I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 45



Albert membukakan pintu kamar rawat inap itu untuk Palupi dan Liana, selebihnya ia dan Zaki hanya menunggu di luar ruangan.


"Dokter... apa yang terjadi...? Apakah Ibu baik-baik saja?" Palupi merangsek masuk dan mendekati Anita. Dengan senyum ramah Anita meraih tangan Palupi dan mengajaknya duduk. Juleha sedang dalam proses recovery jantungnya yang detaknya semula tak beraturan akibat ulah Riris. Sambil menunggu kondisi Juleha kembali stabil, dokter Anita menenangkan Palupi


agar tidak panik.


"Tenanglah Nona Gulizar. Semua sudah teratasi, kita menunggu sejenak untuk kondisi jantung nyonya Juleha kembali stabil. Tadi dia juga mengatakan ingin bertemu denganmu, Nona." Secara formal Anita berbicara dengan Palupi.


"Apa yang terjadi Dok?" Tanya Palupi saat melihat Juleha masih memejamkan matanya selayaknya orang tidur, sambil melihat tubuh lemah yang terbaring di brankar.


"Nyonya Juleha sedang dalam proses pemulihan setelah menjalani kemoterapi. Faktor usia yang semakin menua juga membuat proses pemulihan berjalan lamban. Namun, nanti bila pasien sudah membuka matanya, tentu dapat diajak berbincang.'" Papar dokter Anita, agar Palupi menjadi tenang. Dokter Anita sengaja menyembunyikan konfliknya dengan Riris karena terikat oleh etika jabatan.


"Terima kasih Dokter," Palupi mendekat, dan menatap ke wajah Juleha yang masih memejamkan matanya. Ingin rasanya Palupi membelai tangan lemah Juleha, namun karena kemarin baru dikemoterapi, Palupi takut menyakiti kulit tangan Juleha.


"Kondisi nyonya Juleha sudah mulai stabil. Saran saya, untuk saat ini ajaklah bebincang yang ringan-ringan. Jangan bebani pasien dengan obrolan yang menyudutkannya agar proses penyembuhan dapat berjalan dengan baik." Palupi menyimak segala nasihat yang diberikan oleh dokter Anita.


"Baiklah bu Dokter, tetapi masih bolehkah saya menanyakan alasan dia menculik saya dulu. Kalau hanya ingin mencuri, kenapa juga harus menculik? Toh saat itu usia saya masih sangat kecil?" Ungkap Palupi untuk mendapatkan lampu hijau dalam mencari jawab yang sudah mengganggunya saat Palupi tahu kebenaran tentang dirinya yang diculik.


"Boleh saja ditanyakan, sepanjang dengan cara perlahan, bertanya tidak dengan menunjukkan emosi yang berlebihan. Baiklah nona Gulizar, sudah jamnya saya harus memeriksa pasien lainnya di ruang rawat yang lain." Pamit dokter Anita, yang langsung meninggalkan ruang rawat Juleha setelah menasihati Palupi.


Palupi mendekat dan menatap haru, "Segera pulih Bu, percayalah semua akan baik-baik saja. Apapun yang telah aku dapat darimu, percayalah...! Aku tidak pernah menuntut sesuatu padamu." Bagaikan tersiram air sejuk yang memberi kekuatan, ucapan Palupi memberikan rasa damai di hati Juleha. Perlahan mata tua itu terbuka. "Ibu, istirahatlah..! Semua akan baik-baik saja, fokus pada kesehatan saja, yang lain dikesampingkan saja dulu."


"Lupi, maafkan ibu Nak, karena kebodohan dan kesalahan ibu. Sekarang ibu menuai hasil dari perbuatan ibu, karena telah membuatmu sengsara." Nafas Juleha kembali tersengal-sengal menahan tangis yang sudah tidak sanggup ia bendung, yang akhirnya tumpah juga.


"Jangan bersedih Bu, mungkin ini adalah takdir yang harus kujalani. Mungkin Tuhan berkehendak yang terbaik, yakni kesempatan bagi kita untuk kita saling dipertemukan, dan saling mengenal walaupun terasa sakit saat kurasakan menerima takdir yang penuh rahasia ini."


Palupi berusaha menenangkan Juleha karena khawatir jantungnya bermasalah lagi.


"Sudahlah Bu...! Penyesalan di akhir tidak akan membawa kita kepada sebuah keadaan yang berarti. Istirahatlah Bu! Aku harus pulang," rasa jengah dan iba bergulat dalam benak, bercampur melalui kenangan demi kenangan yang bermain dalam hati dan pikiran Palupi.


Namun rencana Palupi untuk pulang terhenti, saat tiba-tiba Juleha bertanya, "Lupi, apakah tuan Ray ada di sini...? Aku ingin melanjutkan perbincangan kami tempo hari, selagi ada kamu di sini."


Dokter Anita yang sengaja buru-buru berpamitan kepada Palupi, karena menyadari bahwa banyak hal yang akan dibicarakan Juleha dengan Palupi, dia berusaha untuk tidak campur tangan dan memberikan ruang bagi mereka berbincang.


Saat melangkah menuju keluar ruangan, Anita menarik Liana keluar dari ruang rawat Juleha. "Hai... Liana, bila ada waktu maukah kuundang kalian untuk sekedar tea time setelah jam praktekku di rumah sakit usai?"


Senyum Liana mengiringi langkah Anita keluar ruangan, lantas kembali Liana duduk di antara sofa dan menjauhkan diri dari perbincangan Juleha dan Palupi.


Perlahan dan rasa was-was, Palupi bertanya kepada Juleha, "Ibu, apakah tuan Ray sudah tahu semua? Aku tak menyangka bahwa begitu banyak rahasia dalam hidupku yang aku tak penah tahu." Ucap Palupi sambil mengambilkan tissue agar Juleha menghapus air matanya yang tumpah.


"Iya Nak, ibu pernah bercerita kepadanya, sebab ibu tahu hanya kepadanya, ibu percayakan semua cerita itu. Ibu akan jujur mengatakan kebenaran tentang dirimu Lupi."


Penjelasan Juleha menggiring Palupi untuk bertanya lebih lanjut seolah melupakan nasihat dokter Anita sebelumnya.


"Kenapa ibu tega melakukan penculikan terhadap diriku? Apa salah orang tuaku? Apa salah diriku? Sekarang akibat yang Ibu tuai bukan hanya menyakiti diriku, tetapi juga hasil dari semua yang ibu curi hanya memberikan rasa takut yang menghantui sepanjang hidup Ibu."


Palupi merasakan sakit hati yang teramat sangat saat mengingat perbuatan Juleha. Dalam hatinya Palupi sangat ingin menghajar perempuan yang selama ini dipanggilnya dengan sebutan ibu.


"Untuk apa ibu masih juga tega menjual keperawanan Lupi? Sedangkan berlian itu masih banyak yang ibu sembunyikan rapat-rapat tanpa seorang pun yang tahu. Aakhh..., Lupi tidak paham dengan jalan pikiran Ibu."


"Ampuni ibu, Nak. Ibu hanya bingung. Kamu hidup di lingkungan dunia hitam. Bukan maksud ibu untuk menjahatimu. Ibu kepepet karena kesehatan ibu yang menurun drastis disebabkan penyakit mematikan ini. Ibu butuh biaya untuk berobat ke dokter karena ternyata cara pengobatan tradisional yang ibu jalani dengan cara yang salah justru memperparah penyakit ibu."


Palupi tertunduk dan matanya mulai berkaca-kaca. Terjadi pergolakan di hatinya yang lembut. Di satu sisi dia memahami kesulitan Juleha, namun di sisi lain, Palupi tahu Juleha masih menyimpan permata yang nilainya puluhan milyar hasil curian Juleha. Hal ini terasa tak masuk akal bagi Palupi.


Timbul kecurigaan Palupi terhadap Riris. 'Jangan-jangan Ibu menjual keperawananku pasti didesak oleh Riris. Dia kan iri dengan keadaan fisikku yang berbeda dengannya. Di sekolah pun aku selalu ranking satu sementara Riris selalu ranking terakhir dari daftar nilai.'


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


TBC....


Tissue๐Ÿคง๐Ÿคง๐Ÿคง dah lah esok lagi, sambil menunggu chapter berikutnya up esok, baca karya kawan Rhuji ya kak. di jamin nggak kalah kecenya dah ๐Ÿ˜‰


Jangan lupa jempolnya, favorit, and then komen membangun tentunya.๐Ÿ‘๐Ÿ˜‰


Salam Sayang Selalu By RR ๐Ÿ˜˜.