
Ray berjalan menuju food court yang telah direncanakan untuk mereka makan siang. Dari jauh Dokter Anita tersenyum melihat langkah suaminya yang tergesa-gesa karena merasa bersalah sudah membuat mereka terlambat makan siang.
Anita, sang isteri menyambut Ray dengan senyum manisnya. Keduanya terbilang manusia sibuk, namun demikian, mereka berusaha menyisihkan waktu untuk makan siang bersama, bila tak sempat makan malam.
"Sayang... Maaf jalanan macet. Terjadi pengalihan arus, sebab di area balai kota ada demo mahasiswa." Ray menghampiri Anita dan memberikan kecupan mesra di ujung kepala sang istri cantiknya.
"Demo kurang kerjaan. Sebenarnya jika mereka demo mengikuti prosedur dan tidak arogan, dijamin tidak ada korban. Tapi, ahh sudahlah! Itu urusan mereka, urusan kita sekarang segera pesan makanan, dan makan dengan hikmad dan bersyukur. Nanti kita lanjut diskusi tentang nyonya Juleha." Anita berbicara sambil menata makanan dalam piring dan memberikan kepada Ray.
Ray menerima uluran tangan Anita dan melempar senyum padanya, "thank you sweetheart, hari Minggu ini aku mau istirahat total di rumah, dan menikmati masakanmu."
Mereka menikmati makanan dalam diam untuk beberapa saat. Setelah selesai, kembali Anita membuka percakapan untuk mengawalinya.
"Sayang..."
"Hmmm..."
"Nona Gulizar bersama si cantik lemah gemulai dan baik hati Liana, ada di dalam ruangan tempat nyonya Juleha dirawat."
"Hhmmm yah... Biarkan saja! aku rasa Gulizar sudah pandai mengelola perasaan dan mengatur emosinya. Hasil didikan dan bimbingan Liana patut kita acungi jempol. Yakinlah semua bisa ditanggulangi," Ray menyela kata-kata Anita.
"Oke, aku juga paham kalau itu sayang..., Cuma di sini! Riris rupanya sulit untuk memahami apa yang harus ia lakukan selain hanya kata untuk pasrah saja. Anak itu terlalu egois, hanya memikirkan dirinya sendiri."
Anita melanjutkan pembicaraannya. "Setelah selesai menjalani kemoterapi, nyonya Juleha harus segera dirujuk ke Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura untuk melakukan tahap pengobatan selanjutnya. Apakah John menyetujuinya, sayang?"
Perlahan Ray meraih gelas minumannya dan kembali meneguk isinya. "Lakukanlah yang terbaik. John menginginkan prosedur pengobatan yang terbaik, dan aman untuknya. Sebab John ingin, agar nyonya Juleha sembuh dan bertahan hidup. Orang itu adalah pelaku utama penculikan Gulizar. Di samping itu dia juga mencuri tas yang berisikan dokumen dan berlian yang nilainya bila dirupiahkan dapat mencapai dua puluh lima milyar."
Dokter Anita terkejut mendengar penuturan suaminya. "Ternyata Gulizar anak sultan yang hartanya tak terbilang. Kasihan Gulizar harus menjalani hidup dan tumbuh di lingkungan orang yang bejad moralnya. Dengan geram Anita melontarkan pendapatnya.
Ray menggelengkan kepalanya, "tenang sayang, tak lama lagi dan kemungkinan besar minggu depan nyonya Anne bersama tuan Beldiq Norman akan terbang ke Indonesia menemui Gulizar. Itu akan jadi pertemuan pertama mereka, setelah terpisah selama hampir lima belas tahun. Nyonya Anne juga bisa menemui secara langsung dan dapat melihat perkembangan pengobatan nyonya Juleha."
Anita mencermati setiap perkataan Ray, dan ada sedikit rasa tak nyaman saat mendengar uraian suaminya.
"Mas... Alangkah baiknya untuk saat ini nyonya Anne jangan dipertemukan dulu dengan nyonya Juleha. Sebab, aku rasa akan sangat mempengaruhi psikisnya di saat dia sedang melawan rasa sakit yang dideritanya. Walau bagaimana pun juga, saat ini nyonya Juleha dalam keadaan sakit Mas, dan itu hal yang tidak mudah bagi dia."
Anita berusaha membuka wawasan suaminya, untuk memahami masalah dari sudut pandang wanita. "Andaikan aku berada di posisi nyonya Anne, saat mengetahui orang yang telah menculik anakku tepat berada di depan mataku, tentu aku akan marah. Sejuta umpatan atau bahkan sumpah-serapah jelas akan aku lontarkan. Tapi kasus ini berbeda sayang,"
Anita berbicara dengan mata berkaca-kaca. Sebagai seorang wanita tentu dia ikut menyikapi dilema yang dihadapi seorang pasien yang sedang berjuang untuk sembuh. Terlebih dia adalah seorang ibu yang pernah berjuang bertaruh nyawa di saat melahirkan. Namun di sisi lain, Anita juga memahami sakit hati seorang ibu saat dipaksa harus berpisah dengan putrinya sehingga si anak kehilangan kesempatan bertumbuh dengan baik dalam usia golden age.
"Sudah sayang... Semua bisa diatur, jangan terbawa rasa begini. Ingat, dirimu adalah seorang dokter yang tidak boleh mencampur-adukkan profesi dengan perasaan. Aku juga paham dengan apa yang kaurasakan." Ray mendekap tubuh Anita sambil mengelus punggungnya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Berbeda lagi dengan Riris yang merasa sakit hati dan semakin dendam dengan segala perubahan yang ada pada diri Palupi.
Berbagai rencana bahkan telah dia susun hanya untuk bagaimana caranya membawa kembali Palupi dan menjualnya lagi kepada orang lain, dan mendapatkan imbalan uang yang selama ini ia harapkan.
'Ah...tidak, ini hanya sebuah kebetulan saja. Aku akan segera meraih apa yang aku inginkan. Setelah itu aku akan pergi dari kota ini, hidup dengan bebas' batinnya penuh dengan rencana yang belum tentu lolos dari apa yang ia sangka mudah dijalankan.
"Hallo Oom... Ada di mana sekarang, Riris kangen sayang." Rupanya Riris sedang menghubungi nomor Bambang. Percakapan berlangsung dan dengan nada manjanya yang biasa Riris gunakan untuk menghadapi para mangsa pria hidung belang.
Senyum kemenangan tersungging kembali, dengan tergesa-gesa Riris melangkahkan kaki jenjangnya menuju mobil yang ia parkir.
Baru juga melangkah beberapa jengkal, ia mendapati Tomo berjalan mesra bersama seorang calon TKW binaan PT. Pelangi Sejahtera milik Bambang.
Mata Riris melotot seolah hendak meloncat keluar menyaksikan pemandangan di depannya. Buru-buru ia berlari mendekat dan meraih tangan gadis yang berjalan dengan Tomo sambil bergandengan mesra itu.
"Heh.... Wanita gatel! Siapa kamu, eh...? Main gaet laki orang aja, kagak tahu apa dia calon suamiku?"
"Riris! Kenapa kamu ada di sini?" Tomo gugup juga menjawab cecaran dari Riris yang sedang dilanda emosi.
"Emang kenapa Mas? Aku tidak boleh di sini...? Kamu tega padaku Mas. Kamu sudah janji menikahi aku setelah rencana kita kelar. Tapi nyatanya kamu mendua di belakangku. Kurang apa aku padamu, Mas?"
Tomo yang tertangkap basah oleh Riris sedang jalan berdua dengan wanita lain, jadi salah tingkah.
"Katakan siapa wanita itu?" Tangan Riris menyentuh pundak gadis itu, lalu mendorongnya hingga hampir saja terjerembab. Untung saja Tomo segera meraih tubuh gadis itu hingga seperti sedang memeluknya.
Adegan itu jelas saja semakin membuat Riris bertambah murka menyaksikannya.
"Riris, dengarkan penjelasanku. Ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan." Tomo berusaha menenangkan Riris yang sudah tak terkontrol emosinya, sambil menarik Riris menjauh dari calon TKW tersebut.
"ingat ya kalian, perempuan ini aku pastikan tidak akan berangkat ke negara tujuannya, kalian paham." Riris berlalu dengan berjuta amarah yang telah membakarnya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Hiluh ππ ya ampun dia cemburu Mak π€£. kita bakar aja yuk π€
semangat baca ya saudaraku sekalian, silahkan berbagi ide bagaimana cara membakar si Riris tuh Mak π€£.
oke-lah semangat lagi, dan sayangku buat kalian semua, huge by, RR π
TBC....