
Kepergian para tamu membuat pengurus lingkungan bengong. Dia tak menduga ada rahasia besar yang disembunyikan oleh Juleha selama ini. Akhirnya dia tahu bahwa gadis bule yang disangkanya anak haramnya Juleha kata Riris itu, ternyata anak pasangan bule yang hilang dan dibawa pulang oleh Juleha. Karena sudah diingatkan oleh Ray untuk tak bertanya macam-macam, terlebih lagi hadirnya Kapolsek di rumah Juleha; pengurus lingkungan tak berani bertanya apalagi komentar. Dia ikut pamitan setelah para tamu pergi.
Keesokan harinya...
Palupi terkejut saat menemui Anne untuk diajak pulang ke Villa, wajahnya tampak kuyu seperti orang habis menangis semalaman. "Mom, what happen?" Dengan tampang bingung Palupi bertanya. "Mommy sedang sedih ingat daddy Anthony, sayang," jawab Beldiq. Jawaban Beldiq semakin membuat Palupi bingung.
"Sayang, mommy tidak apa-apa. Semua sudah berlalu. Sekarang daddy sudah bahagia di surga, karena mommy sudah bertemu denganmu, juga sudah mengambil barang peninggalan daddy dari tangan nyonya Juleha. Semua sudah selesai, ucapnya sambil memeluk Palupi. "Ayo masuk, mommy akan kasih lihat kalung dan cincin hadiah daddy untuk mommy. Semua itu akan jadi milikmu. Terlalu menyakitkan bila mommy memakainya. Mommy akan dihantui rasa kehilangan daddymu terus-menerus." Anne menuntun ke dalam kamar, kemudian membuka tas samsonite milik Anthony.
Palupi terkesima melihat kalung blue safir yang bertaburan berlian di sekelilingnya. Begitu juga cincin berlian yang indah memancarkan kerlip indah. "Wow Mom, ini sangat indah. Daddy pasti sangat mencintai Mommy." Ucap Palupi yang terkagum-kagum melihat perhiasan milik mommy nya. "Sayang, ini sekarang milik putri tercinta mommy, ini hadiah dari daddy dan mommy untukmu."
Anne menutup kotak perhiasan itu dan menaruh di tangan Palupi. "Masih ada lagi sayang, daddymu sudah menyiapkan warisan untuk masa depanmu." Palupi terbengong mendengar ucapan mommy nya. "Lihat ini, dokumen kepemilikan saham atas namamu dari perusahaan logistik terbesar nomor dua di Inggris. Semula mommy kira itu perusahaan ekspedisi muatan kapal laut, ternyata itu induk perusahaan yang sahamnya dibeli daddy untuk jaminan masa depanmu."
Air mata Palupi turun tanpa bisa dibendung. Tangis haru sambil memeluk erat mommy nya. Keduanya bertangisan mengingat kasih sayang Anthony kepada isteri dan anaknya. Terlintas bayangan samar di benak Palupi, seorang lelaki tampan menggendongnya. "Daddy...," tangis Palupi mengenang sosok yang dulu selalu mencium dan menggendongnya.
Beldiq masuk ke kamar dan terkejut melihat dua wanita yang disayanginya menangis sambil berpelukan. "Hemm, apakah ada orang yang menyakiti kalian?" Tanya Beldiq khawatir. "Tidak!" Jawab keduanya secara bersamaan. "Kami menangis karena terkenang daddynya Gulizar." Jawab Anne tanpa menutup-nutupi. "Oh, baiklah. Kita doakan daddynya Gulizar tenang di surga. Sekarang sudah ada daddy Beldiq Norman yang akan selalu menyintai kalian berdua." Sahut Beldiq merangkul keduanya.
Beldiq tak ingin kedua perempuan yang disayanginya larut dalam kesedihan. "Ayo, nona-nona, kita pergi mencari apartemen. Sekarang rapikan diri kalian. Sudah saatnya kita menatap ke depan. Jadikan masa lalu kenangan. "Dan untukmu Gulizar, kamu sekarang jadi putrinya daddy Beldiq. Aku akan menyayangimu sebesar kasih sayang daddy Anthony. Ini janji daddy padamu." Sambil mengecup kening Palupi. Anne terharu dengan janji yang diucapkan oleh pria yang dicintainya.
Liana yang duduk manis di lobby hotel, mulai gelisah menunggu Palupi. Beberapa laki-laki yang lalu lalang mulai meliriknya dan ada yang duduk di kursi seberangnya sambil menatap mengagumi kecantikan Liana. Belum sempat orang itu mengajak kenalan, tiba-tiba sudah ada gadis cantik duduk di sebelah Liana. "Sorry, kelamaan ya nunggu?" Ucap Palupi sambil nyengir. "Bentar lagi mommy dan daddy turun, mereka sedang merapikan diri." Sambung Palupi. "Iihh ciiiyn, kamu itu kebiasaan deh," bisik Liana. "Tahu gak, aku sampai risih, tuh dilirik sama cogan di seberang kita," bisik Liana lebih lanjut. Mendengar bisikan Liana, tak ayal Palupi langsung cekikikan.
Liana menyetir mobilnya dengan santai, dan berhenti di depan kantor pengelola apartemen tempat tinggalnya Liana. Palupi tak tahu bahwa Beldiq telah minta tolong kepada Liana untuk mencarikan apartemen bagi Palupi. Beldiq langsung setuju saat Liana menawarkan unit di sebelahnya yang dijual karena penghuninya kembali ke negara asalnya.
"Eh, ini kan apartemen tempat tinggalnya Cici? Iihh, curang. Kok aku gak dikasih tahu?" Teriak Palupi sambil mencubiti tangan Liana. Anne dan Beldig hanya tertawa geli melihat tingkah Palupi yang manja. Sebenarnya Beldig sudah membayar lunas harga unit itu, mereka hanya perlu menyelesaikan dokumen peralihan kepemilikan.
Mereka berempat meninjau unit yang akan ditempati Palupi. Beldiq sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan interior design untuk renovasi unit yang akan ditempati putri kesayangannya. Semua harus diganti baru agar Palupi nyaman selama tinggal di apartemen. "Dad, apa ini gak berlebihan?" Tanya Palupi. "Tidak sayang, nanti selama kuliah kamu tinggal di sini, Merry akan menemani dan mengurus mu. Dia juga tinggal sendiri karena anak-anaknya sudah bekerja dan memilih tinggal di Inggris." Sahut Anne agar putrinya tak merasa sendirian.
Setelah selesai melihat unit milik Palupi, Anne dan Beldiq menyempatkan diri mampir ke unitnya Liana. Anne terkesima melihat deretan gaun malam kreasi Liana yang sengaja disimpan karena akan dipamerkan dalam ajang lomba perancang mode di Jakarta. Liana mengambil gaun malam warna burgundy yang sangat indah dan cocok dengan warna kulit Anne. Liana menyodorkan baju itu dan meminta Anne mencobanya di kamar ganti. Beldiq bersiul dan berdecak kagum melihat kekasihnya tampil elegan dengan baju rancangan Liana. "Wow, mommymu cantik sekali Gulizar," komentar Beldiq spontan kepada Palupi. Liana bertepuk tangan karena tak menduga baju kreasinya begitu pas di badan Anne.
"Aku akan membayarnya." Kata Beldiq antusias. "No, ini memang kubuat khusus untuk nyonya Anne, sebagai tanda persahabatan dan persaudaraan kita." Jawab Liana. "Sebenarnya akan kuserahkan saat kalian akan berangkat ke Bali. Berhubung sudah di sini, sekalian saja kuserahkan di sini." Sambung Liana. Palupi spontan memeluk Liana, "makasih Cici, sudah bikinkan gaun malam yang indah buat Mommy." Beldiq tersenyum melihat ketulusan Liana. Baginya, Liana adalah seorang wanita mandiri yang concern dengan dunia yang digelutinya. Bagi Beldiq, bukan gender tetapi moral dan etika yang utama. Itulah sebabnya mereka tak pernah meragukan Palupi bergaul dan bermanja kepada Liana.
Liana kemudian merapikan gaun malam itu, dan memasukkannya ke dalam kotak dan menyerahkan kepada Anne. "Terimalah kenang-kenangan ini." Ujar Liana yang disambut pelukan oleh Anne. Mereka tersenyum bahagia.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
To be continued π
Salam Sayang Selalu By; RR π