
Mata nanar Riris mengamati di setiap jalur yang baru saja dilewati Tomo, sepintas lalu terlihat jelas ia menaiki motor Kawasaki barunya, yang sebulan lalu dibeli secara tunai di dealer dengan uang hasil kiriman kekasih gelapnya yang bekerja sebagai TKW di luar negeri.
Perlahan kemudian Riris menepikan mobil yang ia kemudi sendiri, sambil bersungut dibakar cemburu yang memuncak. Ia merogoh hand phonenya di dalam tas.
'tut... tut... tut... nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan...' suara balasan dari operator ponsel miliknya. Jawaban operator kian menambah rasa jengkelnya saja.
"Oh..., ini tidak mungkin, aku sepertinya harus membalas perbuatan Tomo, ternyata dia tetap saja main comot para wanita ****** itu," sambil uring-uringan kembali Riris mengambil ponselnya dan memencet nomor telepon Tomo kembali.
"Ya hallo,"
"Mas Tomo di mana? Masih saja membawa keluyuran wanita-wanita itu ya? Hmm." Emosi Riris seketika tersulut setelah mendengar suara Tomo.
"Kamu kenapa Riris, sudahlah jangan menyakiti perasaanmu sendiri, bukankah kita sama saja?"
Riris semakin kalap saja berbicara, untung di dalam mobil, jadi tidak ada yang mendengar suara dia yang sedang berteriak seperti orang kesurupan, "kamu gila mas! Semua keinginanmu sudah aku turuti, tapi kamu masih saja sesuka hatimu," teriaknya.
"Sudahlah Ris... Lupakan kesetiaan itu, toh kita masih bisa saling menikmati. Akupun tidak pernah melarangmu melalui malam panjangmu dengan siapapun. Simpan amarahmu sayang hmm..., sisakan tenagamu, sebab esok aku akan menagih rasa tubuhmu yang mengemaskan itu."
Sesaat kemudian Tomo mematikan sepihak panggilan ponsel Riris, sedangkan Riris terdiam tidak bisa berbuat banyak. Mau berjalan mencari keberadaan Tomo pun juga tidak mungkin, ia merasa frustrasi dan akal liciknya kembali bekerja keras.
'Akan segera aku lakukan apa yang selama ini tertunda, tunggu saja! Aku akan mengambil kembali Palupi, dan aku berikan kepada Oom Bambang. Aku yakin walaupun ia tidak perawan lagi, tapi setidaknya tubuh dia masih kenyal dan sedikit sexy walaupun tidak semontok tubuhku, aku akan menawarkan dia ke Mama Santi mucikari salon Scorpions setelah itu.'
Riris memutar kembali mobilnya melewati jalan yang tadi ia lewati, menuju tempat di mana ia mangkal untuk mencari mangsa pria hidung belang. Tidak lama mengemudi mobil milik second hand pemberian Bambang itu, tiba juga ia di tempat yang ia tuju.
Hingar bingar musik, bau asap rokok dan aroma alkohol mendominasi ruangan luas itu. Gelak tawa dan suara rayuan para wanita bersaing mendapatkan pelanggan yang tajir maupun yang tampan. Begitu juga sebaliknya para hidung belang sibuk mencari di mana ia bisa melabuhkan cinta sesaat mereka dengan kepuasan yang ia cari.
"Hi Ris..., lama tidak kelihatan kemana saja? Sudah jadi simpanan Oom tajir lupa sama kami di sini ya?" Goda mereka sambil berjalan mencari tempat di salah satu sofa.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
John yang dengan giat dan telaten menelusuri dokumen Palupi. Semua arsip dan berkas yang terkumpul, sudah lengkap. John berhasil mendapatkan 'passenger lists of Bellina Cruise Ship' sesuai tanggal berlayar. Tercatat ada nama Bethany Angelique Gulizar yang paspornya masih menyatu dengan nama ibunya. Berarti sudah lengkap semua. John siap mengirimkan tuntutan melalui pengacaranya kepada perusahaan pengelola kapal pesiar atas kelalaian kinerjanya yang melakukan pembiaran kejahatan yang menimpa penumpangnya.
John mengusap wajahnya setelah menyelesaikan pekerjaannya. Rasa rindu ingin mendekat dan memeluk erat tubuh Palupi menjadi sebuah kendala tersendiri karena jarak mereka yang jauh. Dia menatap ponselnya yang terdapat sekian puluh foto-foto Palupi, "Gulizar sayang, aku merindukanmu."
Kembali ia lakukan video call dengan Palupi, "hallo..." Suara serak dan lirih khas bangun tidur Palupi, membuka Video call John. Selimutnya terjatuh ketendang kakinya karena kaget mendengar dering suara di ponselnya.
"Maaf sepagi ini aku meneleponmu, sayangku Gulizar. Aku merindukanmu," sendu mata John menatap Palupi yang masih enggan membuka matanya, dan dengan hanya memakai tank top, dan celana pendek saja membuat John menggaruk kepalanya sendiri.
"John.." mata Palupi membelalak lebar, ia baru sadar panggilan itu adalah Video call dan itu adalah John. "Kau bikin aku kaget, sepagi ini kau sudah melakukan Video call saja."
John tertawa lepas melihat tingkah Palupi yang sibuk menutupi tubuhnya. "Lain kali kalau mau telpon jangan sepagi ini, kamu hanya memberikan diriku rasa malu saja." Palupi masih menggerutu dan menampilkan wajah juteknya.
John terdiam sesaat, iya tahu ke mana arah ucapan Palupi. Dia merasakan juga dilema yang Palupi rasakan saat ini, "sayang....apapun itu hukum tetap akan berjalan, dan semua tergantung kebijakan di setiap negara. Kalaupun kita mengatasnamakan kemanusiaan, cerita masa lalumu juga butuh perhatian dan rasa kemanusiaan, untung aku yang membelimu seratus juta. Coba kalau orang lain."
Wajah Palupi seketika berubah menjadi masam, matanya melotot ke arah John yang mulai konyol dengan gerakan alisnya yang genit.
"Sepertinya aku akan menuntutmu John, karena kau ternyata detektif omes, suka-suka melucuti dan menggera*yangi anak orang."
"Ha...ha...ha... Kau tidak akan mampu menuntutku sayang, karena aku tahu saat ini kau sedang merindukanku. Tunggu aku pulang padamu, segala tuntutanmu akan aku terima." John mengedipkan mata kirinya sedangkan Palupi tetap memasang wajah jutek, walaupun sebenarnya dalam hati berbisik lain.
"John hari ini mommy akan ke Surabaya dan aku ikut bersama, apakah tidak sebaiknya Albert bersama Zaki istirahat saja di rumah! Mereka tidak perlu mengikuti kami, toh aku sekarang sudah ada Mommy, tentu akan lebih aman." Palupi menautkan kedua tangannya kepada John.
"No..., I said no...! Mereka harus tetap bersama kalian, di mana pun dan apapun alasannya itu. Aku tidak mau calon istriku dan keluargaku dalam bahaya selama aku tidak ada di samping kalian." Tegas john.
Panggilan Videocall mereka akhirnya usai, dengan segala candaan dan cara konyol mereka lewat layar kecil itu membuat kerinduan mereka sedikit terobati.
Tok...tok...tok...
Pintu kamar Palupi di ketuk, dan ternyata Merry ynag masuk. "Nona..., Tuan Beldiq bersama Nyonya Anne sudah menunggu di bawah."
"Ya ampun... Iya iya.... Maaf aku keasyikan ngobrol tadi, sebentar," Palupi bergegas ke kamar mandi dan merapikan dirinya, lalu turun menyusul mereka yang sudah menunggu di meja makan.
Anne menatap wajah Palupi dengan senyum, "selamat pagi Daddy, selamat pagi mommy...," dengan mata mengerling ke mommynya.
"Pagi sweety, oh... dear... Kau panggil apa barusan sayang hmm..." Senyum Anne menatap Palupi lalu berpindah kepada Beldiq yang juga merekahkan senyumnya.
"Daddy and mommy, Palupi menginginkan segera ada pernikahan dan kita satu lingkup keluarga. Aku merindukan keluarga yang utuh, karena aku belum merasakan suasana hidup dalam kasih sayang keluarga.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
TBC π
Emang pacaran by VC nyaman ya Mak π€§π€§, aku bertanya ku bertanya tanya π.
Sambil menunggu up chapter berikutnya, mampir ke karya kawan Rhuji yuk bestieπ, jangan lupa like jempolnya, favorit and then komen membangun π.
Salam Sayang Selalu By; RR π