
Perjalanan menuju puncak membuat mata Anne takjub, pohon-pohon Pinus melambai memberikan kesejukan alami. Tercium bau pinus itu, sejenak ia memejamkan mata. "Pak sopir, perjalanan kita pasti tidak akan ada hambatan, betul pak?" Beldiq melibatkan sopir yang dari tadi hanya terdiam dan konsentrasi menatap jalan, karena sebagai pendamping yang profesional dia harus menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dalam segala kondisi.
"Siap Sir, saya akan menjadi pemandu ke manapun tuan dan nyonya ingin pergi ke tempat yang lebih bagus." Sopir itu menjawab Beldiq dengan sopan.
Tidak lama mereka pun telah tiba di villa yang selama ini Palupi dan John tempati. Merry yang sejak kemarin sudah menunggu kedatangan tuannya yang sudah lama tidak bertemu, sibuk menyiapkan makanan kesukaan mereka.
"Merry... kami datang..." Panggil Palupi setelah memasuki pintu dan mencari keberadaan Merry.
Gelak tawa kembali terdengar di antara mereka, keluarga yang sudah saling mengenal dan lama tidak berjumpa itu saling melepas rindu.
"Tuan Beldiq, Nyonya Anne... Sungguh ini seperti mimpi! Kalian kembali bersatu, luar biasa. Bahkan saya tak pernah menduga bahwa ternyata gadis pemalu yang pernah datang tengah malam dengan Tuan John, adalah putri kandung Nyonya Anne." Air mata Merry karena rasa bahagia itu meluncur begitu saja di pipi tuanya.
Anne dengan haru juga memeluk Merry, rasa syukur tidak bosan-bosan ia ucapkan. "Merry, terima kasih... Kamu sudah menemani putriku di sini."
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Di halaman salah satu bangunan rumah sederhana di sebuah gang, berdiri seorang petugas PLN yang sedang bersitegang dengan si empunya rumah.
"Mbak... Batas tenggang waktu adalah tanggal 20, jadi mohon jangan terlambat lagi kalau tidak kami akan memutus jaringan untuk sementara, dan akan aktif kembali setelah semua tunggakan terlunasi."
"Eehh... nggak usah mengancam ya, tidak lihat apa aku baru juga masuk pagar rumah...?" Mata Riris melotot tajam menatap petugas PLN.
Sedangkan mata si laki-laki itu serasa mau copot saja, melihat belahan baju Riris yang menunjukkan isinya yang hampir saja mencuat, karena terlalu sesak di tempat yang sempit dan pengap.
"Jangan melotot kalau lihat! Gajimu tidak sanggup hanya untuk menikmati sebelah dari isinya." Riris mengambil lembar denda dan tagihan listrik sambil nyerocos mulut pedasnya asal mengumpat.
Dengan wajah yang masih masam, Riris memencet beberapa angka dalam ponselnya dan membayar tagihan listrik melalui MBanking miliknya.
Di sudut sofa yang ada di ruang tamunya, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Lalu matanya berhenti pada pintu kamar Sang ibu yang selalu terkunci rapat selama ini.
'Aneh.... Semenjak aku masih kecil hingga sekarang, belum pernah sekalipun aku memasuki kamar itu. Bahkan ibu tidak pernah mengizinkan Palupi masuk walaupun sekedar membersihkan kamar itu. Apa yang ibu sembunyikan di dalamnya? Aaahh.... Atau kubuka saja. Siapa tahu ibu menyembunyikan harta yang tidak ternilai harganya.'
Senyum jahat Riris mengembang penuh keserakahan. Dia lalu bangkit dan meraih ponselnya dan menghubungi nomor Tomo untuk sekedar meminta nomor tukang kunci, yang pernah mereka panggil untuk membuka pintu kontrakan Tomo yang hilang.
"Pintu mana yang kuncinya hilang? Kamu di mana? Apa perlu aku datang ke tempatmu?" Bukannya memberi nomor telepon tapi Tomo malah melontarkan beberapa pertanyaan kepada Riris.
'Tidak mungkin aku menceritakan perihal kamar ibu kepada Tomo, sepertinya kamar ibu terdapat sebuah rahasia besar'
"Oh.... Tidak tidak... Hanya kunci lemari kamar mandi yang rusak, kamu tidak perlu repot-repot datang nanti malah yang ada kamu minta jatah, masih tanggal merah nih, sabar yah..." Dusta Riris untuk meyakinkan Tomo.
Motor butut Suzu*ki Shogun milik tukang kunci pun parkir di depan pagar rumah. Riris mempersilakan masuk dan segera membuka kunci pintu kamar Juleha, dan melihat apa yang ada di dalam kamar tersebut.
Kamar ukuran 4X4 dengan tempat tidur queen size itu tertata rapi. Foto-foto masa lalu tertata rapi di bingkai dan melekat pada dinding kamar itu. Sedangkan di atas meja rias tergeletak lembaran kertas resep dan sisa obat Juleha yang berserak.
Riris berjalan mengitari dinding kamar, satu persatu foto dalam bingkai itu ia cermati.
"Ayah... Apakah ini foto ayahku?" Riris mendekatkan foto masa kecilnya dengan foto laki-laki yang hampir mirip dengan wajahnya.
Riris memeluk bingkai dengan foto yang sudah usang termakan waktu itu. Air matanya pun lolos membasahi pipinya.
Tapi ia buru-buru teringat tujuan awalnya membuka pintu kamar Juleha. Dua jam sudah ia mengobrak abrik kamar Juleha, akan tetapi tidak satupun barang special yang berharga mahal dia temukan. Dengan perasaan dongkol, Riris keluar dari kamar ibunya dan menguncinya, tanpa mau merapikan kamar yang dibuat berantakan, padahal tadinya rapi saat ditinggal ibunya masuk ke rumah sakit untuk dirawat.
Riris langsung berasumsi alasan ibunya tak mengizinkan Palupi masuk ke kamarnya, mungkin dikarenakan tak adanya foto diri Palupi yang menghiasi dinding kamar ibunya. 'Dasar anak haram, mana mungkin punya foto keluarga seperti diriku.' Pikir Riris saat mengingat Palupi. 'Kenapa ya ibuku mau hamil anak dari bule sia*lan itu. Pasti pacar ibuku lupa pakai kon*dom, jadi ibuku hamil, dan sekarang keluarga bapaknya Palupi mencarinya.
Riris yang otaknya bebal, tak pernah berusaha mencari tahu latar belakang kehidupan Palupi. Bahkan dia hanya tahu bahwa Palupi itu adiknya, anak ibunya. Perlakuan ibunya yang tak pernah berlaku baik kepada Palupi, dianggapnya sebagai bentuk pembalasan kepada lelaki bule yang sudah menghamili ibunya dan tak mau bertanggung jawab.
Riris duduk di sofa sambil mrmeriksa saldo tabungannya. Ia tersenyum kecut saat tahu saldonya hanya lima ratus lima puluh ribu, karena yang lima juta pemberian Bambang diminta Tomo untuk membayar cicilan motornya. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu rumahnya. Karena malas bangun, Riris berteriak,"Siapa ya?" Lalu terdengar jawaban,
"Saya Pak RT neng."
Mendengar jawaban suara laki-laki, Riris terpaksa bangkit dan berjalan ke arah pintu. "Ada apa Pak RT mencari saya?" Dengan wajah cemberut karena waktu santainya terganggu.
"Neng tadi dicari petugas PLN sama ada juga ibu-ibu cantik mencari ibumu." Mata Pak RT tak berkedip melihat Riris yang berpakaian seronok. "Hei, Pak RT hati-hati ilernya ngeces," goda Riris sambil senyum-senyum. "Tadi sudah ketemu kok Pak. Saya lupa bayar listrik, tapi tadi sudah beres kok." Pak RT kemudian buru-buru pamitan, karena takut diteriaki istrinya bila ketahuan ada di rumah Riris.
Merasa sepi di rumah sendirian, Riris kemudian mandi dan berdandan. 'Mending aku nongkrong di cafe sambil nunggu jam kerjaku di club. Siapa tahu di cafe ketemu cogan tajir melintir yang butuh ditemani.' Batin Riris sambil memoles bibirnya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
TBC ๐
maratus rebu... duh miris kali saldo si Riris ๐คง.
Sambil menunggu up chapter mampir ke karya kawan Rhuji yuk kak ๐ค