I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 41



Semua mata mengarah kepada Palupi, mereka seperti tidak percaya dengan apa yang mereka dengar dari penuturan Palupi.


"Apa....? Wow... Kau mendapatkan jackpot itu John. Selamat atas perolehanmu." Ray terpekik ikut girang dengan segala upaya John yang tidak main-main, dan membutuhkan kesabaran tingkat tinggi.


Anne terkejut mendengar ucapan Palupi. Jadi benar, dokumen perjanjian pembelian saham perusahaan EMKL milik Mr. Alex van Haussend ada di dalam tas yang dicuri Juleha? Semoga dokumen itu masih ada. 'Harap-harap cemas, itu yang dirasakan Anne.


John menjentikkan jarinya, "OK Ray, tugasmu untuk kembali mengorek segala keterangan, pada nyonya Juleha selama aku di Inggris kau harus handle semuanya."


"Gulizar sayang, apakah nyonya Juleha pernah mengatakan atau memperlihatkan tas yang dia curi?" Tanya Anne kepada putrinya.


"No mommy. Aku tak pernah diizinkan masuk ke kamarnya. Aku tak pernah menyapu kamarnya."


Semua terkejut mendengar jawaban Palupi yang polos. Akhirnya Ray memotong percakapan ibu dan anak itu. "Baiklah nyonya Anne, serahkan semua kepada saya. Saya akan menginterogasi nyonya Juleha.


Ray mengalihkan pertanyaan kepada John. "Brother, bagaimana hasil kerjamu untuk mengurus status kewarganegaraan kekasihmu?" Sambil senyum usil, Ray melontarkan pertanyaan kepada John.


"Hah? Siapa yang anda maksud Mr. Raynaldi?" Sergah Beldig sambil menatap John yang hanya bisa nyengir saat dibully kakak dan temannya.


"Sudah... sudah... hentikan," sambar Anne setelah melihat putrinya malu dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung dokter Anita. Semua tertawa melihat John dan Palupi yang salah tingkah digoda ramai-ramai.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Dari jauh Juleha menyaksikan, beberapa orang lalu lalang dengan kepanikan masing-masing, entah ibu, ayah, atau kerabat mereka yang harus berpulang menghadap Sang Penguasa dunia.


Suara langkah kaki itu menyusuri koridor rumah sakit, diiringi dengan nada sedikit tergesa-gesa. Isak tangis mengalun penuh dengan irama duka, bait demi bait penyesalan menjadi syair yang tidak bisa lepas dari gejolak rasa, tentang kehilangan sosok yang telah merasa lelah dan bosan dengan derita sebagai teguran dari Tuhan mereka.


"Nyonya kita harus kembali ke ruangan, sudah waktunya nyonya istirahat." Suster yang selalu mendampingi Juleha membuyarkan lamunan pendeknya tentang kematian yang Juleha takutkan bila itu harus datang padanya dalam waktu dekat.


"Sebentar suster! Berikan kami waktu beberapa menit saja untuk sebuah perbincangan ringan." Suara berat itu jelas terdengar dengan sebuah permohonan. Ray mengambil alih tempat yang bukan seharusnya ia tempati.


Juleha menatap ke arah suster dan mengisyaratkan untuk memberikan ruang private buat mereka berdua berbincang. "Tuan, bisakah saya berjumpa dengan Palupi?"


Mata Juleha menatap ke arah Ray, namun tidak lama ia harus menurunkan pandangan mata itu. Sebab, bagaimanapun juga pemilik mata itu sangat sulit untuk dijadikan tempat berkeluh kesah bagi Juleha saat ini.


"Hhmm..." Ray mengawali suaranya dengan berusaha untuk menerima apa yang selama ini membuatnya geram. Namun, tugas atas permintaan seorang John Norman tak dapat diabaikan sekali pun sangat bertolak belakang dengan hatinya.


"Nyonya Juleha, perlu anda ketahui untuk beberapa hari ke depan, nyonya Anne akan datang ke Indonesia! Tentu anda di sini berperan sebagai salah satu orang yang akan menerima kedatangan beliau."


Sejenak Ray terdiam.


"Tuan Ray... Sekali lagi saya mohon maaf. Silau akan harta, semua itu telah menjadikan saya gelap mata. Keinginan untuk menjalani hidup yang lebih baik melalui jalan pintas, berujung pada penderitaan. Kini saya mendapatkan teguran yang istimewa saat ini."


"Tas berisikan mungkin dokumen yang Tuan maksud, dan sebagian berlian yang saya curi pada waktu itu masih saya simpan dengan baik. Saya akui, saya sangat teledor dalam membesarkan Palupi. Bahkan saya telah tega melakukan lagi kejahatan dengan cara menjualnya. Sungguh saya mohon maaf." Isak tangis Juleha mengagetkan suster yang menjaganya.


"Menangislah nyonya, tapi itu bukan solusi terbaik untuk saat ini. Apakah anda tahu seberapa besar nilai dokumen dan berlian yang anda curi pada waktu itu?" Lirih suara Ray memaksakan hatinya untuk tetap bersabar menghadapi Juleha.


"Tuan... Maafkan saya, sepertinya nyonya Juleha harus istirahat. Saya akan mendorong dan membawa beliau kembali ke ruang rawatnya." Suster itu memohon kepada Ray, yang melihat Juleha semakin rentan dengan kondisinya saat berbicara sambil nafas yang tersengal sengal.


"Silakan, dan saya mohon kepada anda sus! Awasi siapapun yang menemui nyonya Juleha, tanpa terkecuali walaupun itu anak perempuannya."


"B..baik tuan, saya pergi dulu." Pamit sang suster agak sedikit khawatir dengan tatapan serius Ray padanya yang menuntut untuk melakukan tugas yang baru saja ia berikan dengan seksama.


Belum selesai juga Ray bicara dengan sang suster dari jauh matanya menangkap bayangan Riris berjalan mendekat. "Oh hii Oom cakep, kita jumpa lagi di sini. Apa kabar Oom? Bagaimana perkembangan ibuku?"


"Oh ya Oom, sampaikan salamku kepada Palupi. Aku ingin berjumpa dengannya kapan ya dia punya waktu? Aku sangat merindukan dia sebagai adikku."


Ray yang mendengar suara Riris hanya bisa mendengus kesal, dan berlalu begitu saja. Karena bagaimanapun juga ia harus menjaga hati untuk tidak terlalu emosi dengan Riris yang tentu akan membuat masalah semakin runyam saja.


"Hei... Tuan kau tidak bisa meninggalkan aku begitu saja. Bisakah kau berikan aku waktu, dan kita bisa bicara sebentar?" pinta Riris lagi tanpa kenal rasa malu.


"Pergilah...! sebelum aku berubah pikiran." Mata elang Ray menatap tajam ke arah Riris


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Riris...! ya ampun ngeyel kali dia, belum paham ya siapa Ray ๐Ÿคญ.


Oke kawan.... sembari menunggu chapter berikutnya up lagi, mampir ke karya kawan aku yuk.


jangan lupa kasih rate, like and komen membangun ๐Ÿ˜‰โœŒ๏ธ.


Salam Sayang Selalu, and love selalu RR๐Ÿ˜˜



TBC....