
Palupi masih saja tidak habis pikir dengan kejadian yang baru saja ia alami. Bahkan ini sudah yang kedua kalinya terjadi konflik dan kesalahpahaman antara Liana dengan Riris. Peristiwa pertama terjadi di rumah sakit waktu lalu yang memicu kemarahan Liana bagaikan orang kesurupan.
Dalam perjalanan pulang ke kediaman tuan Handoko, Palupi banyak berdiam diri dan mencari jawaban sendiri atas peristiwa yang baru saja terjadi. "Liana... Kenapa kalian tidak memberikan izin untukku kembali ke rumah ibu Juleha, walaupun itu hanya sekejap?"
"Bukan melarang sayang, tetapi lebih tepatnya menjauhkan dirimu dari kelicikan Riris yang selalu menginginkan sesuatu yang buruk terjadi padamu, Gulizar! Apa kau tidak memahaminya?"
Palupi terdiam dan menggelengkan kepalanya lemah, sulit baginya untuk sekedar memahami sikap Riris yang sudah sekian tahun hidup bersama. Palupi tetap tak habis pikir, akan tetapi kebenciannya terlalu mencolok padanya. Bahkan hanya untuk saling pandang saja dia sudah akan mencak-mencak marah kepada Palupi.
"Tapi Liana, kita harus melihat pada kondisi ibu Juleha. Saat ini setelah beliau mengidap sakit yang serius, nyatanya bisa bersikap menjadi baik padaku. Apakah tak mungkin mbak Riris juga bisa berubah seperti itu kan...?" Palupi yang pada dasarnya berhati lembut tetap memberikan alasan positif yang ia terima selama ini kepada Liana.
"Oke...! Kita lihat saja nanti, suatu saat aku akan minta izin kepada tuan John untukmu. Sekarang jangan mikirin uler keket itu ya, keep smile kita hampir sampai."
Palupi memberikan senyuman manisnya. Rasa lega atas jawaban Liana, seolah memberikan dia clue yang baik padanya. Mood Palupi yang semula jelek berubah menjadi baik setelah mendengar janji Liana.
Perlahan mobil yang mereka kendarai masuk ke halaman rumah keluarga besar Liana. Senyum terkembang saat mereka turun menjejakkan kaki di halaman rumah yang asri. "Akhirnya aku bisa masuk juga ke rumah ini. Dari luar saja sudah terasa suasana yang nyaman." Komentar Palupi. Liana segera mengambil oleh-oleh yang mereka letakkan di jok belakang. Palupi meraih kantong kue dan penganan lainnya, sementara itu Liana mengambil kantong yang berisi buah-buahan.
"Mommy..., ada tante cantik pul..." Teriak Mario yang berlari menyambut Liana di depan pintu, tetapi langkahnya terhenti dan mulutnya terdiam saat memandang gadis cantik teman tantenya. Liana dan Palupi tertawa melihat Mario yang kembali masuk ke dalam rumah.
"Mommy, tante cantik pulang bawa barby gede." Sambil menunjuk ke arah pintu masuk. Feng Ling agak bingung mendengar celoteh anaknya. Segera ditaruhnya gelas tempat minumnya dah mengikuti Mario yang menarik tangannya. Liana dan Palupi langaung masuk ke ruang makan sambil tertawa melihat kelucuan Mario yang masih heran karena tantenya membawa 'barby hidup' ke rumah opanya.
"Hai Mario, kenalan yuk." Sapa Palupi sambil meraih tangan Mario, yang malu-malu dan sembunyi di belakang badan mommynya. "Hei, tempo hari kan Mario gak ikut mommy ke restoran, jadi Mario belum kenalan. Ayo kasih salam dengan kakak cantik." Feng Ling menjelaskan sosok Palupi kepada anaknya.
Palupi mengambil sebatang coklat toblerone besar dan mengangsurkan kepada Mario. Mata Mario berbinar saat menerima coklat kesukaannya. "Terima kasih." Ucapnya malu-malu.
"Mommy... Tante Barby baik ya. Boleh ya main flee fire sama Malio," rengek Mario tiba-tiba dengan suara semi cadel khas anak kecil.
Bercanda serta seru-seruan di antara mereka memberikan suasana berbeda. Canda tawa itu kini telah mencairkan kebekuan yang terjadi dalam beberapa tahun lalu. Kini suara kekehan tawa tuan Handoko tidak ada hentinya mendengar dan menimpali gurauan yang mereka ciptakan.
Hingga tanpa terasa waktu merangkak mendekati senja. Liana menerima telepon dari ponselnya yang sedari tadi berdering.
"Sebentar Pa..." Dia menempelkan benda pipih itu ke sisi telinganya. "Iya Zaki bagaimana! Apa yang kau dapatkan?"
"Nona Liana, sepertinya Riris juga mensuplay beberapa rumah kaca dengan gadis yang ia dapatkan dari berbagai kota. Jadi, kalaupun anda membiarkan Nona Gulizar bertemu dengan Riris, sebaiknya tetap dalam pantauan." Suara Zaki memberikan informasi tentang Riris yang ternyata juga melakukan perbuatan yang melanggar hukum.
"Heemmm, cepat sekali informasi yang kau dapatkan Zaki. Tuan John memang pandai dan tepat memilihmu he... he... he..." Sahut Liana menanggapi laporan Zaki.
"Iya Non... Saya meluncur dan menggali informasi melalui tetangga nyonya Juleha. Dari sana saya berhasil mendapatkan info lengkap tentang sepak terjang Riris dan ibunya."
Panggilan itu berakhir setelah semua cerita yang Liana inginkan sudah ia dapatkan.
Perpisahan sementara pun harus terjadi, Liana mengantar Palupi ke villa dan dia sendiri harus kembali ke apartemennya sebab, masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan yang berhubungan dengan butiknya.
Tidak lupa ia juga memberikan short messages kepada Ray tentang berita yang ia dapatkan dari Zaki. Bagaimanapun juga kejadian yang ia khawatirkan bisa saja terjadi kembali pada diri Palupi.
"Aku tidak menduga caramu melindungi Palupi sungguh luar biasa," ucapan terakhir Ray kata pembicaraannya dengan diiringi tawa mereka berdua.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
TBC ๐