I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 69



Dengan rasa jengkel karena tidak mendapatkan jawaban yang tepat, Riris mau tidak mau harus menurut dengan keadaan saat ini. Semua mimpi dan angan-angannya harus dia pending dulu, sebab tak mendapat dukungan dari Tomo maupun Bambang.


'Hmmm, aku harus cari tahu siapa Palupi sesungguhnya? Makin ke sini kok makin mencurigakan saja dia.' Riris bergumam sendiri, setelah melepas kepergian Bambang dan dia masih enjoy di dalam restoran yang sudah di full payment oleh Bambang tentunya. Dia menghabiskan waktunya sendiri.


'Nomor yang anda tuju di luar jangkauan servis area, Tut...Tut...Tut...,' suara operator menjawab setiap pijitan tombol nomor telepon seseorang yang hendak Riris hubungi. Tomo, sang pujaan hati Riris tak bisa dihubungi walau telah redial berulang kali. Dicobanya menelpon ke kantornya pun tak ada yang angkat.


"Uuhh.... Ke mana sih ini orang, mana hape tidak aktif juga. Ini orang juga semakin hari semakin menyebalkan, aaahhhhh..." Geram Riris hingga membuat beberapa pengunjung melemparkan pandangan matanya ke arah Riris yang seperti orang kesurupan dengan mengomel sendiri sambil mencibirkan mulutnya serta melototkan matanya ke arah ponsel yang ia bawa.


"Mama..., orang itu cantik tapi gila yah?" Celetuk anak salah satu pengunjung sambil terus menyuapkan makanannya. "Hush... sudah-sudah jangan membicarakan orang tidak baik selagi makan, ayo habiskan!"


Begitulah teguran seorang ibu yang memperingatkan anaknya yang bereaksi melihat ulah Riris bertingkah aneh di tempat umum.


Rasa jenuh yang dirasakan Riris membuat ia lupa dengan program diet yang ia rencanakan beberapa waktu lalu. Nafsu makannya bahkan melonjak hebat ketika melihat beberapa makanan yang mereka pesan dan telah tersaji. Bambang tidak sempat ikut bersantap karena keburu pergi memenuhi panggilan kliennya.


Di tempat yang sama, Palupi digandeng Liana melenggang santai memasuki mall, setelah memberikan kunci mobilnya ke petugas valet untuk diparkirkan. "Sayang..., kita mampir dulu ke butik ya... Sekedar untuk ngechek dan sedikit ngobrol dengan karyawan. Sepertinya sudah lama aku kita tidak bercengkerama dengan mereka."


"Liana...aku mau itu, boleh?" Sejenak Palupi berhenti memandang lekat ke arah shop fashion and accessories yang menyediakan pernak-pernik untuk rambut dan alat manicure pedicure lainnya. Senyum Liana mengembang dan menganggukkan kepalanya, "Apapun itu yang kau suka ambillah, ayo!"


Mata Palupi berbinar tatkala melihat ikat rambut yang selama ini ia idamkan. Sambil memilih ia bercerita pengalaman di masa lalu, tanpa ia sadari mendapat respons dari Liana. "Aku dulu pernah punya ikat rambut seperti ini. Tante Sarah yang membelikan saat menjelang tahun baru waktu itu, namun..."


"Namun apa? Ceritalah... jangan sepotong-sepotong, yang jelas." Goda Liana yang dari tadi mengamati keluguan Palupi yang hanya meraih satu ikat rambut dengan model bunga berwarna soft baby blue kesukaannya.


"Mbak Riris mengambilnya, lalu memakainya dia bilang Lupi nggak pantes memakainya." Senyum kecut itu menghiasai wajahnya saat mengingat kejadian yang membuat ia menangis kecewa.


Tiba-tiba....suara tidak asing pada pendengaran Palupi terdengar menyapanya.


"Hallo.... aahh... kita jumpa lagi di sini, hmm..." Suara cempreng itu berasal dari Riris yang tiba-tiba berada di belakang mereka.


"Mau donk di beliin juga kak, eemmm Kakak siapa ya?"


"Huh..., kau uler keket. Masih juga punya nyali menemui kami ya... Mau apa kamu, heh?" Gertak Liana sambil memelintir dan menghempaskan tangan Riris yang Sudah berada di atas pundak Palupi.


"Liana, sudahlah jangan ribut di sini, malu." Tarik Palupi berusaha melerai keduanya.


"Hei.. uler keket, sebaiknya tidak usah kamu bermain sandiwara di depanku, semua akan sia-sia saja." Ancam Liana yang tidak ragu-ragu bersikap tegas, karena ia merasa ada sesuatu yang akan Riris lakukan bila sedikit saja lengah dalam menjaga Palupi.


"Karena aku tahu yang ada di dalam otak dangkalmu itu hanyalah seputar selang*kangan dan duit dengan hasil yang tidak seberapa bisa kamu nikmati, dasar dungu!" Melihat gigihnya Riris mendekati Palupi, membuat Liana sudah tidak bisa menoleransi lagi walaupun jelas berada di tempat umum.


Riris yang merasa pada mood kurang baik sejak tadi, ia juga mulai pasang tanduk, "Lupi, yang mbak inginkan suatu hari nanti kita bertemu dan kamu pulang ke rumah. Itu harapanku. Beri aku alamatmu sekarang atau nomor teleponmu biar mudah untuk aku menghubungi dirimu."


"Dan kamu wanita jadi-jadian, tidak ada hak sama sekali kamu mengusir atau melarangku untuk menemui Palupi. Ingat itu! Kamu di sini hanya figuran saja tidak lebih, cuih.." Riris yang sudah nekat kembali melontarkan kata-kata keramatnya untuk Liana.


Dengan cekatan Liana menarik rambut Riris yang di ikat dengan model kuda poni, Riris pun sudah menyiapkan diri untuk melawan apapun yang akan ia dapatkan dari Liana.


Adu dorong pun tak dapat dielakkan lagi. Pada waktu yang tidak terduga, Riris berhasil mendorong pundak Liana dan hampir saja terjerembab, namun pada saat yang tepat Zaki datang dan menyelamatkan Liana dari belakang dengan cara menopang tubuhnya.


Albert segera menghampiri Palupi lalu membawa ke tempat yang lebih aman dari kerumunan para pengunjung yang tidak bisa terelakkan lagi. Satpam pun bergegas menuju tempat terjadinya kerumunan, lalu membawa Riris ke pos keamanan dan ini adalah kejadian kedua kalinya dengan permasalahan yang sama. Karena tidak menginginkan segala kejadian berujung panjang dan menjadi konsumsi publik, Zaki mengikuti arah satpam yang membawa Riris, lalu memberikan pengertian kepada satpam, bahwa ini adalah permasalahan keluarga dan akan diselesaikan secara kekeluargaan.


"Mas bodyguard, saya hanya ingin adikku. Setidaknya beri aku alamat ataupun nomor telepon, sudah beres kan! Kenapa harus di persulit, hah!" Jerit Riris jengkel ternyata satpam pun lebih memihak kepada Palupi.


Zaki yang jengkel dengan ulah Riris, segera menariknya dan berbisik, "Jadi kamu mau alamat rumah majikanku? Kamu tak pantas dekat-dekat dengan Nona Gulizar, kecuali kau cari mati," sambil menunjukkan gagang belati yang terselip di pinggangnya.


Liana kemudian menyusuli Albert yang mengawal Palupi, kemudian membawanya masuk ke butiknya. Karyawan butik terkejut melihat penampilan Liana yang agak berantakan dan dalam mode emosi. "Aiiih, kakak... ada apa... iihh. Wajahnya kok serem sih? Tanya karyawan senior di butiknya dengan setengah takut.


"Aku tadi ketemu anak demit, si uler keket yang minta ditabokin." Dengan nada suara yang masih jengkel dan emosional, Liana menjawab pertanyaan karyawannya. Salah satu karyawannya segera berlari mengambil botol berisi air dingin dari kulkas dan buru-buru menyerahkan kepada Liana untuk diminum dan mendinginkan emosinya yang meledak-ledak.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TBC πŸ˜‰


Nah loh tarung kan, apa sih maunya si Riris yak?...


lanjut lagi aja yuk Mak 🀭


Salam Sayang Selalu By RR 😘