I'M NOT A FLOOZY

I'M NOT A FLOOZY
Bab 44



Hari yang sudah ditentukan telah tiba. Setelah melalui beberapa prosedur pengecekan kesehatan dengan telah selesainya menjalani kemoterapi, pihak rumah sakit juga telah menyelesaikan kelengkapan berkas data yang diperlukan Juleha untuk pengobatan selanjutnya.


Dokter Anita selepas melayani pasien di polinya, dia menyempatkan diri melakukan kunjungan kepada Juleha tanpa didampingi suster. Ada sesuatu hal yang bersifat privat yang akan dibicarakan dengan Juleha, pasiennya.


Pihak rumah sakit sudah melakukan persiapan pemberangkatan pasien atas nama Julehartini ke Singapura, di bawah tanggung jawab Dr Anita sebagai pihak yang diberi kuasa oleh John dan Anne untuk mendampingi selama pasien dirawat.


"Bu Juleha ... apa yang anda rasakan saat ini? Sudah mulai terasa nyaman badannya? Saya sudah melihat perkembangan yang signifikan. Semakin hari kesehatan bu Juleha semakin banyak kemajuan," Anita dengan penuh kesabaran menjelaskan pencapaian peningkatan kesehatan si pasien.


Kunjungan dokter di luar jam periksa pasien, menerbitkan senyum Juleha. Mereka ngobrol dengan berbagai tema tentang implementasi obat-obatan dengan sistem pengobatan terbarukan. Termasuk bila timbul kendala yang mungkin bisa saja terjadi pada saat proses pengobatan selanjutnya.


Disela-sela obrolan tentang sistem pengobatan dengan metoda mutakhir, Juleha bertanya, "Dokter... Saya ingin berbicara dan bertemu dengan anak saya Palupi. Apakah masih bisa dan diperbolehkan? Nada mengiba itu keluar dari bibir Juleha, dengan mata sayu memohon dengan penuh pengharapan.


"Tentu bisa Bu, jadwal kunjungan pasien diadakan setiap hari. Kami akan membantu Ibu untuk memberi khabar kepada nona Gulizar." Jawab Anita sambil tersenyum kepada Juleha.


Seberkas gurat bahagia dan senyum Juleha terkembang di bibirnya yang mengering. Matanya bersinar yang penuh dengan penuh harapan.


Pintu terbuka dan terlihat Riris muncul dengan dandanan yang sexy dan aroma parfum yang menyengat indera penciuman bagi siapapun yang berada di dekatnya.


"Oh, ibu sedang diperiksa bu dokter?" Sapa Riris setelah melihat dokter Anita duduk di dekat brankar ibunya.


"Selamat siang nona Riris, kebetulan anda datang menjenguk ibu anda." Sambil berdiri dan beralih ke kursi tunggu yang lain yang ada di ruangan pasien.


"Kebetulan anda datang. Ada hal yang perlu saya jelaskan kepada anda sebagai keluarga dekat ibu Juleha, dan sebaiknya ibu Juleha ikut menyimak dan mendengarkannya."


Riris segera meraih kursi lipat dan duduk untuk mendengarkan penjelasan dokter Anita.


"Di sini perlu anda ketahui untuk beberapa hari ke depan ibu anda, nyonya Juleha akan melakukan pengobatan lanjutan ke Singapura. Semua dokumen dan pengaturan keberangkatan sudah sesuai prosedur." Dengan ramah Anita membuka pembicaraan pada Riris.


Riris mendengarkan dengan seksama dan memberikan tanggapan kepada Anita, "Oh...itu akan lebih baik kan ke depannya pada kesehatan ibuku, dokter?"


"Seperti yang pernah kita bicarakan pada waktu itu, nona,"


"Ibu Juleha saat ini dalam kondisi yang sangat stabil, dan itu harapan kami. Pengobatan berikutnya masih di bawah tanggungan tuan John Norman selaku penanggung jawab biaya dan saya telah ditunjuk sebagai dokter pendamping ibu Juleha untuk pengobatan selanjutnya dan akan dilaksanakan dalam waktu yang tidak terlalu lama, menunggu izin dari pihak rumah sakit Mount Elizabeth di Singapura.


Senyum sinis Riris tiba-tiba mengembang, seperti ada sesuatu yang hendak ia rencanakan selanjutnya. "Oh itu kabar gembira untuk saya juga tentunya dokter Anita."


Mata Anita menatap dan tidak mengetahui ke mana arah pembicaraan Riris. "Maksudmu apa nona Riris? Tentu ini adalah kabar gembira untuk kalian berdua. Ibu anda dalam tahap kesembuhan yang sangat signifikan."


"Bukan hanya itu dokter." Sahut Riris.


Anita masih menanggapi dengan senyum dan raut wajah yang tanpa beban sama sekali dalam menghadapi Riris.


"Lalu...? Apa masalahnya?"


"Begini...bu dokter, kan anda bertugas mendampingi ibu saya, jadi saya akan menggantikan posisi anda dengan mendampingi suami anda bu dokter." Sambil senyum jahat, Riris mengutarakan usulannya. "Kan Riris kasihan bila Tuan Ray ditinggal sendiri dan kesepian. Saya bisa kok memberikan kehangatan di saat dia merasa kesepian." Jawaban Riris tanpa beban ia berikan pada Anita.


Seketika mesin detak jantung berbunyi dan mengeluarkan suara tak beraturan, karena Juleha pingsan.


Dokter Anita, segera berlari mendekati Juleha untuk memeriksa kondisi Juleha. Beberapa suster berlarian masuk ke kamar rawat Juleha karena 'blue code' menyala dari ruang rawat Juleha. Para perawat membantu dokter Anita menangani Juleha. "Berikan satu ampul suntikan untuk pasien," perintah dokter Anita. Tak lama kemudian mesin pemindai detak jantung kembali berbunyi normal. Para perawat minta izin meninggalkan ruang rawat, yang diangguki oleh dokter Anita sebagai tanda persetujuan.


"Nona Riris, tidak bisakah kamu bersikap selayaknya wanita yang bermoral? Ingat di sini aku seorang dokter yang concern dengan tugasku untuk menyembuhkan pasienku yang kebetulan adalah ibumu." Sentak dokter Anita kepada Riris.


"Satu hal yang harus kamu pahami, aku bukan tandinganmu, kamu akan kalah telak kalau melawan kemampuanku yang seorang karateka. Hanya dengan satu tendanganku kamu akan terlempar ke lantai bawah." Dengan senyum smirk dokter Anita mengejek Riris.


"Oh ya, satu lagi yang kamu perlu tahu. Suamiku adalah type orang setia dan kami saling mencintai serta menghargai posisi dan waktu kami dengan baik, dan kejujuran pokok kunci hidup rumah tangga kami. Jadi anda percuma mempengaruhi suami saya." Tegas Anita, sambil memasukkan stetoskop miliknya ke kantong baju dinasnya.


"Silakan dekati suamiku, tapi kupastikan dia tak mau bertanggung jawab bila tangan atau kakimu patah.


Pucat pasi wajah Riris menerima setiap teguran Anita, lalu melihat ke arah Juleha yang sedang tertidur setelah disuntik akibat mengalami serangan jantung karena ulahnya.


"Keluarlah, dan jangan pernah kembali. Kami di sini tidak membutuhkan kehadiranmu, dan ingat....! Carilah mangsa yang sepadan denganmu, suamiku laki-laki terhormat bukan laki-laki sampah yang pernah kamu gauli sesuka hatimu." Senyum Anita dengan santai mengontrol emosinya.


Buru-buru bangkit dari duduknya, Riris keluar dari ruangan tempat rawat Juleha, hingga jalannya menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah.


"Hei kalau jalan pakai mata dong, lihat ishh... Sialan..."


"Kamu...!"


Liana dengan sigap menangkap tubuh Palupi yang limbung dan hampir jatuh akibat bertabrakan dengan Riris yang keluar dari dalam ruang rawat ibunya dengan tergesa-gesa.


"Sudah Liana dilihat orang, malu." Palupi melerai mereka sambil menarik tangan Liana untuk segera masuk ke dalam ruang rawat Juleha.


Riris tak berani kembali ke ruang rawat ibunya karena dokter Anita masih di dalam ruang rawat. Teguran keras yang diberikan Anita membuat Riris ketakutan, terlebih ancaman bahwa suaminya akan mematahkan tangan atau kakinya bila berani mendekatinya.


Sedangkan pengawal Palupi, Albert dan Zaki hanya menggelengkan kepala her juga melihat tingkah Riris yang tidak beradap.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TBC πŸ˜‰


seperti biasa akak sekalian, sambil menunggu up chapter berikutnya, baca juga karya kawan Rhuji yah bestie.


Jangan lupa untuk like, fav, lalu Komen membangun ya kak πŸ€—πŸ€—


Salam Sayang Selalu By me RR 😘