
Tubuh Riris tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit tempat ia dirawat, selang infus menancap pada pergelangan tangannya. Bayangan kerinduan akan sosok seorang ibu tiba-tiba menyeruak dalam benaknya. Ketakutan diiringi rasa lemas pada tubuhnya saat ini membuatnya untuk mencoba melawan kantuk karena obat penenang yang sudah dokter suntikan lewat infus.
Begitupun dengan Bambang yang diliputi rasa bahagia serta was-was akan kondisi janin yang ada dalam rahim Riris itu menguasai perasaannya. Di dalam hotel tempat semula Bambang dan Riris menginap ia menatap bingkisan yang dititipkan Tomo untuknya, perlahan dibukanya titipan dari istrinya dan tersenyum lebar. Istri yang setia namun selama ini ia khianati dengan terang-terangan. Bambang berselingkuh dengan Riris, karena si isteri sahnya tidak mampu memberikan keturunan padanya.
Dua setel baju dan parfum kesukaan Bambang, telah ia titipkan untuk suami tercinta.
Kring....kring....
Nada dering ponsel milik Bambang membuyarkan lamunan Bambang. Dia berjalan mendekat pada meja tempat ia meletakkan ponselnya. Nomor tidak dikenal tertera pada layar ponsel, membuat kening Bambang berkerut bertanya-tanya.
"Hallo, selamat siang maaf dengan bapak Bambang? Kami dari pihak rumah sakit kasih ibu, memberitahukan bahwa isteri anda, nyonya Riris telah siuman dan mohon pendamping karena kondisi jiwanya yang sedikit tidak stabil." Ah ternyata sebuah telpon dari rumah sakit di mana Riris saat ini telah dalam masa perawatan.
Tidak menunggu lebih lama lagi Bambang sempatkan diri untuk menelepon isterinya yang selalu setia menunggu kabar dari suami tercinta. "Sayang, mas mungkin akan kembali ke rumah antar 2 atau 3 hari lagi, sebab masih ada urusan yang harus aku handle sendiri tanpa perwakilan," dusta Bambang kepada isterinya yang dengan lugunya selalu mempercayai setiap dusta yang dibuat Bambang kepada sang isteri.
Bambang bergegas ke luar dari hotel tempatnya menginap dan menuju klinik 'Kasih Ibu' tempat Riris dirawat, satu bucket bunga cantik tidak lupa ia bawa sebagai simbol sayangnya kepada Riris. Dengan wajah sumringah dan dandanan klimis khas seorang flamboyan, selalu lekat pada penampilan Bambang.
Dua puluh menit tidak lebih Bambang telah sampai pada tujuannya. Perlahan ia membuka pintu kamar rawat dan mendapati Riris yang menoleh menatap ke arah pintu. "Sayang.... Mas datang, bagaiman keadaanmu? Hmm, sudah sedikit nyaman kan? Kalau pingin makan apa bilang sama Mas ya, nanti pasti Mas akan carikan."
Riris membalas tatapan Bambang yang berubah lebih perhatian dan sayang kepada dirinya, 'Mas..?' Aahh.... Batin Riris bergejolak dengan sejuta protes. Namun apalah daya dia tentu tidak mampu untuk berdebat ataupun protes. Riris sendiri masih dalam kondisi tidak percaya dengan situasi yang saat ini ia alami. Hamil bukanlah impian dalam hidupnya. Angan-angannya tak jauh dengan ambisi kebodohannya belum juga terlaksana.
"Oom... Riris mau pulang, Riris sehat loh Oom." Ucap Riris sambil berusaha duduk sambil berpegangan pada sisi ranjang.
"Riris, jangan banyak gerak dulu kasihan janin yang dalam rahimmu. Dia masih sangat lemah dan butuh istirahat dan perawatan total."
'Hamil...? Ahhkk..., kebodohan apalagi ini? Kenapa tidak gugur saja janin sialan ini' batin Riris kesal.
Angannya untuk membawa Palupi pulang dan membalas semua rasa sakit hatinya seperti akan kandas begitu saja.
"Oom," rengek Riris.
"Panggil Mas sayang, bukan Oom lagi. Kita akan segera nikah meresmikan hubungan ini, karena adanya janin yang ada dalam rahimmu." Pinta Bambang dengan penuh harap agar Riris memahami keinginannya.
"Em... Mas...?" Dengan susah payah Riris mengganti panggilan yang semula 'Oom' menjadi 'Mas,' karena memanggil dengan tidak ikhlas dari dalam hatinya.
Senyum Bambang mengembang. Sambil mengusak ujung kepala Riris dengan lembut, lalu membuka laci dan mencari ponsel milik Riris. Tangan Riris meraih ponsel miliknya dan buru-buru mengirimkan pesan Whats App kepada Tomo, yang memberitahukan keadaannya saat ini.
Jarum jam dinding yang berada dalam ruangan pun menunjukkan jarak dua jam lebih pesan terkirim dari ponsel Riris, namun masih juga menunjukkan centang satu. Semua itu menambah kekesalan Riris.
Bambang juga sedang sibuk dengan persiapannya menghadapi si isteri. Muncul rasa khawatir untuk berterus terang dan mendapatkan izin untuk segera meresmikan Ijab Kabul dengan Riris.
"Hallo Sinta, suruh Tomo angkat telpon Bapak! Sepertinya ponsel milik dia sedang off sejak tadi." Pucuk dicinta ulam pun tiba, karena Bambang sedang kesusahan menghubungi Tomo. Semua percakapan itu tidak terlepas dari pendengaran Riris.
Sedikit menajamkan pendengarannya Riris berpura-pura memejamkan matanya lagi, "mohon maaf bapak, mas Tomo sepertinya sedang keluar kota juga, tadi telah berpesan kepada mbak Tina besok pagi baru akan tiba di kantor lagi, karena mengingat daerah tempat tinggalnya sulit sinyal."
Bambang hanya dapat menghela nafas. Hanya Tomo satu-satunya pegawai kepercayaan Bambang. Tomo, remaja putus sekolah yang dibina kemudian dibiayai pendidikannya hingga lulus D3 Pariwisata. Hutang budi itulah yang membuat Tomo setia dan menjadi orang kepercayaan Bambang.
Hubungan yang melahirkan kedekatan itu, menafikan kerahasiaan di antara mereka. Tak ada rahasia Bambang yang tak diketahui Tomo. Namun demikian, bukan berarti Tomo bisa kurang ajar kepada Bambang sebagai majikannya, karena hidup Tomo sekeluarga ditanggung oleh Bambang.
Gagal menghubungi Tomo, perhatian Bambang teralihkan kepada Riris. Dengan lembut dibelainya kepala Riris. "Sayang, bilang ke Mas, kamu pingin apa?" Riris yang merasakan belaian Bambang terkejut. Begitu lembut jari Bambang menyusuri helaian rambutnya, bagaikan belaian seorang ayah. Mata Riris berembun, hatinya bergetar dan jantungnya berdegub. 'Ah, rasa apa ini?' Batin Riris dengan gelisah. Tiba-tiba ingatan Riris melayang ke foto sepasang orang tua dengan anak kecil yang disembunyikan ibunya di lemari yang pernah didobraknya. 'Ah, beginikah rasa belaian seorang ayah?' Batinnya. Air mata itu perlahan merembes tak terbendung. Bambang yang melihat air mata mengalir dengan tiba-tiba sangat terkejut. Dipeluknya Riris dan berbisik, "sayang..., kenapa tiba-tiba menangis? Adakah rasa sakit di tubuh atau perutmu?" Ucapan Bambang yang sangat lembut semakin membuat air mata Riris menganak sungai. Pelukan dengan rasa kasih sayang sangat berbeda dirasakan oleh Riris, karena selama ini Bambang selalu memeluknya dengan penuh nafsu.
Setelah mengatur nafasnya dan berusaha menenangkan diri. Riris berusaha mendorong lengan Bambang yang memeluknya. Bambang yang menyadari dorongan lemah dari tangan Riris, melepaskan pelukannya dan mengambil tissue untuk menyeka air mata Riris. "Aku gak apa-apa kok. Tiba-tiba saja aku rindu almarhum ayah yang telah pergi meninggalkan aku san ibu saat aku masih kecil." Ucap Riris dengan malu-malu.
Bambang terharu dengan pengakuan Riris. Tak disangkanya gadis itu punya sisi mekankolis dan merindukan ayahnya. "Mas janji, nanti setelah kita pulang, kita mengunjungi makam ayahmu. Aku juga perlu minta izin meminangmu." Ucap Bambang dengan senyum haru. Campur aduk perasaan Riris saat mendengar janji Bambang. Riris hanya terdiam. Perasaannya masih kacau balau. Terlebih lagi bila mengingat usia Bambang hanya beberapa tahun di bawah usia ibunya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
To be continued ๐
Netizen terkasih ๐ค sambil menunggu karya Rhu up lagi, searching ke karya kawan Rhuji yuk! di jamin mantap๐
Salam Sayang Selalu By RR ๐