangan rasa dalam batin seorang ayah dalam penantiannya.
'Apapun yang terjadi pada putraku, aku akan tetap mencintainya. Putraku adalah harapanku. Penolakannya dulu memang menyakiti hati orang tua dan hati keluarga besar kami. Terlalu drastis langkah yang diambilnya dengan pergi meninggalkan keluarganya. Ah Lian memilih jalannya sendiri dengan caranya sendiri. Aku yang terlalu keras dan bodoh. Anak itu hatinya terlalu lembut seperti mamanya.' Tuan Handoko meratapi putranya dalam hati.
Andai waktu dapat diputar, ingin dia kembali ke masa-masa dia bertengkar dengan putranya. Andai saat itu hatinya melunak dan mencari tahu apa yang terjadi dengan putranya. Andai saat itu dia mau mendengar alasan putranya menolak dijodohkan. Dan sejuta andai itu kini masih menggelayut dalam benaknya.
Kenyataan itu kini mendukakan hatinya.
Jiwanya dipenuhi kerinduan tanpa batas terhadap Lianto putra pertamanya. 'Aku akan menyambutmu tanpa bertanya apa yang telah kaujalani dan kaualami dalam hidupmu, anakku. Aku hanya ingin memelukmu seperti aku memelukmu saat kau masih kecil. Akan kulupakan semua kemarahan dan pemberontakanmu.
\=\= PoV Handoko end
Cahaya mentari yang hangat menerobos melalui celah tanaman hias yang menggantung rapi dan cantik di deretan teras samping kamar yang ditempati tuan Handoko yang sebelumnya adalah kamar Lianto.
Sebuah kerinduan yang sulit ia terima dengan keadaannya dan ruang gerak yang sangat terbatas karena kondisi kesehatannya. Tuan Handoko memilih kamar dan barang-barang serta kesukaan milik Lianto sebagai pengobat kerinduannya.
Tidak seperti biasanya tuan Handoko bersemangat pagi ini. Senyumannya itu membawa cerita tersendiri bagi suster yang merawatnya selama ini, "Tuan Han... Selamat pagi... Tumben masih pagi sudah bangun saja."
"Saya mau cukur Sus, pakaikan baju yang warna krem ya, itu warna kesukaannya. Hari ini Feng Ling juga waktunya membawa Mario ke sini, saya mau tampil beda suster, bantu ya." Senyum Handoko mengembang tampak gurat tampan dan gagah masih tersisa pada usia senjanya.
Dari jarak beberapa meter terdengar deru mobil berhenti. Sosok ramping, dan semampai itu melangkah ragu. Cantik... Anggun, Surai ikal indah menjulur gemulai tertiup angin semilir.
Mata tua Handoko walau telah berkacamata, terperanjat dengan pemandangan itu. Dengan ragu-ragu ia coba memastikan pandangan matanya. ia membuka pupil matanya lebar-lebar, melepas kaca matanya dan mengucek-ucek kembali. Spontan terucap, "Lianto... Ah Lian...?"
Untuk beberapa saat ia kembali mengamati inci demi inci walaupun kurang jelas dalam pandangannya, bukan berarti tuan Handoko akan lupa kebiasaan dan gerakan tubuh Liana ketika ia sedang dalam keadaan panik berbuat kesalahan ataupun merasa kebingungan.
Blouse yang Liana kenakan terlihat anggun dalam paduan warna dan mode, aaah.... Liana memang lady boy pilihan the best andai ada sebuah ajang penilaian bakat, namun tangan Liana tidak lepas dari pengamatan tuan Handoko yang dari tadi diam-diam mengamati dari sisi samping, di mana ia duduk di atas kursi roda.
Itu adalah kebiasaan Liana sejak kecil jika melakukan kesalahan, dia akan berdiri berdiam mematung dengan memainkan jari-jarinya dengan baju yang ia kenakan dan ternyata itu kebiasaan hingga sekarang masih intens ia lakukan.
"Benarkah..." Rasa tidak percaya itu membuat Handoko menjalankan kursi rodanya menuju pintu utama rumahnya, sesaat mata mereka saling beradu pandang, senyum Handoko melupakan semua rasa sakit yang selama ini ia derita.
Tangan Handoko melambai-lambai berharap Liana mendekat kepadanya, perlahan ia menggerakkan kaki-kakinya yang selama ini sulit ia gerakkan, derita osteoporosis selama ini sangat menganggu segala aktivitasnya.
Sekali lagi tuan Handoko melambaikan tangannya, air mata itu lolos juga saat melihat anak yang selama ini dirindukannya, telah kembali walaupun tidak dengan ekspektasi yang di harapkan semula.
Mau tidak mau, rela tidak rela tuan Handoko pun harus menurunkan egonya. Perlahan kembali ia melambaikan tangannya lalu merentangkan kedua tangannya berharap Liana mendekat dan kembali dalam pelukannya.
"Papa... Pa... Maafkan Liana." Liana berlari bersimpuh pada kedua kaki tuan Handoko memohon segala kesalahan yang telah ia perbuat selama ini.
Mukjizat pun menjawab sebuah misteri. Tuan Handoko mampu berdiri dan membalas pelukan Liana. Kerinduan itu seakan enggan lepas dan menghindar dari pelukan mereka. Kaki tuan Handoko yang lumpuh pun tanpa ia sadari telah mampu berdiri tegap dengan keseimbangannya.
"Jangan pergi lagi Lian, papa mohon! Papa akan menerimamu, bagaimana pun keadaanmu. Papa juga minta maaf atas sikap keras papa dulu, yang mengakibatkan kita sama-sama terluka dan berujung pada kerenggangan di antara kita." Tuan Handoko berbisik sambil menenangkan isak Liana emosi kerinduan itu memberikan kenyamanan tersendiri.
Ya, luka batin itu terlalu menganga lebar. Dibutuhkan sikap dewasa dari kedua belah pihak. Kini sang ayah telah menyadari kesalahannya. Sementara sang anak jiwanya bersujud memohon pengampunan. Tanpa mereka sadari tercipta rekonsiliasi karena cinta yang timbal-balik beralaskan kerinduan.
Sekumpulan burung prenjak tiba-tiba hinggap di pohon mangga di sudut halaman rumah. Riuh kicauannya yang saling bersahutan menerbitkan senyum setiap orang yang mendengarnya. Seolah itu adalah pertanda awal hari menuju pada suasana yang ceria. Akan hadir keluarga yang dirindukan.
Kini kerinduan terjawab, akankah kebahagiaan dapat diraih? Sikap 'legawa' merupakan ajaran yang diturunkan dari para sesepuh dari masa ke masa, untuk menerima kenyataan yang terpampang di depan mata. Dan sikap inilah yang diambil oleh sang ayah saat memeluk putranya yang telah menjadi putri.
Pelukan sang ayah bukan sekedar ungkapan rasa rindu. Jauh di dalam sana, di lubuk yang paling dalam ada cinta yang tulus. Cinta seorang ayah bagi anaknya yang tak tergantikan oleh apapun di dunia ini. Sementara itu bagi Liana, pelukan erat sang ayah lebih besar nilainya dari sekedar pengampunan. Ada rasa yang mengalir dan menyejukkan jiwanya. Rasa damai yang membuai seakan kembali seperti saat berusia balita. Ada tangan kokoh yang menopangnya. Kasih orang tua tak dapat diukur dengan ukuran apapun di muka bumi ini.
TBC 😉
Sambil menunggu up chapter berikutnya, mampir ke karya kawan Rhuji yuk bestie😉, jangan lupa like jempolnya, favorit and then komen membangun 👍.
Salam Sayang Selalu By; RR