
Tekad Liana semakin hari semakin kuat untuk pulang ke tanah airnya Indonesia, semua tidak luput dari dorongan dan semangat dari Miss Maria yang selalu memberi support Liana dalam segala hal.
"Jangan dengarkan apapun tentang cemooh orang. Anggap itu pendorong semangatmu. Mereka belum tentu mampu berjalan dan menjadi pemeran dalam posisimu saat ini."
Miss Maria mengingatkan Liana, "Lupakan Andre, jangan dendam kepada Sherly. Sebab, segala kemauan tidak akan terlaksana tanpa adanya kemauan dari pihak lawan. So, you have to stay happy, and enthusiastic about going through the rest of your life in the future."
"Cici...hik hik hik," tangis Liana semakin tidak mampu ia bendung, air bening itu kembali meluncur deras ke permukaan pipi tirus nan mulus.
"Ayo jangan cengeng adik cantik, heemm! Mana emosimu untuk semangat. Tegakkan kepalamu, ingat...! Kamu masih ada keluarga, tidak akan pernah ada ceritanya keluarga sejati membuang begitu saja, berlian yang ia harapkan."
Dengan lembut Miss Maria mengusap kepala Liana, "Aku akan sesering mungkin ke Indonesia. Ajak aku menyusuri keindahan negeri eksotis yang penuh budaya dan berbagai kuliner itu,"
Senyum indah Miss Maria mengembang, wajah cantik nan lembut penuh keibuan itu tidak pernah memandang siapa Liana yang sesungguhnya, dalam hatinya hanya Liana adalah sosok yang patut ia pertahankan sebagai saudara maupun relasi bisnis yang sama-sama mereka geluti dalam bidang fashion.
Taoyuan International Airport Corporation, Pukul 14.35 waktu setempat.
Kaki jenjang Liana melangkah dengan pasti, kenangan demi kenangan tentang Andre sedikit demi sedikit ia kikis sendiri walaupun itu sangat menyakitkan, namun segalanya harus berlalu, kehidupan harus tetap berjalan.
Cathay Pasific Airline yang Liana tumpangi landing di Hongkong untuk transit, dengan waktu yang di tentukan oleh maskapai penerbangan, sebab kendala cuaca yang tidak bersahabat.
Di sudut area tunggu terdapat beberapa shop maupun cafe untuk para passenger transit overseas. Duduk di sebelah Liana pria tampan dengan cambang tertata rapi dan bau parfum maskulin menusuk indera penciuman Liana. Dengan raut santai ia sebentar kemudian menatap arloji yang ia kenakan. Merasa terganggu karena ada yang memperhatikan ia lantas menatap ke pusat pandangan mata itu.
"Hi... Boleh saya duduk di sini," sapa Liana sopan, dengan bahasa Inggris formal. "Silakan, asal pesan minumnya bayar sendiri sebab saya sedang bokek," wajah datar dengan sedikit senyum santai itu menjawab Liana.
"Ehh... Eiyke hanya numpang duduk ye... Bukan minta minum ishh amit amit ternyata kita sama orang Indonesia yah, kenalan Ciyn...!"
Mata pria itu membulat sempurna, senyumnya mengembang seketika, "a-hhh kamu....?"
"Yeh... Eiyke Liana panggil sayang bisa, honey apalagi, suka suka sampeanlah ya."
"I wajah keibuan kaki kesebelasan, hati selembut Dewi asmara, ha...ha ha..."
Pria yang berada di depan Liana membalas uluran tangan Liana, mereka saling bersalaman, dan saling memperkenalkan nama masing-masing.
Liana benar benar menjadi sosok yang berbeda, dia melupakan semua kenangan pahitnya dan berusaha menjadi sosok yang baru. Tak ingin menutupi jati dirinya, Liana tampil dan berceloteh layaknya seorang waria. Liana ingin setiap orang yang mengenalnya tak perlu lagi menduga-duga.
"A...aku Ray... Raynaldi, panggil saja namaku Ray, no honey, no sayang, tanpa predikat atau pun julukan!"
Pertemuan itulah yang menjadi awal perkenalan Liana dengan Ray, yakni di Hongkong airport saat mereka sama-sama transit.
Perbincangan antara mereka berhenti, kala dering ponsel milik Liana nyaring terdengar. Pucat pasi Liana sesaat mengetahui nama yang tertera pada ponsel, nama orang yang menghubunginya.
"Mei..." Mimik wajah Liana seperti enggan untuk menjawabnya. Mata elang Ray menyelidik sesaat melihat perubahan wajah Liana. Ray menatap Liana yang tiba-tiba menangis tertahan.
"Hei nona, apa yang terjadi? Telpon dari debt collector kah? Apakah kau ada banyak hutang ya, hingga tidak mampu menjawab panggilan ponselmu?" Dengan gaya setengah bercanda, Ray iseng melontarkan pertanyaan, sebab tak ingin orang lain menyangka Ray berbuat sesuatu yang menyebabkan wanita cantik di dekatnya tiba-tiba menangis.
"Ish..., eyike tidak ada hutanglah... Ini adik eiyke mungkin dia sedang merindukan diriku, eiyke tiba-tiba jadi melow." Isak itu berubah menjadi senyuman walaupun sedikit dipaksakan.
Liana mengusap tetes air matanya, lalu menelepon balik Meilani adalah adik bungsu dalam keluarganya.
"Mei..., apa kabar...?"
Perbincangan antara saudara sekandung itu memberikan tanya tersendiri di benak Ray, yang menemukan sosok unik dalam tripnya menuju tanah air setelah sekian pekan berada di negeri the black country.
Singkat cerita, tiba waktunya pemberangkatan pesawat menuju Indonesia. Ray berlalu meninggalkan Liana yang masih terhanyut di dengan perbincangan melalui ponselnya.
Hampir lima jam perjalanan, akhirnya sampai juga ke tanah kelahirannya. Ray mencari sosok angel kekasih belahan jiwanya, Anita yang telah mengandung buah cinta mereka.
"Sayang...." Pelukan hangat dan kecupan penuh kerinduan itu mendarat di pipi dan kening Anita. Ray menjongkokkan tubuhnya dan berbicara, dan mengusap lembut pada perut Anita yang sedikit buncit, berisi buah cinta mereka.
Tanpa ia sadari dari jauh Liana menatap adegan romantis itu di depan matanya. Gambaran sebuah hubungan dalam keluarga yang tidak pernah ia impikan adalah anak.
Hati Liana seperti tercubit. 'Andai aku bisa seperti mereka.' Keluhnya, sambil menyeret kopernya keluar dari area kedatangan, sambil matanya mencari lokasi taxi bandara untuk membawanya ke hotel yang sudah di'book' sebelumnya lewat aplikasi Agoda.
Di hotel tempatnya menginap, Liana menelpon Miss Maria, "Cici..., aku sekarang sudah di hotel kota S. Besok baru akan kembali ke kota, tempat yang akan sulit ditemukan oleh keluarga sampai aku siap bertemu dengan mereka." Miss Maria gembira setelah menerima telepon dari Liana dengan nada suara yang sudah biasa. Tak terdengar lagi suara rengekan dan manja dari mulut Liana.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Siang hari di sebuah kota kecil, seorang wanita cantik keluar dari sebuah hotel untuk mendatangi salah satu apartemen yang akan disewanya selama dia tinggal di kota tersebut.
Transaksi sewa-menyewa telah berhasil. Sebuah hunian yang terbilang cukup mewah dengan dua kamar tidur lengkap dengan dapur, ruang santai, balkon dengan view pegunungan yang menyejukkan.
Wanita itu adalah Liana. Perjalanan hidupnya tak semulus wajahnya. Konflik batin selalu mengiringi langkah hidupnya. Pertentangan bukan hanya muncul di hatinya, tetapi lingkungannya tempatnya berpijak juga ikut andil yang membuat Liana tak pernah tenang.
Keputusan mengambil langkah drastis untuk hadir sebagai 'insan' yang menentang hukum alam, di samping mendapat pujian, tak sedikit pula langkahnya menuai kecaman dan hinaan. Pada dasarnya tak seorang pun di dunia ini yang bisa memilih akan dilahirkan sebagai apa, lahir di keluarga siapa dan di lingkungan mana.
Flash back off.
Hari sudah menjelang siang namun tidak ada tanda tanda kemunculan batang hidung Liana, bahkan di meja makan pun hingga ritual sarapan pagi usai, suasana tetap sunyi tanpa ada adu mulut ataupun argumen konyol dari Palupi maupun Liana, kemana Liana...?
Palupi kalang kabut mencarinya hingga ke area mini gym tempat mereka biasa berlatih dan berolahraga indorr, namun nihil.
Palupi berlalu ke kamar Liana, mengetuk pelan, sekali, dua kali tetap tidak ada jawaban. Palupi membuka pelan daun pintu itu dan.....
"aahhkk......."
TBC...
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
hhufff ada apa sih bising-bising, apa yang terjadi π±π±, esok lagi a-hhh π€
Salam Sayang Selalu By: RR π